membaca itu keren

Membaca sering dianggap kegiatan sunyi yang membosankan. Seseorang misalnya harus duduk berlama-lama. Itu membuat mata menjadi lelah. Kadang juga  pikiran melayang. Citra di atas begitu melekat. Mengapa? Karena membaca sering diposisikan sebagai kewajiban, bukan sebuah pilihan. Padahal di balik kesunyiannya, membaca adalah aktivitas yang paling berisik di dalam kepala. Penuh dialog, ide bergolak dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Maka, membaca itu sebenarnya keren. Bukan karena terlihat pintar, tapi karena diam-diam bisa membentuk cara kita memahami hidup.

Di tengah perubahan yang serba cepat, kita semua   hidup dalam banjir informasi. Media sosial menawarkan potongan-potongan cerita yang pendek, cepat, dan instan. Kita tahu banyak hal. Namun demikian sering kali dangkal. Membaca buku mengajarkan kebalikan dari itu. Membaca mengajarkan fokus, kedalaman, dan kesabaran. Saat membaca, kita tidak hanya menerima informasi, tetapi memprosesnya sekaligus.

Kita lihat kondisi di Indonesia. UNESCO pernah menyebutkan bahwa minat baca di Indonesia masih menjadi tantangan. Data menunjukkan minat baca masyarakat Indonesia berada di peringkat nomor 60 dari 61 negara.  Namun, laporan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan signifikan pada penjualan buku nonfiksi populer dan novel remaja, terutama dalam format digital. Audiobook dan e-book juga semakin diminati generasi muda. Ini menandakan satu hal penting. Membaca belum mati, ia hanya berubah bentuk.

Buku yang dianggap keren hari ini adalah buku yang terasa relevan dengan kehidupan pembacanya. Salah satu contoh kuat adalah Filosofi Teras karya Henry Manampiring yang terbit pertama kali pada tahun 2018. Buku ini mengangkat filsafat Stoa (pemikiran Yunani Kuno)  ke dalam bahasa sehari-hari. Buku ini mengalami  puluhan kali cetak ulang dan menjadi salah satu buku nonfiksi terlaris di Indonesia. Isinya membahas cara mengelola emosi, menerima hal yang tidak bisa dikendalikan, dan hidup lebih tenang. Banyak pembaca muda merasa buku ini membantu mereka menghadapi kecemasan dan tekanan hidup modern.

- Poster Iklan -

Buku populer lain yang juga banyak dibaca anak muda adalah Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson. Buku ini terbit pada tahun 2016 dan telah diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa. Mencapai penjualan jutaan eksemplar di seluruh dunia. Isinya bukan mengajarkan untuk tidak peduli, melainkan mengajarkan untuk memilih dengan sadar hal-hal yang benar-benar penting. Buku ini relevan di era media sosial. Ketika tekanan untuk selalu terlihat sukses dan bahagia begitu besar.

Untuk jenis fiksi (menurut saya lho), Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Buku itu bukan hanya populer, tetapi juga berdampak. Terbit pada tahun 2017, novel ini mengangkat kisah aktivis yang hilang pada masa Orde Baru. Buku ini sering dibahas di klub baca, diskusi kampus, hingga komunitas literasi. Melalui narasi personal, pembaca diajak memahami sejarah dari sisi manusiawi. Banyak pembaca muda mengaku buku ini membuka mata mereka tentang sejarah yang jarang dibahas di bangku sekolah. Alternatif membaca sejarah dengan cara populer.

Sementara itu, seri Bumi karya Tere Liye yang terbit sejak tahun 2014 telah terjual jutaan eksemplar. Buku ini memiliki basis penggemar yang sangat besar di kalangan remaja. Buku ini juga menggabungkan fantasi, petualangan, dan sains fiksi dengan bahasa yang ringan. Dunia paralel yang dibangun dalam seri ini mendorong pembaca untuk berimajinasi dan berpikir kreatif. Tidak sedikit pembaca muda yang mengaku mulai gemar membaca justru karena buku-buku seperti ini. Setidaknya berdasarkan wawancara acak saya ke beberapa mahasiswa.

Untuk bacaan nonfiksi global bisa mengacu pada buku Sapiens: A Brief History of Humankind karya Yuval Noah Harari (terbit tahun 2011). Sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Buku itu menjadi salah satu karya paling berpengaruh dalam satu dekade terakhir. Buku ini telah terjual lebih dari 20 juta kopi di seluruh dunia. Dengan gaya bertutur yang naratif, Harari membahas evolusi manusia, agama, uang, hingga teknologi. Buku ini sering direkomendasikan bagi pembaca muda yang ingin melatih cara berpikir kritis dan melihat dunia dari perspektif yang lebih luas.

Manfaat membaca tidak hanya soal pengetahuan. Penelitian dari dari University of Sussex menunjukkan bahwa membaca selama enam menit dapat menurunkan tingkat stres hingga 68 persen. Itu  lebih efektif dibandingkan mendengarkan musik atau berjalan santai. Membaca juga terbukti meningkatkan empati. Terutama ketika membaca fiksi, karena pembaca terbiasa masuk ke dalam pikiran dan perasaan karakter lain.

Selain itu, membaca membantu meningkatkan kemampuan komunikasi. Kosa kata bertambah, cara menyusun kalimat menjadi lebih rapi, dan argumen lebih terstruktur. Dalam jangka panjang, kebiasaan membaca membuat seseorang lebih tahan terhadap informasi palsu karena terbiasa memverifikasi dan berpikir kritis.

Membaca tidak harus dimulai dari buku tebal atau bacaan berat. Tidak ada standar keren dalam membaca. Komik, novel populer, buku pengembangan diri, hingga biografi tokoh favorit sama berharganya. Yang terpenting adalah konsistensi dan rasa ingin tahu. Pokoknya membaca. Membaca yang disuka. Membaca satu halaman setiap hari jauh lebih berarti daripada berniat membaca banyak tapi tidak pernah mulai.

Membaca bukan aktivitas kuno yang ditinggalkan zaman. Ia kebiasaan penting yang semakin relevan di era digital. Buku-buku keren memberi generasi muda ruang untuk berpikir lebih dalam. Mmebuat merasa lebih peka dan tumbuh lebih sadar. Di tengah arus informasi yang cepat dan sering dangkal, membaca membantu kita menjadi manusia yang utuh. Jadi, membaca itu keren. Bukan untuk gaya, tapi untuk hidup.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here