Rasanya baru saja pada akhir 2025 kemarin, kita mendapati rasa sedih ketika MTV (Music Television) sebagai salah satu penanda zaman (zeitgeist) harus menutup panggung kehidupannya di jagad hiburan. Kini, di awal tahun 2026 yang masih berjalan beberapa hari, kita kembali dihadapkan salah satu kenyataan, berpisah dengan si robot kucing dari abad ke-22, bernama Doraemon yang telah hadir selama 3,5 dekade melalui salah satu kanal layar kaca bernama RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia).

Perpisahan Doraemon dengan RCTI mungkin tampak sebagai urusan bisnis media biasa. Namun bagi jutaan orang Indonesia—terutama mereka yang tumbuh pada 1990-an dan awal 2000-an—peristiwa ini menyentuh wilayah yang jauh lebih personal. Ia bukan sekadar hilangnya satu program televisi, melainkan memudarnya satu pengalaman generasional yang pernah menyatukan, yakni ingatan tentang masa kecil, tentang rumah, dan tentang keluarga.

INGATAN KOLEKTIF SEBUAH GENERASI

Dalam perspektif studi generasi, Karl Mannheim menyebut bahwa sebuah generasi tidak hanya dibentuk oleh kesamaan usia, tetapi oleh pengalaman sosial dan kultural yang dialami bersama pada masa formatif. Doraemon di RCTI adalah salah satu pengalaman itu. Ia hadir secara konsisten melalui dubbing bahasa Indonesia hingga jam tayang yang sakral: Minggu pagi, hari libur (meski awalnya Doraemon tayang perdana di hari Rabu sore). Semua anak tahu waktunya, tanpa perlu pengingat digital. Cepat atau lambat, Doraemon menjadi “milik bersama” masyarakat Indonesia.

- Poster Iklan -

Menonton Doraemon kala itu bukan aktivitas individual. Ia adalah pengalaman kolektif. Anak-anak menontonnya bersama saudara, sepupu, atau tetangga. Keesokan harinya, episode terbaru menjadi bahan obrolan di sekolah. Nilai-nilai sederhana—persahabatan, kegagalan, rasa malas, dan keinginan untuk hidup lebih mudah—diterjemahkan melalui Nobita dan kantong ajaib Doraemon.

Dalam perspektif sosiologi keluarga, serial Doraemon membentuk emotional bonding yang halus namun kuat. Kebersamaan tidak selalu harus melalui percakapan mendalam, kadangkala cukup dengan berbagi kehadiran. Doraemon menjadi latar emosional bagi banyak keluarga Indonesia—sebuah suara yang menandai saat libur telah tiba, kepulangan, dan rasa aman.

RCTI, dalam konteks ini, bukan sekadar stasiun televisi. Ia adalah institusi kultural yang membingkai cara generasi tertentu mengenal dunia hiburan. Televisi nasional berperan sebagai “penjaga gerbang” yang hadir untuk menjembatani budaya global dengan ruang domestik keluarga Indonesia. Dalam antropologi, budaya tidak hanya hadir dalam bentuk tradisi adat atau upacara sakral, tetapi juga dalam produk budaya populer. Doraemon adalah artefak budaya Jepang yang mengalami proses lokalisasi di Indonesia. Setiap Minggu pagi, ruang tamu berubah menjadi ruang kultural tempat nilai-nilai persahabatan, kejujuran, kegagalan, dan harapan—yang dialami Nobita—diterjemahkan ke dalam pengalaman anak-anak Indonesia.

PERGESERAN GENERASI DAN CARA MENGONSUMSI BUDAYA

Kini, lanskap ini berubah drastis. Generasi hari ini hidup dalam dunia media yang sepenuhnya berbeda. Mereka tidak menunggu jam tayang, tidak bergantung pada satu saluran, dan tidak berbagi pengalaman menonton yang sama secara luas. Konsumsi budaya kini bersifat personal, berbasis gawai, dan dikendalikan algoritma.

Di sinilah pemikiran Arjun Appadurai tentang globalisasi budaya membantu menjelaskan perubahan ini. Arus budaya global kini bergerak cepat dan tidak lagi terpusat. Mediascape dan technoscape membuat budaya hadir di mana saja, kapan saja, tetapi sering kali tanpa pengalaman bersama. Doraemon tetap ada, tetapi tidak lagi menjadi peristiwa kolektif.

Doraemon tidak hilang dari Indonesia. Ia hanya berpindah medium. Namun perpindahan ini membawa konsekuensi sosial: hilangnya pengalaman menonton yang serentak dan kolektif. Globalisasi budaya yang dulu terasa “bersama” kini menjadi pengalaman individual. Anak-anak menonton Doraemon, tetapi tidak lagi dalam ruang sosial yang sama.

Reaksi nostalgia yang merebak di media sosial menunjukkan kegelisahan generasional. Generasi lama tidak sekadar merindukan kartun, tetapi merindukan cara hidup: dunia yang terasa lebih lambat, lebih teratur, dan lebih mudah dipahami. Nostalgia, dalam konteks ini, adalah upaya mempertahankan ingatan kolektif di tengah dunia yang terus berubah.

RCTI dan Doraemon pernah berada dalam relasi simbiotik: stasiun televisi mendapat loyalitas pemirsa, sementara Doraemon memperoleh legitimasi sebagai tontonan “keluarga”. Namun, dalam ekosistem media yang berubah, hiburan bergerak ke layar-layar pribadi maka relasi itu tidak lagi relevan secara ekonomi maupun struktural.

Perpisahan Doraemon dengan RCTI juga menandai melemahnya peran televisi nasional sebagai perekat sosial lintas kelas dan wilayah. Dulu, satu tayangan bisa ditonton bersamaan oleh anak-anak di kota dan desa, di rumah sederhana maupun kompleks perumahan. Kini, pengalaman budaya semakin tersegmentasi. Setiap kelompok memiliki dunianya sendiri.

Ini bukan soal mana yang lebih baik atau lebih buruk, tetapi pada perubahan struktur sosial dan budaya. Namun penting untuk disadari bahwa hilangnya pengalaman bersama berarti berkurangnya ruang dialog antargenerasi. Ketika referensi kultural semakin berbeda, percakapan bersama pun semakin sulit terbangun.

BUKAN AKHIR, MELAINKAN TRANSFORMASI

Pada akhirnya, perpisahan Doraemon dengan RCTI, bukanlah akhir kisah si robot kucing dan kantong ajaib melainkan sebuah simbol transformasi zaman. Ia mengingatkan kita bahwa budaya populer tidak pernah netral. Ia membentuk ingatan, identitas, dan rasa kebersamaan. Tak hanya itu, melalui Doraemon kita belajar tentang rumah, tentang suasana Minggu pagi yang terasa lengkap karena semua orang berada dan memiliki “tempat” yang sama.

Kini, ketika Doraemon pergi dari RCTI, yang benar-benar kita rindukan mungkin bukan tayangannya, melainkan rasa pulang yang dulu terasa begitu sederhana. Pun juga sebongkah kenangan bahwasanya Doraemon di RCTI adalah bagian dari sejarah kultural Indonesia—sebuah pengingat bahwa tayangan sederhana pun bisa membentuk makna bersama, identitas generasi, dan rasa kebersamaan yang sulit tergantikan.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here