Dia seorang perempuan yang anggun serta fasih membaca kitab suci. Cita-citanya yang ingin jadi joki karapan sapi membuat orang tuanya terkejut. Namanya Naning, putri dari sepasang guru ngaji. Semua penduduk desa mengenali kedua orang tuanya. Bukan hanya karena statusnya yang menyandang gelar kiai kampung. Akan tetapi, sesepuhnya memang punya marwah dari dulu. Tak heran para warga kampung sangat menghormatinya.
“Aku mau jadi joki karapan sapi.” Ucap Naning sehabis pulang mengaji dari langgar. Mendengar perkataan anaknya, bapak dan ibunya tidak percaya. Naning berjalan tepat di depan kedua orang tuanya. Ia memasuki kamar, membuka pintu kemudian menutupnya kembali.
Rasa heran tampak pada wajah orang tuanya. Apa yang akan orang katakan nantinya? Seorang anak ustaz jadi joki karapan sapi. Kopyah bapaknya perlahan ditanggalkan pada paku yang tertancap di dinding. Ibunya memancarkan wajah kebingungan. Keduanya sama-sama diam. Suasana menjadi hening di tengah kekhawatiran yang sedang berkecamuk.
“Apa kita izinkan saja kemauan anak kita, Bu.” Suaminya mulai angkat bicara. “Naning masih sangat butuh pengalaman. Dengan begitu mentalnya akan terasah. Karapan sapi mengajarkan arti perjuangan, sifat kesatria dan sikap pantang menyerah. Cocok untuk anak seusia Naning.” Lanjutnya.
“Dia ‘kan perempuan, Pak. Tidak pantas menjadi joki karapan sapi. Para joki biasanya anak laki-laki. Naning perempuan. Apa kata orang nantinya.” Kabut kesedihan menyelimuti. Keresahan mulai melanda keluarga yang selalu dilimpahi keberkahan itu.
“Bapak dan ibu tidak usah khawatir. Aku bisa jaga diri.” Dari balik pintu tiba-tiba anaknya muncul dan duduk bersama. Naning merupakan seorang anak yang anggun. Kulitnya putih merona serta mempunyai postur tubuh yang tinggi semampai.
“Kamu itu perempuan, Nak! Tidak layak menjadi joki karapan sapi.” Ucap ibunya dengan nada lirih. Mata ibunya terlihat sayu ketika Naning membalas tatapannya. Mendengar perkataan ibunya membuat Naning kecewa. Apa tidak boleh seorang perempuan menjadi dirinya sendiri seperti layaknya laki-laki?
Rumor bahwa Naning akan menjadi seorang joki karapan sapi terdengar seantero desa. Semua orang membicarakannya. Terutama guru dan teman-temannya di sekolah. Sebagai bentuk dukungan, setiap kali Naning latihan di lapangan desa, teman-temannya selalu hadir untuk memberikan semangat. Tapi, di sisi lain—banyak juga yang menggunjingkannya. Bagaimana bisa putri seorang guru ngaji menjadi joki karapan sapi. Perempuan tidak selayaknya berada di posisi itu. Seharusnya jangan diizinin jika permintaan anaknya macam- macam kayak begitu. Kata orang-orang yang tidak setuju.
Banyak sekali pujian dan celaan yang masuk ke kuping orang tua Naning. Tapi mereka anggap sebagai angin lewat saja. Mereka fokus pada keinginan anaknya. “Ketika latihan, Naning akan tetap memakai kerudung!” ucap Bapaknya Naning kepada Ji Rokat. Dan Ji Rokat tidak mempermasalahkan soal hijab asal tidak mengganggu keselamatan joki maupun sapi karapannya.
Sapi-sapi karapan milik Ji Rokat mulai diturunkan dari mobil pick up. Sapinya muda-muda, bulunya merah pekat dan matanya bening menyala menandakan dalam kondisi yang sangat sehat—siap untuk beradu kencang di lintasan karapan. Di pinggir lapangan, Naning sudah sangat antusias. Sedangkan orang tuanya memancarkan kekhawatiran yang mendalam.
“Sudah siap?” Ji Rokat muncul dari belakang. Naning mengangguk penuh keyakinan. Mereka berdua berjalan menuju garis start—tempat di mana sapi karapan siap ditunggangi oleh para joki. Saat latihan yang pertama kalinya—Naning merasa agak canggung. Tapi beruntung karena dari jauh-jauh hari Naning telah dibekali pengetahuan cara mengendalikan sapi oleh Om Surahmad. Mantan joki senior yang sekarang sudah pensiun. Prestasinya banyak. Terakhir, Om Surahmad adalah joki yang memenangkan lima kali berturut-turut Piala Presiden. Hingga saat ini belum ada joki lain yang melampaui prestasi gemilangnya itu.
“Tenang dan kuasai.” Ucap Om Surahmad. Sementara Naning mulai menaiki kaleles dengan tenang. Naning hanya mengangguk atas saran pelatihnya itu. Tidak seperti yang dibayangkan—sepasang sapi itu sulit dijinakkan. Para pemegang sapi yang berkisar lima sampai tujuh orang berusaha keras untuk menenangkan supaya bisa dilepas. Selang beberapa lama, sapi-sapi perlahan mulai bisa dikendalikan.
“Siappppp,” suara itu datang dari pemegang sapi tepat di samping kanan Naning. Naning mengangguk pertanda siap. Sapi yang ditunggangi Naning melaju membelah tanah kering. Para pemegang sapi memegang botol susu bekas meneriaki dari belakang. heraaaaaaaaa … heraaaaaa … hiyaaaaaaa.
Naning merasa begitu percaya diri menjadi seorang joki. Kerudungnya melambai-lambai diterpa angin yang datang dari arah depan. Sapi yang ditungganginya kini tepat melintas di depan orang tuanya. Naning mendengar teriakan semangat dari bapaknya. Di garis akhir—Naning dan sapi karapannya sudah ditunggu oleh para penangkap sapi. Semula, Naning yang merasa canggung dan khawatir—kini timbul keinginan mencobanya sekali lagi. Pengalaman pertama menunggangi sapi karapan memberikan rasa candu kepada dirinya.
Tidak ada manusia pintar yang ada hanyalah orang yang rajin latihan. Pintar dan lihai dalam melakukan sesuatu merupakan buah dari percobahaan yang terus diulang secara terus menerus. Naning percaya proses—oleh karena itu, ia rajin latihan menunggangi sapi-sapinya di lapangan.
Pelaksanaan lomba karapan sapi sudah tinggal menghitung hari. Persiapan untuk pertandingan mulai gencar dilakukan, mulai dari merawat sapi supaya tidak sakit, memberikan jamu khusus supaya sapi segar pada saat pertandingan. Tidak hanya itu, Ji Rokat juga memanggil tukang pijat khusus sapi karapan kesayangannya.
Ritual-ritual khusus juga dilakukan Naning. Dia tidak sembarangan makan. Menjaga pola makan dilakukan supaya performa badannya dalam keadaan maksimal ketika perlombaan. “Ikhtiar kamu sudah maksimal, tinggal berdoa kepada Tuhan.” Ucap ibunya ketika Naning baru saja pulang mengaji.
***
Rumah Naning dekat dengan jalan raya sehingga mobilitas keluar masuk kendaraan gampang. “Mereka sudah menunggumu di luar.” Ucap bapaknya ketika Naning masih mengemas beberapa barang yang akan dia bawa ke arena karapan.
Di pintu Naning telah ditunggu oleh ibunya. Musik saronen sebagai pengiring sapi karapan telah ditabuh. Terlihat dari jendela, dua mobil pick up telah menunggu. Ji Rokat sebagai pemilik sapi juga telah menunggu Naning di halaman rumah. Dia berpakaian sakera lengkap dengan udeng yang bercokol gagah di kepalanya.
Tepat di depan pintu, Naning berhadap-hadapan dengan ibu dan bapaknya. “Saya pamit, dan mohon doa restu.” Naning percaya bahwa rida orang tua yang paling utama. Ia adalah sumber keselamatan dan keberkahan. Kemudian, ibunya menyodorkan segelas air putih yang harus Naning habiskan dalam sekali teguk.
Ibunya perlahan melebarkan kedua kakinya. “Menunduk dan lewatlah di bawah selangkanganku, Nak.” Seketika Naning langsung melaksanakan apa yang diperintah ibunya. “Berangkat … semoga selamat.” Dengan langkah pasti—Naning segera melangkah menuju Ji Rokat yang telah menunggu.
Para peserta mulai berdatangan dari berbagai daerah. Sapi-sapi karapan bergiliran diturunkan dari mobil pick up dan truk. Ada yang memakai musik pengiring saronen ada pula yang tidak. Di sisi kiri dan kanan dipenuhi manusia. Benar-benar ajang tahunan yang meriah.
***
Pertandingan pertama berjalan sesuai harapan. Naning kini benar-benar menjadi idola baru bagi penggemar karapan sapi. Ia bukan hanya lihai mengemudikan sapi karapan— Naning juga tangkas dalam membaca kemauan sapinya. Oleh karena itu, sapi yang Naning tunggangi melesat seolah-olah tidak menyentuh tanah.
Panas menyengat berubah menjadi awan hitam. Pertandingan final ditunda karena jarak pandang yang sangat terbatas. Hujan turun sangat deras. Semua penonton buru-buru mencari tempat untuk berteduh. Saat itu, Naning menyaksikan beberapa sapi karapan milik musuhnya luka di bagian bokong, tepat di atas ekornya. Fenomena itu memang sengaja dilakukan oleh para joki—yang bertujuan untuk membuat sapi karapan berlari semakin kencang. Tapi, Naning tidak melakukan cara itu. Dia menganggap hal itu menyakiti sapi-sapinya.
Pada partai final—kelas menang. Naning berhadapan dengan dua pesaing yang sama-sama memperebutkan takhta teratas. Sorak-sorai penonton kembali bergemuruh menyebut-nyebut namanya. Boleh dibilang Naning adalah seorang joki pendatang baru di dunia karapan sapi. Banyak menggemari dirinya.
Kedua sapi milik musuhnya susah dikendalikan, para pemegang sapi terus menenangkannya. Sementara sapi yang Naning tunggangi bersikap tenang. Naning mengelus kedua sapinya. Kemudian, tidak lama terdengar hitung mundur dari pengeras suara yang terpasang di atas pohon. Naning menundukkan tubuhnya dan menghadap ke depan.
Aba-aba dilepas telah terdengar. Dengan langkah penuh kekuatan—ketiga sapi melesat kencang. Naning dan sapi karapannya berada di jalur tengah. Jalur yang tanahnya tidak rata. Selain itu, ada beberapa tempat yang tergenang air menyebabkan tubuh Naning sedikit goyah. Hampir setengah lapangan, sapi karapan yang ditunggangi Naning meninggalkan para kompetitornya di belakang. Sorak-sorai penonton semakin riuh.
Garis akhir sudah di depan matanya. Bayang-bayang juara sudah muncul di kepala Naning. Luput dari pandangan matanya, ternyata ada lubang menganga yang cukup besar di jalur yang dilewatinya. Lubang itu menyebabkan kaki sapi bagian terperosok. Langkah sapi karapan yang ditunggangi Naning kehilangan keseimbangan—oleng ke kanan dan ke kiri.
Naning panik. Dia berusaha meraih ekor sapi yang dia tunggangi, tapi gagal. Naning terpelanting ke belakang dan jatuh. Sapi karapannya tetap berlari kencang. Tubuh Naning terseret. Semua penonton melihat peristiwa itu. Apakah dia selamat? Cukup Tuhan sebaik-baiknya perencana.
*Kaleles: Penyangga untuk joki karapan sapi.













