derana

Belum genap sebulan pada tahun hijriyah bulan Syawal ini, beragam berita tentang kebijakan pemerintah telah menyeruak menjadi topik hangat pembicaraan dalam acara silaturahim keluarga, komunitas, organisasi maupun obrolan ringan di kafe-kafe perkotaan. Ada yang bicara belum selesai urusan mobil impor ratusan ribu untuk koperasi merah putih, kini muncul pemberian ribuan sepeda motor untuk kepala dapur Makan Bergizi Gratis. Selain itu muncul pula urusan perdamaian, urusan energi karena ditutupnya selat Hormuz yang membuat rumor naiknya bahan bakar minyak menjadi bola liar kemana-mana.

Belum kering airmata saudara setanah air di Sumatera dan di beberapa tempat karena bencana alam, kini, juga dirundung oleh derita lain yaitu kesalahan kejaksaan menunut pekerja kreatif Amsal Christy Sitepu, penyiraman aktivis HAM Andrie Yunus yang berpotensi mengalami kebutaan mata. Ini seolah mengulang kejadian pada Novel Baswedan saat menyidik rekening gendut polisi oleh KPK.

Beberapa waktu yang lalu Presiden Prabowo Subianto, di hadapan para jurnalis menyampaikan pernyataan yang sangat heroik dan perlu dipertanggungjawabkan, yaitu; “… saya pertaruhkan kepemimpinan saya…”. Pernyataan ini muncul manakala banyak kritik atas beberapa program andalan Presiden Prabowo Subianto, seperti program Makan Bergizi Gratis, yang digambarkan oleh para netizen menunya sering diolok-olok kurang bergizi. Atau pun program Koperasi Merah Putih, yang impor mobil dengan fantastis, saat ini menjadi topik pembicaraan, karena ternyata mobilnya sudah ada di Indonesia. Dan masih banyak program lain yang menjadi ledekan para netizen.

Indonesia adalah bangsa yang tabah dalam menghadapi derana. Kata derana menggambarkan penderitaan, kesusahan, dan cobaan yang datang silih berganti. Sebagai negara kepulauan yang berada di cincin api Pasifik, Indonesia tidak pernah lepas dari bencana alam seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, dan tsunami.

- Poster Iklan -

Selain bencana alam, bangsa ini juga mengalami derana sosial, ekonomi, dan sejarah panjang penjajahan. Namun, di tengah segala penderitaan tersebut, bangsa Indonesia tidak pernah benar-benar runtuh. Rakyatnya terus bangkit, saling menolong, dan melanjutkan kehidupan dengan penuh kesabaran. Ketabahan ini terlihat dari sikap masyarakat yang tetap bekerja, berdoa, dan bergotong royong meskipun selalu dilanda kesulitan. Derana bukanlah akhir bagi bangsa Indonesia, melainkan bagian dari perjalanan panjang yang membentuk karakter bangsa.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat tangguh. Bangsa yang terbentuk karena persekutuan antar bangsa-bangsa, suku-suku. Indonesia mempunyai pengalaman yang panjang tentang ketabahan. Ketabahan bangsa Indonesia merupakan salah satu karakter sosial yang terbentuk dari pengalaman sejarah, kondisi geografis, dan nilai budaya yang mengakar kuat. Ketabahan ini tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang dipenuhi berbagai tantangan, mulai dari penjajahan, konflik sosial, krisis ekonomi, hingga bencana alam yang berulang. Dalam konteks ini, ketabahan dapat dipahami sebagai kemampuan kolektif bangsa untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit dari penderitaan tanpa kehilangan jati diri dan harapan akan masa depan.

Budaya agraris yang berkembang di banyak wilayah Nusantara turut membentuk karakter tabah. Bertani mengajarkan kesabaran, ketekunan, dan penerimaan terhadap ketidakpastian alam. Nilai-nilai ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari pandangan hidup masyarakat. Selain itu, kehidupan komunal dalam masyarakat desa menumbuhkan semangat kebersamaan dan gotong royong.

Dalam tradisi dan kearifan lokal Nusantara, ketabahan juga tercermin melalui ajaran moral dan simbol budaya. Banyak cerita rakyat, mitos, dan epos yang menggambarkan tokoh-tokoh yang sabar, kuat, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi cobaan. Ajaran tentang keseimbangan hidup, harmoni dengan alam, serta pengendalian diri menjadi landasan mental yang memperkuat ketabahan masyarakat. Nilai ini mengajarkan bahwa penderitaan adalah bagian dari kehidupan yang harus dijalani dengan kebijaksanaan.

Pengaruh kepercayaan dan spiritualitas tradisional Nusantara turut membentuk cara pandang terhadap penderitaan. Kehidupan dipahami sebagai rangkaian ujian yang memiliki makna, bukan sekadar kesengsaraan tanpa tujuan. Pandangan ini kemudian semakin diperkaya dengan masuknya agama-agama besar yang menguatkan nilai kesabaran dan keteguhan hati. Perpaduan antara budaya lokal dan ajaran spiritual inilah yang membentuk fondasi ketabahan bangsa Indonesia.

Dengan demikian, ketabahan bangsa Indonesia merupakan warisan budaya Nusantara yang lahir dari interaksi panjang antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual. Ketabahan tersebut menjadi identitas yang terus hidup dan berperan penting dalam menghadapi berbagai tantangan hingga masa kini.

Namun, ketabahan bangsa Indonesia juga perlu dianalisis secara kritis. Ketabahan yang berlebihan berpotensi disalahartikan sebagai sikap pasrah tanpa upaya perubahan struktural. Oleh karena itu, ketabahan idealnya disertai dengan kesadaran kritis untuk memperbaiki sistem, kebijakan, dan tata kelola agar penderitaan yang sama tidak terus berulang. Dalam hal ini, ketabahan harus menjadi energi untuk perubahan, bukan sekadar kemampuan bertahan. Ketabahan mesti dialiri dengan semangat mujahadah. Perlu ada upaya-upaya perjuangan yang ikhlas dan sistematis untuk melakukan perubahan sosial dan kebijakan publik yang lebih humanistik dan berkeadilan. Konsepsi nerima ing pandum bukan semata pasrah tak berdaya, namun konsepsi ini harus menjadi spirit qanaah yang mempunyai nilai jihad fi sabilillah untuk melakukan perubahan-perubahan kea rah yang lebih baik dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Oleh karena itu, secara keseluruhan, ketabahan bangsa Indonesia merupakan modal sosial yang sangat berharga. Jika dikelola dengan kesadaran dan diarahkan pada pembaruan, ketabahan tidak hanya menjaga bangsa ini tetap berdiri di tengah derita, tetapi juga mendorongnya menuju kemajuan yang lebih adil dan berkelanjutan.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here