Buku Asal-Usul Kebudayaan karya Geger Riyanto merupakan sebuah upaya reflektif dan kritis untuk memahami bagaimana kebudayaan dipikirkan, dibicarakan, dan dipraktikkan dalam konteks Indonesia. Buku ini tidak hadir sebagai pengantar antropologi klasik yang sistematis, melainkan sebagai pembacaan konseptual atas diskursus kebudayaan: bagaimana kebudayaan diproduksi melalui penalaran, kiasan, kepentingan, dan relasi kuasa. Dengan pendekatan yang cenderung esaiistik namun padat rujukan, Geger Riyanto menempatkan kebudayaan bukan sebagai objek statis, melainkan sebagai medan pertarungan makna yang terus bergerak.

Sejak awal, buku ini menunjukkan perhatian besar pada persoalan penalaran. Geger tidak sekadar membahas kebudayaan sebagai himpunan artefak atau tradisi, melainkan sebagai hasil dari cara berpikir tertentu. Ia mengajak pembaca untuk mempertanyakan dikotomi yang kerap diandaikan antara penalaran “modern” dan penalaran yang sering disebut “primitif”. Dengan membongkar asumsi-asumsi epistemologis di balik label tersebut, Geger menunjukkan bahwa penalaran kiasan—yang sering diremehkan sebagai tidak rasional—justru memiliki logika sosialnya sendiri. Kiasan, metafora, dan simbol bukanlah sisa masa lalu, melainkan perangkat penting dalam memahami dunia sosial.

Dalam konteks ini, kebudayaan dipahami sebagai sesuatu yang selalu terikat pada situasi sosial tertentu. Penalaran tidak pernah berdiri di ruang hampa; ia dibentuk oleh relasi kuasa, kepentingan institusional, serta posisi subjek. Geger Riyanto dengan cermat menelusuri bagaimana berbagai kajian terdahulu tentang kiasan dan simbolisme membuka jalan bagi pemahaman yang lebih kompleks tentang kebudayaan. Ia menolak pandangan yang menyederhanakan kebudayaan sebagai ekspresi “jiwa bangsa” yang tunggal dan koheren.

Ketika pembahasan beralih ke konteks Indonesia, buku ini menjadi semakin politis. Diskursus kebudayaan di Indonesia, menurut Geger, tidak bisa dilepaskan dari proyek pembangunan dan sejarah panjang kolonialisme. Kebudayaan sering ditempatkan sebagai pelengkap setelah kebutuhan material dianggap terpenuhi—sebuah pandangan yang mereduksi kebudayaan menjadi ornamen. Kritik Geger di sini tajam: ketika kebudayaan hanya dipahami sebagai “sesudah makan”, ia kehilangan daya kritisnya dan mudah dijadikan alat legitimasi kekuasaan.

- Poster Iklan -

Lebih jauh, buku ini juga menyoroti kecenderungan stagnasi gagasan dalam wacana kebudayaan nasional. Geger mengamati bagaimana ide-ide lama terus diulang dengan kemasan baru, sementara pertanyaan-pertanyaan mendasar jarang disentuh secara serius. Dalam tarik-menarik antara apa yang disebut “Barat” dan “Timur”, kebudayaan kerap dibingkai secara biner dan ahistoris. Padahal, Geger menunjukkan bahwa kebudayaan selalu bergerak melalui perjumpaan, negosiasi, dan bahkan konflik.

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada penelusuran akar konseptual kebudayaan. Kebudayaan tidak semata-mata diposisikan sebagai lawan dari alam, tetapi juga sebagai daya kreatif manusia yang memungkinkan perubahan. Di sisi lain, kebudayaan juga berfungsi sebagai penanda identitas kolektif—sesuatu yang menyatukan sekaligus mengecualikan. Geger tidak menerima begitu saja gagasan tentang “watak bangsa”, melainkan mengajaknya untuk dibaca sebagai konstruksi diskursif yang sarat kepentingan.

Kegelisahan pascakolonial menjadi benang merah penting dalam pembacaan Geger. Kebudayaan di negara-negara bekas jajahan, termasuk Indonesia, sering berada dalam posisi ambigu: antara keinginan untuk otentik dan tekanan untuk mengikuti standar global. Dalam situasi ini, kebudayaan menjadi medan yang dipenuhi kecemasan, di mana pencarian jati diri kerap berujung pada simplifikasi dan romantisasi masa lalu.

Bagian reflektif buku ini terasa ketika Geger membahas pengalaman personal dan intelektual tentang “terpanggil oleh kebudayaan”. Ia menunjukkan bahwa keterlibatan dalam kajian kebudayaan bukanlah pilihan yang sepenuhnya bebas, melainkan hasil dari perjumpaan historis dan struktural. Bekerja di wilayah kebudayaan berarti berhadapan dengan penanda-penanda yang mengambang, makna yang tidak pernah sepenuhnya stabil, serta tuntutan untuk terus menafsir ulang posisi diri.

Dimensi global kebudayaan juga mendapat perhatian serius. Dalam apa yang disebut sebagai “permainan antarbangsa”, kebudayaan tampil sebagai arena diplomasi, kompetisi nilai, dan klaim otoritas. Geger menunjukkan bagaimana forum-forum kebudayaan dunia kerap mereproduksi hierarki lama, meskipun dibungkus dengan bahasa dialog dan mufakat. Kiasan-kiasan tentang kebudayaan diangkat ke level institusional dan diberi otoritas, seolah-olah mampu mewakili kompleksitas realitas sosial.

Pada akhirnya, buku ini ditutup dengan refleksi tentang kebenaran dalam dunia sosial. Geger Riyanto menegaskan bahwa dunia sosial tidak selalu koheren, dan karena itu kebenaran di dalamnya bersifat mengambang. Kebudayaan tidak menawarkan jawaban pasti, melainkan ruang untuk terus bertanya dan meragukan. Sikap inilah yang menjadi pesan implisit buku ini: bahwa kajian kebudayaan menuntut kewaspadaan konseptual dan keberanian untuk menolak penyederhanaan.

Secara keseluruhan, Asal-Usul Kebudayaan adalah buku yang menantang pembaca untuk berpikir ulang tentang kebudayaan, bukan sebagai warisan beku, melainkan sebagai proses diskursif yang hidup. Dengan gaya penulisan yang reflektif dan kritis, Geger Riyanto berhasil menghadirkan kebudayaan sebagai medan pemikiran yang penuh ketegangan, ambiguitas, dan kemungkinan. Buku ini layak dibaca oleh siapa pun yang tertarik pada studi kebudayaan, filsafat sosial, maupun dinamika intelektual Indonesia kontemporer.

Identitas Buku

Judul : Asal Usul Kebudayaan
Penulis : Geger Riyanto
Jumlah halaman: xiv + 192 hlm.
Ukuran : 15,5 x 23 cm
Penerbit : Beranda, 2018
ISBN : 978-602-61816-7-1

Beli Bukunya Sekarang Juga

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here