Ada yang aneh dengan zaman kita. Kita hidup di era paling “pintar” dalam sejarah. Serba “paling tahu”. Apa sebab? Informasi ada di mana-mana. Tinggal buka layar, lalu semuanya muncul. Tapi anehnya, kita seolah juga makin sering kehabisan “napas”. Bukan napas fisik. Tapi napas berpikir. Napas memahami. Napas menimbang.

Akibatnya selanjutnya, kita mudah tersulut. Mudah percaya. Mudah ikut-ikutan. Lalu mudah bosan. Hal kecil dan tak begitu penting cepat viral. Mudah dilupakan. Kita merasa tahu banyak, padahal yang kita konsumsi sering cuma potongan. Cuplikan. Ringkasan. Bahkan terburu menyimpulkan dari judul saja.

Di situlah sebenarnya buku punya peran yang tidak bisa digantikan. Buku bukan benda tua yang nemumpuk di rak. Buku itu ibarat oksigen. Oksigen untuk masa depan. Oksigen untuk kemajuan bangsa. Karena bangsa yang kuat bukan bangsa yang paling ramai bicara, tapi bangsa yang paling dalam berpikir.

Coba bayangkan hidup tanpa oksigen. Kita bisa bertahan beberapa menit? Setelah itu, tubuh runtuh. Sekarang bayangkan generasi muda tanpa buku. Tanpa kebiasaan membaca. Tanpa ketahanan fokus. Tanpa kemampuan memahami teks panjang. Mungkin masih bisa “hidup” di permukaan, tapi pelan-pelan akan kelelahan. Bukan karena kurang konten, tapi karena kurang makna.

- Poster Iklan -

Sebagai oksigen, buku melatih kita bernapas panjang. Buku membuat kita tahan duduk. Tahan belajar. Tahan berpikir. Itu bukan keterampilan sepele. Itu fondasi. Masa depan tidak dibangun oleh orang yang gampang menyerah saat bosan. Masa depan dibangun oleh orang yang sanggup menuntaskan sesuatu sampai selesai.

Masalahnya, banyak orang memandang membaca cuma urusan sekolah. Urusan rapor. Urusan ujian. Padahal membaca adalah latihan hidup. Membaca adalah cara untuk naik kelas sebagai manusia. Buku mengajarkan kita untuk menyusun logika, merawat rasa ingin tahu, dan memahami dunia dengan kepala dingin.

Tanpa membaca, pilihan kita gampang dibajak. Algoritma bisa mengatur selera kita. Tren bisa menuntun langkah kita. Hoaks bisa menggeser keyakinan kita. Kita jadi mudah digiring. Mudah diadu. Mudah terjebak emosi. Di era serba cepat, yang paling berbahaya bukan orang yang tidak tahu, tapi orang yang merasa sudah tahu semuanya padahal tidak pernah benar-benar belajar.

Buku punya kekuatan yang tidak dimiliki konten pendek. Konten pendek memanjakan. Buku menuntut. Buku meminta kita fokus. Meminta kita sabar. Meminta kita telaten. Justru karena itu buku membentuk “otot mental”. Buku ibarat “gym” untuk pikiran. Di buku, kita belajar bahwa satu masalah bisa punya banyak sisi. Bahwa dunia tidak sesederhana hitam dan putih.

Orang yang terbiasa membaca biasanya lebih tenang saat berdiskusi. Ia punya struktur berpikir. Ia tahu cara menyusun argumen. Ia tidak gampang terseret emosi karena ia terbiasa memproses informasi dengan utuh. Ia tidak mudah terpancing judul provokatif karena ia sadar, fakta itu tidak bisa dibangun dari sepotong kalimat.

Ini bukan sekadar soal gaya hidup. Ini soal masa depan bangsa. Bangsa yang maju membutuhkan warga yang “terliterasi”. Warga yang bisa membaca data. Membaca situasi. Membaca kebijakan. Membaca konsekuensi. Makanya, demokrasi tanpa literasi pun mudah berubah jadi keributan kolektif.

Kita bisa melihat contohnya di sekitar. Anak muda yang suka membaca buku bisnis atau teknologi biasanya tidak hanya berkata, “Aku mau sukses.” Tapi ia belajar cara kerja industri. Ia paham cara membangun produk. Ia memahami pentingnya disiplin dan konsistensi. Ia punya bekal bukan cuma mimpi, tapi peta.

Orang yang membaca sejarah biasanya lebih kebal terhadap provokasi. Ia tahu pola konflik sering berulang. Ia paham bahwa perpecahan selalu dimulai dari kebencian kecil yang dibiarkan tumbuh. Ia jadi lebih hati-hati memilih informasi. Lebih bijak menilai isu. Lebih tenang menghadapi perbedaan.

Bahkan membaca novel pun bukan kegiatan “tidak guna”. Novel mengajarkan empati. Novel mengajak kita hidup di kepala orang lain. Mengerti rasa orang lain. Mengalami luka orang lain. Dari sana kita belajar menjadi manusia yang lebih lembut, lebih peka, dan lebih adil. Bangsa yang besar butuh manusia yang utuh, bukan manusia yang hanya pintar bicara.

Kemajuan bangsa juga tidak lahir dari slogan. Tidak cukup dari seminar motivasi. Tidak cukup dari poster “mindset sukses”. Kemajuan bangsa lahir dari ilmu. Dari riset. Dari inovasi. Dari kemampuan berpikir kritis. Semua itu punya akar yakni literasi. Kemampuan membaca dan memahami.

Negara-negara yang maju hampir selalu punya budaya membaca yang kuat. Perpustakaan hidup. Buku mudah dijangkau. Diskusi tumbuh. Pengetahuan dianggap kebutuhan, bukan kemewahan. Mereka paham bahwa ketika warga cerdas, negara lebih tahan guncangan. Ekonomi lebih kuat. Politik lebih sehat. Masyarakat lebih damai.

Yang menarik, negara-negara maju tidak hanya menyuruh warganya membaca. Mereka membuat sistem yang membuat membaca jadi gaya hidup. Jadi napas sehari-hari. Jadi kebutuhan yang mudah diakses.

Contohnya Finlandia. Di sana, perpustakaan bukan sekadar tempat pinjam buku. Pemerintah membangun perpustakaan sebagai “ruang hidup kota”. Salah satu simbolnya adalah “Helsinki Central Library Oodi”, perpustakaan pusat yang diposisikan sebagai ruang publik modern. Tempat membaca, belajar, berdiskusi, bahkan mencoba teknologi dan alat kreatif. Perpustakaan menjadi rumah bersama. Mudah diakses dan terasa keren untuk anak muda. Finlandia juga punya jaringan perpustakaan publik yang luas sebagai misi nasional untuk memberi kesempatan setara dalam belajar dan membaca.

Lihat juga Singapura. Mereka tidak menunggu anak muda “tiba-tiba suka baca”. Mereka membangun gerakan dan program yang konsisten. Ada “READ! Singapore” yang rutin sejak 2005. Diskusi buku, acara tematik, pertunjukan, sampai reading marathon. Tujuannya jelas, membuat membaca jadi kegiatan sosial, bukan aktivitas sepi yang terasa seperti hukuman.

Singapura juga menjalankan “National Reading Movement”. Kampanye nasional untuk mengajak warga “Read More, Read Widely, Read Together”. Artinya membaca tidak hanya ditargetkan untuk pelajar, tapi seluruh masyarakat.

Contoh lain datang dari Korea Selatan. Mereka menata budaya baca lewat payung kebijakan. Di sana ada “Reading Culture Promotion Act”. Pemerintah bahkan menetapkan “Reading Month” untuk mendorong warga menjadikan membaca sebagai kebiasaan. Mereka juga mendorong terbentuknya komunitas pembaca, termasuk di tempat kerja. Jadi membaca bukan urusan pribadi, tapi agenda sosial yang dihidupkan bersama.

Di Inggris, ada program yang sederhana tapi dampaknya besar yakni “Bookstart”. Program ini memberikan buku gratis bagi anak-anak pada fase-fase awal sebelum sekolah, disertai materi panduan untuk orang tua agar budaya membaca tumbuh dari rumah. Ini bentuk investasi yang sering dilupakan. Bahwa literasi dimulai sejak bayi, bukan menunggu anak duduk di bangku SD.

Apa yang bisa kita pelajari dari mereka? Satu hal, negara maju menganggap membaca itu infrastruktur. Sama pentingnya dengan jalan, listrik, dan internet. Karena mereka paham, pembangunan paling mahal adalah pembangunan manusia.

Nah, ketika kita bicara “buku itu oksigen masa depan”, kita sedang bicara tentang cara menjaga napas bangsa. Kalau generasi mudanya malas membaca, bangsa ini akan gampang sesak. Sesak oleh hoaks. Sesak oleh kebencian. Sesak oleh budaya instan yang membuat semua orang ingin cepat, tapi tidak siap.

Namun kalau generasi mudanya suka membaca, bangsa ini akan punya napas panjang. Punya kemampuan berpikir kritis. Punya daya cipta. Punya empati. Punya inovasi yang lahir dari pemahaman, bukan sekadar ikut tren.

Kebiasaan itu tidak harus dimulai dengan cara besar. Mulai dari satu, dua, tiga atau sepuluh halaman sehari. Lima belas menit sebelum tidur. Satu buku sebulan. Mulai dari yang kamu suka. Karena yang penting bukan “banyak”, tapi “rutin”. Membaca itu seperti olahraga. Sedikit tapi konsisten jauh lebih kuat daripada semangat besar yang mati di minggu pertama.

Buku adalah oksigen masa depan karena ia menghidupkan daya pikir, menyehatkan nalar, dan menumbuhkan karakter. Negara maju membuktikan bahwa budaya membaca tidak lahir dari himbauan, tapi dari sistem. Perpustakaan yang hidup, program yang merangkul, dan kebijakan yang konsisten. Kalau kita ingin kemajuan bangsa yang benar-benar tahan lama, maka membaca harus diperlakukan sebagai kebutuhan sehari-hari, seperti bernapas. Karena bangsa yang kehilangan budaya membaca, pada akhirnya akan kehilangan arah.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here