Dosen produktif

Kampus-kampus di Indonesia selalu sibuk di awal tahun. Sibuk mencanangkan target yang akan diwujudkan sepanjang tahun berjalan. Dosen berjalan cepat menuju kelas, sebagian menatap layar gawai, sebagian lain memikirkan tenggat unggah artikel. Di layar presentasi pimpinan, terpampang Indikator Kinerja Utama (IKU), capaian MBKM, grafik publikasi, dan target peringkat internasional. Semua tampak terukur. Semua tampak maju.

Namun, di ruang yang lain—ruang percakapan publik—kampus justru terasa lengang.

Kita hidup di masa ketika dosen diminta menulis lebih banyak dari sebelumnya. Artikel jurnal menjadi mata uang utama. Semakin terindeks, semakin bernilai. Setiap karya dihitung, setiap sitasi dicatat. Universitas berlomba naik peringkat dan dosen menjadi mesin penggeraknya. Di satu sisi, ini kemajuan. Budaya menulis tumbuh, riset bergerak. Namun di sisi lain, ada sesuatu yang perlahan menghilang: keberanian intelektual untuk bersuara di luar pagar kampus.

Di ruang dosen, sering kita jumpai pemandangan yang sama: diskusi berhenti di keluhan administratif. Obrolan sering berhenti pada teknis: SINTA, Scopus, unggah luaran MBKM, laporan kinerja. Tentang borang, tentang skor, tentang unggah-mengunggah. Isu sosial dibicarakan singkat, lalu menguap. Seolah kampus tak lagi punya waktu untuk merenung, karena terlalu sibuk menghitung. Isu sosial juga dibicarakan pelan, sering diakhiri dengan kalimat, “Hati-hati, nanti salah ucap.” Seolah kampus bukan lagi ruang aman untuk berpikir, melainkan ruang yang harus dijaga agar tetap “aman”.

- Poster Iklan -

Menulis pun berubah makna. Ia tidak selalu lahir dari kegelisahan batin, tetapi dari pengingat sistem. Artikel ditulis dengan bahasa yang rapi, metodologis, dan netral. Tidak salah. Namun sering kali terlalu bersih—tanpa suara, tanpa sikap. Ia selesai di jurnal, tetapi tidak pernah benar-benar hidup di tengah masyarakat.

Dalam situasi ini, keberanian justru terasa mahal. Terlalu kritis dapat dibaca mengganggu citra institusi. Terlalu vokal dianggap tidak selaras dengan semangat “kolaboratif”. Maka banyak dosen memilih jalur aman: menulis tentang isu sosial dengan jarak teoritik, tetapi enggan menyentuh realitas yang dekat—kebijakan kampus, pembungkaman diskusi atau ketimpangan yang dialami mahasiswa sendiri.

Seorang dosen mungkin produktif menulis tentang ketimpangan, tetapi diam ketika kebijakan kampus menyingkirkan yang lemah. Meneliti demokrasi, tetapi enggan bicara ketika kebebasan berpikir menyempit. Mengajar teori kritis, tetapi memilih aman saat realitas menuntut keberpihakan. Di sinilah paradoks itu terasa: semakin banyak tulisan, semakin sunyi suara.

Kampus lalu menyerupai sebuah halte. Banyak orang singgah, membawa berkas, menunggu giliran. Namun tak banyak yang benar-benar bertanya: ke mana arah perjalanan ini? Kita sibuk menunggu bus bernama “peringkat”, sambil lupa mengamati jalan yang kita lalui bersama masyarakat.

Padahal, secara historis, dosen bukan hanya pengajar dan peneliti. Ia adalah penjaga nalar publik. Seseorang yang diharapkan mampu menjelaskan keruwetan zaman dengan bahasa yang jernih dan berani. Ketika dosen memilih diam, ruang publik kehilangan penafsirnya. Yang tersisa hanyalah suara bising tanpa panduan.

Tentu, keheningan ini tidak lahir dari kemalasan. Ia lahir dari sistem yang menekankan kehati-hatian berlebih. Keberanian sering dibaca sebagai gangguan. Kritik dianggap risiko. Maka dosen belajar menahan diri, menyimpan pikiran di ruang privat, dan menyerahkannya pada jurnal-jurnal yang jarang dibaca masyarakat luas. Namun, di titik tertentu, kita perlu bertanya dengan jujur: apakah produktivitas akademik cukup untuk menyebut kampus sebagai ruang hidup?

Universitas yang sehat bukan hanya yang kaya publikasi, melainkan juga yang hangat secara intelektual. Tempat dosen boleh ragu, boleh gelisah, dan boleh bersuara. Sebab ilmu yang tidak dibagikan pada publik akan kehilangan daya etisnya.

Menulis untuk jurnal tetap penting. Akan tetapi, menulis untuk publik adalah bentuk tanggung jawab moral. Keduanya tidak saling meniadakan. Justru saling menguatkan. Mungkin yang kita butuhkan bukan dosen yang lebih sibuk, tetapi dosen yang lebih berani—berani jujur pada pikirannya sendiri, dan berani hadir sebagai manusia intelektual di tengah masyarakat.

Sebab universitas bukan hanya soal peringkat, melainkan tentang makna. Bukan hanya tentang capaian, tetapi tentang keberpihakan pada nalar. Sebab tanpa suara, kampus hanya akan menjadi bangunan sunyi yang dipenuhi teks. Dan dosen, betapapun produktifnya, akan tetap menunggu di halte—tanpa pernah benar-benar berangkat.

Dan halte, sejatinya, bukan tempat tinggal. Ia hanya persinggahan—untuk mereka yang masih berani melanjutkan perjalanan.***

 

- Cetak Buku dan PDF-
Previous articleMusik, Kapitalisme, dan Imajinasi Radikal
Ririe Rengganis
Ririe Rengganis, mengajar Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surabaya. Lulus S2 dan S3 dari Fakultas Ilmu Budaya UGM Yogyakarta. Menulis beberapa antologi puisi Perjalanan Hati (Logung Pustaka, 2004), Biji Bunga Matahari (Amper Media, Juni 2011), Sekuntum Padma di Seberang Jendela (LeutikaPrio, 2012), Antologi Puisi Perempuan Penyair Indonesia 2005 (Risalah Badai, 2005), Antologi Puisi Ponari For President (Babel Publishing, 2009), Jurnal Puisi Amper (Amper Media, Mei 2011), Antologi Negeri Cincin Api (PP Lesbumi, 2011), Antologi Kisah Inspiratif A Cup of Tea for Complicated Relationship (Stiletto Book, 2011), Antologi Prosa Monolog Angsa (Tuas Media, 2012), Antologi Kisah Inspiratif A Cup of Tea for Writer (Stiletto Book, 2012), Elegi untuk Emak: Kumpulan Puisi Bersama (Unesa Press, 2015), dan Mestinya Kupegang Erat Kedua Tangan Itu: Antologi Puisi (Delima, 2017).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here