DUARRR…

Mayat besar tergeletak di bawah sang rawi. Darahnya berpadu  dengan rumput. Berlarianlah mereka mencari tameng dari sasaran peluru berukuran 5,5 mm itu. Hingar-bingar pun hilang.

***

Surat kabar tak lagi memberitakan, nasib malangnya mulai dilupakan. Sebagian bilang petaka, sebagian lagi tersiah. Setiap tengah malam, pintu dinas digetok. Para ibu mendengar, namun suaminya terlelap nyenyak. Suara rintihan, guncangan ubin, jeritan, dan angin pun ikut gemerisik. Puncaknya, kalau sudah ada suara tembakan. Ketika orang tahajud, ketukan itu makin keras. Burung gagak mengudara di atas rumah-rumah. Suara sengkaknya makin menggelegar saat dia bertengger di batang sawit berduri. Desas-desusnya, dia turut mendemonstrasikan nestapa dari jiwa yang mati. 

- Poster Iklan -

“Itu susu yang cari anaknya,” begitu berita yang tersiar dari ibu-ibu.

Kemudian, ketika anak bertanya pasal susu, sang bapak menutup telinganya. Mereka hanya mengizinkan perkumpulan anak-anak berbicara soal jajan dan boneka bongkar pasang. 

***

Sejumlah bapak yang bermain kartu remi di pos selalu ingin membuktikan. Sebab, selama bertahun-tahun lamanya, tak ada satu karyawan pun yang bertemu suara-suara itu. Kartu terus dikocok meskipun hari sudah hampir habis. Setiap lembar berputar, gesekan bersahutan di tengah bau minyak tanah dari petromaks. Diam-diam tangan mereka makin gemetar, telinganya mulai terpasang, tanpa cerita, hanya desiran angin. 

Lolongan anjing kompleks belakang mulai saling berbalas. Tiba-tiba, alarm mandor menginterupsi, mereka merapatkan barisan. Kartu tetap bergesek, namun pikiran sudah bukan tentang menang.

Dok…dok…dok…

Putaran mandek. Badan membisu, mata saling melirik.

“Pak! Disuruh pulang sama Mamak!” Anak mandor menggedor papan pos.

Semua menghela napas lega, tetapi rasa penasaran belum hilang. Anak laki-laki itu melihat bapak dan rekannya duduk berdempetan. Dia bingung, bukankah bermain remi harusnya menjaga jarak agar kartu terjaga. Sang mandor menyuruh anaknya masuk, lalu dia duduk di pojok melihat mereka masih saling pandang.

Ngapain, sih, Pak?”

“Sudah sini dulu. Bapak pingin denger suara hantu.”

Huss, anakmu nanti tahu,” kata tukang pupuk.

“Sudah besar.”

Anak itu pun mulai mendekat. Setahun lalu, dia tak boleh dengar cerita legenda ini meskipun teman-teman selalu membicarakannya. Peristiwa yang membuat heboh seluruh negeri, namun hanya orang tua di sinilah yang menelan gading tak bersalah itu. Kini, dengan batin yang ingin tahu, dia duduk bersila dekat sang bapak siap menerima kepahitan masa lalu.

Lewat tengah malam, lampu petromaks menyala dari rumah-rumah. Tak ada satu pun yang mendengar ketokan. Ketika mandor itu hendak pulang, suara gagak memekakkan telinga. Kepala-kepala menengadah ke langit legam. Kepakan sayap di antara bintang-bintang membuat mereka bergidik. Mandor dan anaknya duduk kembali.

Pada keheningan bulu roma, bayangan masa lalu melintas. Mandor langsung melihat kalender yang tergantung di dinding. Bulan ini ada permintaan. Peristiwa itu bisa jadi terulang.

“Aku pulanglah, istriku nanti ngamuk,” mandor menyeret anaknya masuk ke rumah.

“Pak, tangan Bapak gemetar kali. Ada apa?”

“Ada yang bakal mati lagi.”

“Siapa?”

“Entah.”

Anaknya terdiam bingung. Dia mendesak sang bapak agar tak ikut gelisah. Ratu rumah datang menyuruh mereka tidur. Mandor itu menurut, tetapi anaknya terus merengek minta cerita. Sang ibu mengomel dan dia pun tak berani membantahnya, takut sapu lidi melayang.

***

“Siapa yang bakal mati, Pak?” tanya sang anak sebelum mandor pergi ke lapangan.

Mandor itu mendongengkan nestapa jiwa dari raga yang mati di lahan sebelah rumah mereka. Bangkainya dievakuasi usai difoto wartawan. Tragedi yang menggemparkan, tetapi banyak yang tidak tahu kebenarannya.

“Sebenarnya nggak cuma satu. Setiap yang atas minta lahan, pasti ada yang mati.”

Nun jauh di sana, hutan asri masih berdiri kokoh, mandor melanjutkan. Tak ada yang membelahnya. Sebab, di sanalah para penghuni berjiwa bebas. Semua orang di kompleks mengawasi mereka dari sini. Sayang, atasan minta omset lebih. Lahan diperluas, hutan pun tergilas.

“Binatang-binatang dibunuh?”

Mandor menyanggah. Preman-preman disuruh bawa jerigen minyak dan korek. Mereka masuk, menjarah sarang gajah, membuyarkan gerombolan monyet, menggiring ular-ular ke sungai, mengusir beruang, dan mengepung macan dengan api. Bara menyala cepat karena sisa ranting dan semak kering bekas kemarau. Kemudian, mataharilah yang disalahkan. Angin pun membantu membesarkan sampai tak terkendali.

“Mati di tempat?”

Lagi-lagi si mandor tak mengiyakan tebakannya. Matahari kian meninggi, dia harus cepat ke lapangan untuk melihat calon kawasan bibit-bibit baru. Cerita terpotong dan sang anak harus menahan rasa penasaran pada nasib jiwa yang membawa petaka.

***

Listrik mati setelah anak-anak pulang mengaji. Lampu petromaks disulut kembali, bapak-bapak pun berkumpul di pos. Malam ini mandor membawa buntut. Mereka menggotong remi sambil menunggu tengah malam atau teriakan istri. Tukang pupuk mengaduk kopi hitam di ujung saat mandor dan anaknya bertandang. Gelas-gelas bergiliran minta diaduk. Ketika kopi sudah di depan, permainan diputar. 

“Tiga hari lagi buka lahan,” singkat mandor.

“Di mana?”

“Dekat gerbang masuk pt.”

“Kalau lahannya jauh, yang mati nggak di sinilah, ya, Pak,” mulut itu menyela dengan sudut bibir yang gosong.

Mereka terus bermain remi. Belum ada yang berani menanggapinya. Masing-masing memegang kartu sampai gagak datang bertengger di sawit dekat mereka. Seluruh kartu berhamburan saat mata-mata saling bertemu.

“Ini kalau ada yang turun lagi gimana?” pemupuk tadi mulai bergerak setiap detik dan napasnya memendek.

“Ya sudah, pasrah saja. Mati di sini lagi berarti,” kali ini rekan lain pura-pura menyanggupi prediksinya sendiri.

Siku mandor disenggol oleh anaknya. Dia meminta penjelasan lebih. Mandor pun melanjutkan peristiwa yang sempat terpotong. Kartu dibiarkan begitu saja. 

“Kau ingat pas binatang-binatang terkepung oleh bara api yang liar?” Dia mengangguk.

Para monyet berpacu ke rumah sekitar, tidak ada yang tahu keberadaan macan dan beruang. Gajah-gajah turun ke kompleks ini, menginjak bibit balita sekitar. Gemuruh gempa buatan dari pemilik kulit cokelat kemerahan menyerang, lalu warga panik masuk ke rumah. Pekerja lapangan pun porak-poranda ke masjid. Sawit-sawit yang masih mungil itu rata dengan tanah. Matahari lagi terik-teriknya, cocok untuk memupuk bibit, namun lenyap.

Ada yang berdiri dari jauh menyaksikan semuanya. Dia juga tahu seseorang masuk menyelinap di antara sawit-sawit. Kaliber sepanjang 65 sentimeter dibawa oleh tubuhnya yang kurus kering. Urat-urat sangat terlihat di permukaan lengan saat mengisi asupan. Sinar mentari menyorot lurus rambut dengan sedikit uban itu dan ditutup topi yang kekecilan.

Dengan jarak sekitar 100 meter, anak bedil pertama berhasil ditancapkan pada punggung si betina. Banyak yang mulai berbalik arah, tinggal seekor gajah kecil dan induknya yang hampir terluka. Tak ada yang mati di tembakan pertama. Telinga segitiganya tetap mengepakkan angin meski tak sebesar gajah Afrika.

Di tengah cerita, lingkaran mengecil. Kopi sudah kopong setengah gelas.

Kenapa harus ditembak?” tanyanya polos.

“Terus, maumu apa? Diusir pakai hentakan kaki? Yang ada dibalas sama gajahnya. Bibit itu sumber duit kami, kalau hilang yang disalahkan orang lapangan. Makanya diusir daripada rusuh ke rumah-rumah, bahaya,” balas pemupuk dengan nada sensi khas Melayu.

Pembawa kaliber 22 tadi mendekat, tetap jaga jarak. Dia lepaskan peluru berkepala lancip itu untuk kedua kalinya. Kali ini badan bagian tengah yang jadi sasaran, mencari letak jantung. Sayangnya, dua peluru tak mampu mematikan sang gajah. Badan empat tonnya terhuyung ke kiri, terjerembap. Matanya kini bertemu dengan senapan.

JEDERRR

Tarikan ketiga langsung menancap benjolan kanan di kepalanya. Napas masih terasa, mata berkedip berkali-kali. Gajah mungil berlari berderai air mata. Tak menunggu lebih lama, dia membedil untuk keempat kalinya pada belalai yang berusaha menepis.

DUARRR

Peluru terakhir sukses menarik jiwa seekor induk binatang. Dia merenggut susu satu-satunya anak gajah. Bau anyir mengalir bercampur dengan tanah dan pupuk yang baru saja disebar. Bercak putih pun sudah berubah merah. Mati! teriak seorang warga dan semua berebut ke depan. Penembak tadi menelepon aparat dan melaporkannya. Tubuh mulai membusuk, bahkan memar di seluruh kaki makin gelap. Polisi datang bersama pasukan yang membawa kamera-kamera besar. Garis kuning dipasang dan warga pun menjauh.

“Ricuhlah jadinya. Banyak yang tanya pakai kabel-kabel apalah itu. Lama juga timnya meriksa, kan?” Bapak-bapak mengangguk kompak.

Usai diamankan semua, diseretlah bangkai gajah bersama lalat-lalatnya. Alat berat dikerahkan. Untungnya, bukan musim hujan. Kerumunan berhamburan dari sana. Hari itu dimerahkan di kalender, bahkan anak-anak dilarang datang ke masjid.

“Pelakunya ditangkap?”

Pemupuk tersenyum getir. Mereka juga mengira begitu, setidaknya sampai minggu lalu.

“Baru saja kemarin dinobatkan jadi pahlawan,” mandor menyeringai tajam dan disusul oleh tawa rekan-rekannya.

- Cetak Buku dan PDF-
Previous articleMembaca Itu Keren
Auranita Gibrani Darmawan
Penulis bernama lengkap Auranita Gibrani Darmawan ini bisa dipanggil dengan nama Aura. Lahir di Malang pada tahun 2003, tetapi tumbuh dan besar di Indragiri Hulu, Riau. Ketertarikan dengan sastra sejak kecil membuat saya memilih berkuliah di Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM). Anda bisa menemui saya di media sosial Instagram @auragib.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here