Pernahkah Anda merasa susah sekali bikin artikel yang enak dibaca? Kalau iya, Anda tidak sendirian. Banyak penulis pemula menghadapi hal yang sama. Diksi yang kurang pas, kalimat panjang sekali, dan alinea yang tidak tertata rapi. Saking panjangnya kalimat, rasanya pembaca bisa tersesat di tengah jalan.

Sebenarnya, salah satu trik yang cukup ampuh meskipun kuno. mulai dengan menulis tangan dulu, baru kemudian diketik di komputer atau laptop. Kenapa? Karena dengan menulis tangan, Anda akan berpikir lebih pelan, mencatat ide dengan lebih bebas, dan cenderung lebih memikirkan struktur tulisan. Setelah itu baru diketik, di-edit, diperhalus. Hasilnya akan jauh lebih bagus dibanding langsung mengetik di depan layar.

Kalau Anda langsung mengetik di komputer karena merasa lebih nyaman, itu sah-sah saja. Tidak masalah. Tapi sebagai pemula, menulis tangan dulu memberi banyak keuntungan. Anda bisa lebih fokus ke ide, tidak tergoda cek notifikasi atau buka jendela lain. Misalnya saja Anda sambal membuka internet. Juga, biasanya lebih sedikit typo atau kalimat yang “ngelantur”. Seiring waktu setelah Anda mahir menulis silakan bebas pilih gaya menulis yang paling cocok buat Anda.

Bicara soal kalimat panjang, ini sering jadi “musuh” banyak penulis baru. Ada yang sengaja bikin kalimat panjang biar terdengar “pintar”, atau karena kagum dengan kosa kata sendiri. Kita   lihat tulisan yang bagus dan populer di media massa yang pembacanya banyak ragam (usia, latar belakang, pendidikan) saja. Kalimatnya cenderung pendek-pendek dan mudah dicerna. Alasannya sederhana, pembaca cepat bosan atau kehilangan jejak kalau kalimatnya terlalu rumit.

- Poster Iklan -

Misalnya, contohnya kalimat seperti ini:

“Dan karena ini merupakan studi hermeneutika (interpretasi teks), perlu diketahui lebih awal, bahwa teknik analisis datanya tidak berusaha membuat pengelompokan atau katagori data-data seperti pada penelitian umumnya, tetapi data atau teks (isi buku) secara keseluruhan itulah yang merupakan objek analisis-tematiknya.”

Bandingkan dengan versi yang lebih pendek dan simpel:

“Studi ini adalah studi hermeneutika. Oleh karena itu, teknik analisisnya tidak membentuk pengelompokan data seperti penelitian biasanya. Sebaliknya, objek analisisnya adalah seluruh data yang ada.”

Versi kedua jauh lebih enak dibaca dan cepat dipahami, bukan? Saat saya mulai belajar menulis artikel, saya rutin melakukan proses editing sebanyak tiga sampai empat kali sebelum tulisan dikirim atau dipublikasikan. Prosedurnya kira-kira seperti ini.  Selesai menulis di pagi hari, saya diamkan dulu (keluar, jalan-jalan, rilekskan pikiran), lalu siang saya edit ulang, selanjutnya sore hari saya edit lagi, akhirnya mengetik dan melakukan editing terakhir. Jadi total bisa empat kali editing. Kelebihannya, ketika tulisan didiamkan dulu, otak tidak  “panas” karena baru selesai menulis. Juga otak tidak “penuh” dan pikiran bosan dengan ide awal. Kemudian ketika dibaca ulang, kita bisa melihat kekurangan dengan lebih objektif.

Proses ini terutama cocok untuk artikel yang tidak terburu-buru deadline. Misalnya Anda menulis untuk perayaan suatu tanggal atau acara yang sudah diketahui jauh hari. Misalnya hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Dengan waktu yang leluasa, Anda bisa menyiapkan data dengan matang, menulis konsep, edit berulang, lalu ketik akhir. Sebaliknya kalau artikel itu membahas peristiwa aktual  —  misalnya kejadian hari ini atau breaking news —  maka Anda harus bekerja lebih cepat karena kalau terlalu lama, tulisan bisa terasa basi.

Sekali lagi, Anda tetap boleh mengetik langsung di komputer atau laptop.  Bahkan kalau Anda sudah mahir, itulah cara yang paling efisien. Tapi untuk pemula, menulis tangan dulu tetap sangat disarankan. Kenapa? Karena tangan belum capek, komputer belum memaksa kita cepat dimatikan dan fokus kita belum terbagi. Nanti saat kita sudah terbiasa, baru tinggal pilih gaya yang paling nyaman. Tapi jangan salah, menulis di komputer juga punya kelemahan jika dilakukan asal-asalan. Misalnya kita terlalu sering buka “yang lain”.  Mata cepat lelah atau konsentrasi gampang buyar.

Sekarang muncul pertanyaan, kalau sudah menulis tangan, sudah mengetik, dan sudah diedit empat kali apa tulisan kita pasti berkualitas? Jawabannya belum tentu. Masih ada satu hal yang sering diabaikan, meminta orang lain membaca tulisan Anda. Bisa jadi kita malu karena merasa belum “berpengalaman” atau takut dianggap sok pintar. Tapi justru orang lain bisa memberi masukan berharga. Terutama yang sudah terbiasa menulis.  Bagian mana yang membingungkan, mana yang kering karena kurang data, di posisi mana titik kehilangan fokus pada pembaca. Waktu mereka sedikit? Cari saja teman yang memang senang membaca atau menulis. Minta bantuan sebentar  untuk membantu.

Jadi bagaimana dengan Anda? Apakah Anda siap memberi waktu untuk proses? Ide,   tulis tangan (atau langsung), diamkan, edit ulang beberapa kali,  minta pembaca lain,  akhirnya publikasi? Kalau iya, Anda akan semakin dekat ke tulisan yang bukan hanya selesai, tapi juga enak dibaca dan memberikan dampak.

Menulis artikel yang efektif untuk pembaca pemula  bukan soal berapa kali Anda mengetik atau dengan alat apa, tapi soal bagaimana Anda memberi proses yang cukup. Menulis dengan tangan sebagai latihan, membiarkannya berjarak dengan pikiran, melakukan beberapa kali editing, dan melibatkan pembaca lain sebagai cermin. Dengan cara itu, Anda meningkatkan peluang sebuah tulisan lebih berdampak, bukan sekadar hanya selesai.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here