Tangga
Aku terbangun di sebuah tangga
Tangga itu mendaki ke atas
Tangga yang tidak pernah selesai
Meliuk seperti pita mobius.
Aku mulai menaiki satu anak tangga
Tetapi tiba-tiba anak tangga di bawahku
Menjelma kucing hitam yang mendesah lapar.
“Aku tidak bisa dipijak selamanya,”
Katanya, lalu berubah menjadi sandal jepit.
Mendadak saja aku sudah memakai sandal itu
Meski aku yakin sebelumnya aku bertelanjang
Kaki.
Di atas sana
Seseorang berseru,
“Cepat naik, kau terlambat
Menjadi dirimu sendiri!”
Aku menoleh
Ternyata yang memanggilku adalah diriku
Tetapi lebih tua lima belas tahun
Dengan rambut yang setengah abu-abu.
Aku ingin bertanya banyak hal
—apakah aku akan menikah?
Apakah aku akan bahagia?
Apakah aku akan mati di tangga ini?
—tapi mulutku sudah dipenuhi huruf-huruf.
“A, B, C…”
Tumpah ke lantai tangga
Menggulung seperti ombak alfabet.
Aku hampir tenggelam
Sampai tiba-tiba jendela muncul di udara
Membuka diri begitu saja
Aku melompat ke dalam jendela itu.
Di dalam jendela
Aku berada di sebuah pasar
Semua orang menjual benda yang sama:
Jam dinding
Jam tanpa jarum.
Seorang pedagang berbisik padaku,
“Waktu tidak akan berputar sampai kau
Menukarnya dengan ingatan yang paling sakit.”
Aku merogoh saku celana
Di sana ada hujan
Aku memberikannya pada pedagang itu
Ia tertawa, “Kau bodoh. Hujan bukan ingatan.
Hujan adalah tubuhmu sendiri yang menetes.”
Aku menoleh ke belakang:
Ternyata aku sudah transparan
Tubuhku rembes, bocor, menetes.
Orang-orang pasar menaruh ember
Di bawah kakiku
Menampung tetes-tetes itu
Lalu menjualnya kembali sebagai air minum.
Seorang anak kecil menenggak air itu
Dengan lahap
Wajahnya berubah menjadi wajahku
Sendiri sewaktu kecil
Ia menatapku sambil tersenyum dengan
Gigi ompong, lalu berkata,
“Terima kasih sudah mengembalikan aku.”
Aku berlari meninggalkan pasar
Tetapi jalanan tidak pernah lurus
Jalan itu berubah menjadi halaman buku
Setiap langkah kakiku menimbulkan
Bunyi seperti membuka lembaran.
Di halaman 𝚔𝚎-35
Aku terantuk pada sebuah kalimat
Yang melompat keluar:
“Tidak ada yang benar-benar bangun
Dari mimpi, hanya berpindah dari satu
Mimpi ke mimpi lain.”
Aku mencoba merobek halaman itu
Tetapi jariku berubah menjadi pensil
Aku menulis diriku sendiri
Menulis tubuhku
Menulis tangisku
Lalu kertas itu menyerapku masuk
Ke dalam tinta.
Aku kini hanyalah noda hitam
Noda hitam di dinding kamar seorang anak
Yang sedang belajar menggambar.
Anak itu tidak lain adalah aku
Tetapi ia tidak mengenaliku
Ia menghapusku dengan penghapus karet
Dan aku menjadi serpihan abu
Yang beterbangan.
Angin membawa serpihan itu
Ke sebuah sungai
Sungai yang mengalir ke langit
Ikan-ikan berenang ke atas
Burung-burung menyelam ke dalam air.
Aku hanyut bersama mereka
Sampai tiba di pintu rumah
Yang melayang di angkasa
Aku mengetuk pintu itu
Dan ibuku yang membukakannya.
Namun ia bukan ibuku
Ia adalah jam dinding tanpa jarum
Yang bisa bicara.
“Aku sudah memperingatkanmu,” katanya.
“Bahwa waktu hanya ilusi
Kau terlalu lama mencari arah,
Padahal tangga itu tidak pernah naik,
Tidak pernah turun.
Ia hanya berputar di dalam kepalamu.”
Aku ingin menangis
Tetapi air mataku sudah habis
Sudah dijual di pasar tadi.
Yang tersisa hanyalah tawa
Tawa itu keluar dari mulutku
Tanpa kendali, bergema, pecah,
Dan dari pecahan tawa itu muncul ratusan pintu.
Aku membuka satu pintu:
Di dalamnya ada tangga
Aku membuka pintu lain:
Di dalamnya ada tangga juga.
Aku membuka pintu berikutnya:
Tetap tangga, tangga, tangga.
Akhirnya aku sadar
Aku tidak pernah benar-benar keluar
Aku selalu kembali
Aku jatuh di dalam mimpi lain.
Aku jatuh di dalam mimpi lain.
Aku jatuh di dalam mimpi lain.
Dan sampai sekarang aku belum tahu
Apakah tangga itu sedang membawaku ke atas
Ataukah aku hanya sedang turun ke dalam
Diriku sendiri yang tak pernah selesai.
Makassar, September 2025
Daun Gugur di Malam Musim Dingin, 1896
Malam musim dingin melarung sebuah pesan
“Sehelai daun menggantung lemah di ranting kerdil”
Seketika langit menutup mata
Dan seorang perempuan menundukkan kepala
—menekuri tatami tua
Angin mengantar aroma yuzu
Tidak tergesa-gesa
Tidak juga menunda-nunda
Ia datang dengan anggun dan penuh rasa hormat
Melalui lubang dinding kertas yang koyak
Dan nyala lilin meliuk pelan
Sebuah batuk melenting ke udara
Membawa serta kata-kata dari
tinta gadis muda berkimono pudar
—Takekurabe yang lirih
Hawa sejuk menggelinding dari puncak Fuji
Derunya mencatat waktu yang murung:
Sehelai daun gugur
di malam musim dingin, 1896
Makassar, 2025.
Buronan Sepi
Jangan bilang-bilang
perempuan itu sedang melarikan diri ke Kanagawa-Oki Nami Ura
karena baru saja menikam sepi
yang mencekik Van Gogh
dalam Starry Night.
Jika peluru bertanya
katakan saja, “Angin membawa perempuan itu”
tidak usah khawatir peluru akan mendatangi angin
sebab angin tidak punya alamat
ia hanya singgah sebentar di Windmill at Wijk bij Duurstede.
Makassar, 2025.
Hujan di Dadamu
Hujan yang membuat cekungan kecil di tanah
—di bawah atap teras rumahmu
bukanlah hujan yang turun di tahun 1946
tapi kau mengenali hujan dengan satu nama
yang tak pernah bisa diwakilkan kata-kata.
Yang seharusnya kau kenang adalah api
yang merayap—menggigit kota
tapi api tak membekas seperti cekungan hujan di bawah atap
apakah api telah menjelma debu di kepalamu?
Di bola matamu yang bening dan lugu, api berkobar
membakar surat-surat milik ayahmu
sebagaimana api menjilati Societeit Concordia
Bukan kabut yang lindap di udara
tapi asap dan, reruntuhan yang hitam
lalu hujan turun, kau menangis
mengais-ngais kota
mencari ayahmu di antara arang
Makassar, 2025.
Malam, Ijinkan Saya Tidur
Malam, jangan biarkan saya begadang
beri saya resep tidur tanpa mimpi
karena mimpi sudah menggeledah saya
saya dituduh menyembunyikan senjata di dalam buku
“Angkat tangan!”
saya terkejut—dan tak bisa tidur lagi
Malam, ijinkan saya tidur
tanpa harus takut dicurigai mimpi
saya bukan pemberontak
cuma pemuda yang suka membaca
lalu belajar berkata-kata
Makassar, 2025.
Hujan di Yogyakarta, 1949
Hujan turun pelan-pelan
Seperti seseorang yang menggumam
Aku duduk di serambi
Mendengar kota berpindah tangan
Dari moncong senapan ke ujung pena
Bapak Bangsa menandatangani sesuatu di meja kayu
Yang bukan surat cinta
Tetapi terasa mirip:
Sama-sama membuat dada berdebar
Dan negara menjadi hening dan jernih
Seekor kucing melintas
Mengendus bau tinta
Dan tertidur di samping peta negara
Barangkali ia merasa
Sejarah kadang menjadi tempat yang hangat untuk berbaring.
Makassar, 2025.





















