Teknologi membuat percepatan di segala bidang. Tak jarang popularitas dianggap segalanya. Citra menjadi yang utama. Siapa yang paling viral, paling sering muncul di layar. Juga paling ramai dibicarakan. Repotnya, jika hal semua itu dianggap sebagai layak memimpin. Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan hal yang berbeda. Bangsa yang besar tidak lahir dari pemimpin yang hanya mengejar sorotan. Tetapi dari pemimpin yang punya kedalaman berpikir. Salah satu sumber kedalaman itu adalah kebiasaan membaca buku.

Membaca buku bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang. Bagi seorang pemimpin, membaca adalah proses membentuk cara berpikir. Buku membantu seseorang melihat persoalan dari banyak sudut pandang. Membaca membuat pemimpin tidak tergesa-gesa mengambil keputusan. Ia belajar bahwa setiap kebijakan punya dampak panjang. Bukan hanya efek instan yang terlihat di media sosial. Bukan juga hanya mengejar pencitraan.

Buku juga melatih kesabaran. Di tengah budaya serba instan, membaca mengajarkan seseorang untuk duduk, fokus, dan merenung. Kebiasaan ini sangat penting bagi seorang pemimpin. Karena memimpin bangsa bukan soal reaksi cepat terhadap isu viral, melainkan soal keberanian mengambil keputusan yang benar meski tidak selalu populer.

Indonesia memiliki banyak contoh pemimpin yang dibentuk oleh bacaan. Soekarno (presiden pertama) adalah salah satunya. Ia dikenal sebagai pembaca yang sangat rakus. Buku-buku filsafat, sejarah, politik, hingga sastra dunia ia lahap sejak muda. Dari bacaan itulah lahir gagasan besar tentang nasionalisme, persatuan, dan anti-kolonialisme. Pidato-pidato Soekarno tidak hanya membakar semangat, tetapi juga penuh gagasan karena lahir dari pikiran yang terlatih oleh bacaan.

- Poster Iklan -

Mohammad Hatta (wakil presiden pertama) juga menunjukkan hal serupa. Bung Hatta dikenal sebagai sosok yang tenang dan rasional. Kebiasaan membacanya membentuk cara berpikir yang sistematis dan berorientasi pada keadilan sosial. Bahkan saat berada di pengasingan, buku tetap menjadi teman setianya. Dari bacaan ekonomi dan demokrasi itulah lahir gagasan koperasi sebagai jalan tengah antara pertumbuhan dan pemerataan.

Di era yang lebih modern, BJ Habibie (presiden ketiga) menjadi contoh pemimpin pembelajar. Ia membaca bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi untuk membangun masa depan. Minatnya pada buku sains dan teknologi membentuk visinya tentang kemandirian bangsa. Ia percaya bahwa negara tidak akan maju jika hanya menjadi konsumen. Pemikiran itu lahir dari puluhan tahun membaca, belajar, dan berdiskusi dengan ilmu pengetahuan.

Pengalaman serupa juga terlihat pada pemimpin dunia. Nelson Mandela (presiden Afrika Selatan), misalnya, menghabiskan puluhan tahun hidupnya di penjara. Namun penjara tidak membuat pikirannya terkurung. Ia membaca banyak buku, dari sejarah hingga hukum. Bacaan itulah yang membantunya memilih jalan rekonsiliasi saat keluar dari penjara. Ia tidak memimpin dengan dendam, tetapi dengan kebijaksanaan yang lahir dari pemahaman mendalam tentang manusia dan sejarah. Pengalaman dan tempaan hidupnya telah memberikan pelajaran.

Barack Obama (presiden Amerika ke 44) juga dikenal sebagai pemimpin yang gemar membaca. Ia sering membagikan daftar buku yang ia baca setiap tahun. Dari sejarah, biografi, hingga novel. Bacaan tersebut membantunya memahami kompleksitas masyarakat Amerika yang penuh perbedaan. Banyak kebijakannya lahir dari pertimbangan panjang, bukan sekadar reaksi terhadap tekanan sesaat.

Lee Kuan Yew, Perdana Menteri 1 dan juga pendiri Singapura modern, menjadikan membaca sebagai bagian penting dalam kepemimpinannya. Ia membaca lintas disiplin dan lintas budaya. Buku membuatnya berpikir jauh ke depan. Bisa disebut melampaui masa jabatannya sendiri. Hasilnya terlihat jelas. Singapura dibangun dengan perencanaan matang, disiplin, dan visi jangka panjang. Bukan dengan slogan kosong.

Semua contoh ini menunjukkan satu benang merah. Pemimpin yang membaca tidak mudah terjebak emosi. Ia tidak gampang terpancing isu dangkal. Buku melatih pemimpin untuk berpikir struktural dan sistemik. Ia memahami bahwa persoalan bangsa tidak pernah sederhana dan tidak bisa diselesaikan dengan solusi instan.

Membaca juga melatih empati. Melalui buku, pemimpin belajar memahami penderitaan orang lain tanpa harus mengalaminya langsung. Pemimpin pembaca belajar tentang kegagalan masa lalu agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Buku membuat pemimpin lebih rendah hati. Ia sadar bahwa kekuasaan tanpa pengetahuan hanya akan membawa kerusakan.

Bagi generasi muda, kebiasaan membaca pemimpin seharusnya menjadi salah satu ukuran penting dalam menilai kepemimpinan. Bukan hanya soal penampilan, gaya bicara, atau jumlah pengikut di media sosial. Tetapi soal sejauh mana ia mau belajar, membuka pikiran, dan memperkaya wawasannya.

Bangsa ini tidak kekurangan figur populer. Namun popularitas tanpa kedalaman hanya akan menghasilkan kebijakan yang rapuh. Pemimpin yang membaca mungkin tidak selalu tampil glamor. Ia sering bekerja dalam sunyi. Tetapi dari kesunyian itulah lahir keputusan yang berani, adil, dan berpihak pada masa depan.

Sejarah Indonesia dan dunia membuktikan bahwa pemimpin besar hampir selalu memiliki satu kebiasaan penting, yaitu membaca buku. Dari bacaan lahir cara berpikir yang matang, empati yang luas, dan visi jangka panjang. Popularitas bisa memudar. Tetapi pemimpin yang membaca akan meninggalkan warisan nyata. Bangsa yang dipimpin oleh pengetahuan akan bergerak lebih maju, lebih adil, dan lebih bermartabat.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here