Berangkat dari judulnya yang provokatif, The Power of Ideas: Konstruktivisme dalam Studi Hubungan Internasional karya Mohamad Rosyidin segera menegaskan satu klaim utama: dunia hubungan internasional tidak semata digerakkan oleh kekuatan material, tetapi oleh gagasan, makna, dan cara manusia menafsirkan realitas sosialnya. Buku ini hadir bukan hanya sebagai pengantar teori, melainkan sebagai ajakan untuk menggeser cara pandang—dari dunia yang dianggap “ada begitu saja” menuju dunia yang terus-menerus dibentuk melalui interaksi, bahasa, dan norma. Dalam konteks studi Hubungan Internasional (HI) di Indonesia, buku ini menempati posisi penting karena menjembatani diskursus teoretis global dengan kebutuhan pembaca lokal yang ingin memahami konstruktivisme secara sistematis dan operasional.
Pembahasan dimulai dari fondasi filosofis yang menjadi penopang konstruktivisme. Di sini, Rosyidin tidak sekadar menyajikan asumsi dasar secara teknis, melainkan menuntun pembaca memahami mengapa konstruktivisme lahir sebagai kritik terhadap positivisme dan realisme arus utama. Dunia internasional, menurut pendekatan ini, bukanlah ruang objektif yang sepenuhnya bisa dijelaskan melalui hukum sebab-akibat ala ilmu alam. Ia adalah dunia intersubjektif, tempat makna dibentuk, diperdebatkan, dan diinternalisasi oleh para aktor. Perdebatan epistemologis antara “menjelaskan” dan “memahami” menjadi titik penting: apakah tugas ilmuwan HI sekadar mencari pola kausal, atau justru menafsirkan makna di balik tindakan politik? Dengan gaya yang jernih, Rosyidin menunjukkan bahwa konstruktivisme tidak menolak penjelasan, tetapi menempatkan pemahaman sebagai syarat awal untuk menjelaskan tindakan sosial.
Dari landasan filosofis tersebut, buku ini bergerak ke konsep identitas sebagai jantung konstruktivisme. Identitas tidak dipahami sebagai sesuatu yang tetap dan esensial, melainkan sebagai hasil relasi sosial yang terus berubah. Negara, dalam perspektif ini, bukan aktor rasional yang kepentingannya sudah “jadi”, tetapi subjek yang membentuk dan dibentuk oleh interaksi dengan aktor lain. Rosyidin dengan cermat menguraikan berbagai tipologi identitas—mulai dari identitas peran, identitas kolektif, hingga identitas normatif—seraya menunjukkan bagaimana perubahan konteks internasional dapat menggeser cara suatu negara memandang dirinya sendiri. Perubahan identitas ini kemudian berimplikasi langsung pada perubahan kepentingan dan kebijakan. Dengan demikian, buku ini menantang asumsi lama bahwa kepentingan nasional bersifat statis dan ahistoris.
Pembahasan tentang norma memperdalam argumen sebelumnya dengan menunjukkan bagaimana identitas dan norma saling bertaut erat. Norma tidak hadir sebagai aturan eksternal yang dipaksakan dari luar, melainkan sebagai produk sosial yang lahir melalui proses interaksi, legitimasi, dan internalisasi. Rosyidin menelusuri bagaimana norma terbentuk, menyebar, dan pada akhirnya memengaruhi perilaku aktor internasional. Yang menarik, hubungan antara norma dan identitas tidak diposisikan secara satu arah. Norma membentuk identitas, tetapi identitas juga menentukan norma mana yang diterima atau ditolak. Di titik ini, konstruktivisme tampil sebagai teori yang peka terhadap dinamika kekuasaan simbolik, tanpa harus terjebak pada determinisme material.
Bahasa kemudian muncul sebagai medium utama tempat realitas sosial dikonstruksi. Dalam pembahasan ini, Rosyidin mengajak pembaca menyadari bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan praktik sosial yang membentuk dunia. Pernyataan politik, pidato diplomatik, dokumen resmi, hingga istilah-istilah kunci dalam HI semuanya memuat asumsi dan kepentingan tertentu. Bahasa tidak netral; ia selalu membawa perspektif. Dengan menautkan landasan filosofis bahasa dan praktik hubungan internasional, buku ini menunjukkan bagaimana interpretasi menjadi kunci dalam memahami konflik, kerja sama, dan perubahan politik global. Realitas internasional, dalam kerangka ini, tidak pernah sepenuhnya “diberikan”, tetapi selalu “ditafsirkan”.
Kekuatan buku ini semakin terasa ketika konstruktivisme dibawa ke ranah penelitian. Rosyidin tidak berhenti pada perdebatan teoretis, tetapi melangkah ke pertanyaan praktis: bagaimana melakukan penelitian konstruktivis? Bagaimana memilih kasus yang relevan, menyusun proposal, dan merancang desain penelitian yang konsisten secara epistemologis? Bagian ini sangat berguna bagi mahasiswa dan peneliti pemula, karena memperlihatkan bahwa konstruktivisme bukan pendekatan yang kabur atau serba interpretatif tanpa pijakan metodologis. Justru sebaliknya, pendekatan ini menuntut ketelitian dalam menelusuri proses sosial, diskursus, dan makna yang bekerja di balik peristiwa internasional.
Dimensi etika menjadi lapisan reflektif yang memperkaya keseluruhan argumen. Rosyidin menempatkan teori HI di antara fakta dan nilai, menolak klaim netralitas absolut ilmu pengetahuan. Konstruktivisme, dalam pandangan ini, memiliki komitmen moral karena ia mengakui bahwa teori selalu membawa implikasi normatif. Cara kita memahami dunia internasional akan memengaruhi cara kita bersikap terhadap ketidakadilan, kekerasan, dan ketimpangan global. Dengan demikian, konstruktivisme bukan hanya alat analisis, tetapi juga sarana refleksi etis.
Pembahasan mengenai praktik kebijakan menutup buku ini dengan nada yang membumi. Hubungan antara teori dan kebijakan digambarkan sebagai dua sisi mata uang: saling terkait dan tidak bisa dipisahkan. Konstruktivisme ditunjukkan relevansinya dalam memahami dan merumuskan kebijakan luar negeri, termasuk dalam konteks Indonesia. Identitas nasional, norma regional, dan bahasa diplomasi menjadi faktor penting dalam menjelaskan arah dan pilihan kebijakan. Dengan contoh-contoh yang kontekstual, Rosyidin berhasil menunjukkan bahwa konstruktivisme bukan teori abstrak yang jauh dari realitas, melainkan lensa yang tajam untuk membaca praktik politik sehari-hari.
Secara keseluruhan, The Power of Ideas adalah buku yang berhasil memadukan kedalaman teoretis dengan kejelasan pedagogis. Gaya penulisannya mengalir, argumentatif, dan tetap bersahabat bagi pembaca yang baru mengenal konstruktivisme. Buku ini tidak hanya memperkaya khazanah teori Hubungan Internasional, tetapi juga mengajak pembaca untuk berpikir ulang tentang apa yang sebenarnya “berkuasa” dalam politik global: bukan senjata atau angka semata, melainkan ide, makna, dan cara manusia membayangkan dunianya.
Identitas Buku

Judul : The Power of Ideas: Konstruktivisme dalam Studi Hubungan Internasional
Penulis : Mohamad Rosyidin
Jumlah halaman: xviii + 300 hlm.
Ukuran : 15,5 x 23 cm
Penerbit : Intrans Publishing
Cetakan Pertama, September 2025
ISBN : 978-623-6529-42-3





















