Moderator dan Pembabar Bedah Buku Mandala Kembang (Pendopo Rumah Dinas Walikota Bandung, 14 Februari 2026)
Launching dan Bedah Buku Mandala Kembang (Pendopo Rumah Dinas Walikota Bandung, 14 Februari 2026)

Bandung, Kamis (13/02/2026) — Peluncuran dan bedah buku Mandala Kembang: Pendapat Sederhana tentang Pikukuh Sunda karya Trie Utami dalam forum Sawala Śukravāra menghadirkan ruang dialog yang hangat dan reflektif. Forum ini mempertemukan akademisi, praktisi pendidikan, budayawan, musisi, dan mahasiswa dalam satu percakapan tentang arah kebudayaan dan pendidikan.

Buku yang diterbitkan Intrans Publishing ini memaknai Pikukuh Sunda sebagai sistem nilai yang membentuk kesadaran tentang hidup, kemanusiaan, dan keselarasan dengan semesta. Dengan bahasa yang cair sekaligus argumentatif, penulis menautkan warisan leluhur dengan logika ilmiah serta pengalaman spiritual. Dari sana terbangun kerangka berpikir yang relevan bagi masyarakat modern.

Dalam paparannya, Trie Utami menjelaskan bahwa buku ini lahir dari pengalaman reflektif dan dorongan untuk membuka ruang belajar tentang manusia melalui lensa Pikukuh Sunda. Ia mengibaratkan bukunya seperti hidangan yang telah disiapkan dengan sungguh-sungguh. “Saya sudah sajikan makanan. Siapa pun yang memerlukannya dipersilakan menikmatinya,” ujarnya. Analogi itu menegaskan keterbukaan gagasan—nilai ditawarkan untuk direnungi dan diolah bersama.

Moderator diskusi, Soni Sonjaya, menyoroti kata “sederhana” dalam judul buku. Menurutnya, kesederhanaan merujuk pada sikap batin penulis dan cara menyampaikan gagasan filosofis secara inklusif. Di balik kesahajaan itu, substansi buku justru menunjukkan kedalaman dan kematangan berpikir.

- Poster Iklan -

Pandangan tersebut diperkaya oleh Budi Dalton, Dekan FISS Universitas Pasundan. Ia menilai Mandala Kembang sebagai pengingat bahwa literatur dan nilai bangsa Indonesia sangat kaya. Konsep Panca Curiga, misalnya, menunjukkan adanya metodologi pencarian dan pengujian kebenaran dalam tradisi Sunda. Kekayaan ini membuka peluang untuk memperkuat fondasi epistemik pendidikan nasional. Itu satu hal saja, masih banyak lainnya yang bisa kita pakai dan tak kalah canggihnya dengan konsep-konsep dari luar.

Menurut Dalton, langkah penting berikutnya ialah mengintegrasikan kearifan budaya ke dalam sistem pendidikan secara lebih sistematis. Nilai tradisi dapat menjadi sumber daya intelektual yang menguatkan karakter dan cara berpikir generasi muda. Berkarya dan tetap berakar, “ini yang dapat kita teladani atas apa yang telah digubah oleh Ceu iie dalam buku Mandala Kembang,” tegas Dalton.

Moderator dan Pembabar Bedah Buku Mandala Kembang (Pendopo Rumah Dinas Walikota Bandung, 14 Februari 2026)
Moderator dan Pembabar Bedah Buku Mandala Kembang –Kiri ke Kanan: Soni Bebek, Trie Utami, Budi Dalton, dan Irfan F. Rizal (Pendopo Rumah Dinas Walikota Bandung, 14 Februari 2026)

Relevansi gagasan buku ini juga tampak dalam praktik kebijakan. Irfan F. Rizal, peneliti dan praktisi pendidikan yang mewakili Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, memaparkan pengalaman pendidikan karakter di Kabupaten Purwakarta. Program tersebut merujuk pada nilai-nilai Pikukuh Sunda dan telah dituangkan dalam Peraturan Bupati Purwakarta Nomor 35 Tahun 2025.

Model pendidikan karakter itu bertumpu pada konsep Panca Nitiniti harti, niti surti, niti bukti, niti bakti, dan niti sajati—yang menekankan tahapan kesadaran dan pembelajaran. Pendekatan ini menunjukkan bahwa nilai budaya dapat diterjemahkan menjadi desain sistem pendidikan yang berdampak luas dan membentuk manusia secara utuh.

Gagasan tersebut sejalan dengan pandangan Dedi Mulyadi tentang pentingnya memahami sejarah dan asal-usul manusia sebagai dasar membangun keselarasan hidup. Dalam kerangka ini, Pikukuh Sunda hadir sebagai horizon etis yang membimbing arah pembangunan dan pendidikan.

Launching Simbolis Penandatanganan Pigura Buku Mandala Kembang karya Trie Utami

Forum Sawala Śukravāra juga dihadiri berbagai kalangan. Diskusi berlangsung dinamis. Salah satu tanggapan datang dari Purwa Tjaraka yang menekankan pentingnya mengenali identitas budaya sebagai sumber kepercayaan diri kolektif. Kesadaran akan akar budaya, menurutnya, melahirkan kreativitas dan keteguhan sikap.

Percakapan malam itu menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas dapat bertemu dalam dialog yang produktif. Nilai budaya memberi arah etik, sementara kebijakan dan pendidikan menghadirkan ruang implementasi. Dari perjumpaan itulah lahir kerja kolektif yang berorientasi pada pembentukan manusia berkarakter. Selain itu, kita kembali diingatkan bahwa kearifan budaya yang sering kali dilabeli kata “lokal” itu taraf dampaknya justru bisa mengglobal-universal.

Pada akhirnya, peluncuran Mandala Kembang menjadi undangan untuk menempatkan kembali nilai-nilai Sunda dalam kehidupan—baik di ruang akademik, kebijakan pendidikan, maupun praktik keseharian yang tiada jeda perlu diuji dan dikontekstualkan.

Sampurasun!

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here