Ada kabar terbaru dan menggembirakan bagi penggemar K-Pop. Boyband K-Pop, “1Verse” pada 18 Juli 2025 muncul. Mengapa itu penting? Kemunculan “1Versi” menjadi tonggak baru hubungan Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut). Untuk pertama kalinya sejak Agustus 1945, ada grup K-Pop yang anggotanya berasal dari Korut.

Kita tahu, Korut dan Korsel  terpecah gara-gara Perang Dunia (PD) II.  Korut menganut ideologi komunisme yang didukung Uni Soviet, Korsel menganut ideologi kapitalisme yang didukung Amerika. Perpecahan berlanjut sampai terjadi perang Korea 1950-1953. Korut sempat menginvasi Korsel. Invasi berakhir setelah ada gencatan senjata dan pembentukan Zona Demiliterisasi (DMZ) pada tahun 1953.

Ada apa dengan “1Verse”? Dua dari lima anggotanya lahir di Korea Utara (Korut). Yu Hyuk dan Kim Seok menjadikan 1Verse sebagai grup K-Pop pertama yang beranggotakan pembelot dari Korut.

Yu Hyuk (24) mantan anak jalanan. Dia melarikan  diri dari tanah kelahirannya di usia 13 tahun pada Januari 2013. Dia kabur sendiri. Lalu bergabung dengan para pembelot saat menyeberangi perbatasan Cina. Setelah enam bulan berjuang sendirian, ia bertemu kembali dengan ibunya di Korsel.

- Poster Iklan -

Kim Seok (24) melarikan diri dari Korut di usia 19 tahun. Dia pernah menjadi pemain sepak bola. Tapi kabar-kabar yang dikirim pamannya yang membelot ke Korsel lebih menggoda Kim daripada menjadi atlet di negara komunis itu.

Sebelumnya, dunia hiburan Korsel juga diramaikan oleh Kang Chun-hyok. Dia pernah kabur dari Korut pada tahun 2021 melewati Cina, Vietnam dan Kamboja. Kang lalu menempuh pendidikan tinggi di bidang seni di Hongik University di Seoul. Ia juga menjadi rapper dan art visual. Karya-karyanya terinspirasi oleh pengalaman pribadinya sebagai pembelot.

Tahun 2018,  Red Velvet dan sederet penyanyi ngetop Korsel (Cho Yong-pil, Lee Sun-hee, Baek Ji-young, Yoon Do-hyun, dan Seohyun) tampil di Pyongyang dalam pentas berjudul “Spring is Coming”. Acara berlangsung di Esat Pyongyang Grand Theatre dan Ryugyong Chung Ju-yung Gymnasium. Acara juga menghadirkan pula pertunjukan musik dan taekwondo.

Ambisi Pemimpin

Korut dan Korsel dipisahkan karena ambisi penguasa yang didukung oleh negara-negara kuat yang sedang berseteru (Uni Soviet dkk dan AS dkk). Kedua negara kuat di zamannya itu mendukung tidak saja secara politik tetapi juga materi.

Akibatnya, anak bangsa Korea jadi korban. Mereka harus dipisahkan oleh ambisi politik penguasa. Tembok pembatas kedua negara pun akhirnya dibuat untuk memisahkan. Sementara itu, keluarga yang berasal dari kedua negara sama-sama merintih karena ambisi politik meruntuhkan rasa kemanusiaan.

Anggota keluarga berpisah. Sampai akhirnya ada yang berusaha untuk melarikan diri ke wilayah negara lain. Menyeberang ke wilayah lain ingin hidup lebih layak tanpa tekanan dan ketakutan atau alasan bertemu keluarga.

Bukan berarti usaha penyatuan Korut dan Korsel tidak dilakukan. Upaya paling awal pernah dilakukan dengan pertemuan keluarga yang terpisah di tahun 1985. Berlanjut dengan Sunshine Policy (pendekatan kebijakan luar negeri Korsel terhadap Korut) tahun 1998-2008 dan 2017-2020. Upaya rekonsiliasi itu digagas presiden Korsel Kim Dae-jung.

Lalu ada dialog, kerjasama ekonomi hingga proyek wisata di Gunung Kumgang. Bahkan pada Olimpiade Sydney tahun 2000 atlet kedua negara juga jalan bareng dibawah satu bendera persatuan. Tentu saja itu usaha-usaha nyata dari alat-alat di luar kekuasaan negara. Namun, tidak mudah dilakukan.

Musik Menyatukan

Lalu, yang tidak bisa dipandang sebelah mata terkait penyatuan Korsel dan Korut adalah musik pop (Korean Pop).   K-Pop yang dimulai di Korsel menggeliat melampaui batas negara, tak terkecuali ke Korut. Melalui bantuan teknologi, K-Pop berkembang bak air bah yang mengalir deras masuk ke wilayah-wilayah pribadi orang-orang Korut. Musik akhirnya membuat mereka bersatu. Merasa satu bangsa dan merasa satu keluarga.

Mengapa hubungan Korut dan Korsel lewat musik itu penting dilakukan? Pertama, simbol damai lewat musik. Musik jadi bahasa universal tanpa perlu ribet ngomong politik. Lihat saat “Spring is Coming” berlangsung. Ketegangan diganti dengan vibes persahabatan dan kekompakan lintas ideologi.

Kedua, Red Velvet simbul generasi baru.  Sebagai boyband atau girlband yang hitnya pernah meledak, mereka jadi sinyal budaya pop jadi diplomatic charm (pesona diplomatik). Halus tapi mengena. Menyatukan perbedaan yang pernah muncul dari sisi manusiawi.

Ketiga, momen langka sejarah. Setelah 13 tahun hubungan budaya antar dua negara terputus dan nyaris langka menyatu. K-Pop menyatukan kedua negara. Nyaris setelah dilanda perang saudara dari satu etnis Korea.

Maka, karena perbedaan ideologi dan kepentingan kekuasaan kedua negara sudah sangat “mendarahdaging” secara politik susah untuk disatukan. Masing-masing punya alat negara yang kuat dengan dibungkus oleh gengsi negara. Maka, Korut dan Korsel bisa disatukan melalui K-Pop.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here