Pernahkah Anda menyempatkan diri untuk duduk diam di depan rak buku masa kecil, membiarkan debu-debu tipis yang menempel di punggung buku fabel itu luruh, dan bertanya: mengapa dunia orang dewasa terasa begitu melelahkan dan penuh sekat?
Kita tumbuh besar dengan keyakinan yang kaku. Kita mematok batas-batas dengan pongah: merah bermaakna amarah, Antartika adalah simbol kebekuan, dan sastra anak—dengan segala kepolosan diksinya—hanya menjadi residu. Ia diletakkan di sudut paling tersembunyi sebagai pengantar tidur yang fungsinya seringkali menciut menjadi sekadar alat didaktis atau hiburan ringan bagi bocah-bocah sebelum terlelap.
Namun, Ari Ambarwati melalui Melampaui Sastra Anak (2024), mengajak kita menempuh sebuah perjalanan balik yang sunyi menuju kedalaman ingatan. Ia tidak sekadar membedah baris-baris narasi di atas kertas. Lebih jauh, Ari melakukan semacam arkeologi batin, tempat menggali kembali lapisan-lapisan ingatan kita yang retak dan tertimbun oleh debu-debu pragmatisme orang dewasa.
Dalam upaya memungut kepingan-kepingan empati yang sempat kita abaikan, Ari menuntun tangan kita untuk menyentuh kembali sisi kemanusiaan yang paling murni. Baginya, sastra anak bukan lagi sekadar ruang hampa tempat tokoh-tokoh fabel bermain. Ia adalah rahim ideologis, sebuah fondasi tempat identitas dan nilai budaya disemaikan jauh sebelum kita mengenal hiruk-pikuk dunia orang dewasa. Di balik diksi yang tampak polos dan lugu, Ari membongkar adanya muatan politis yang kuat. Sebuah struktur simbolik yang secara sadar atau tidak, sedang memahat cara kita memandang sesama dan semesta.
Sebagaimana ia tuliskan dengan tajam:
“Membaca kembali cerita anak berpotensi menjadi aktivitas politis karena di dalamnya terdapat subteks dan simbolisme yang memengaruhi pandangan serta identitas pembacanya.” (hlm. 105).
Dalam esai-esainya yang presisi namun tetap memancarkan kehangatan, Ari seolah sedang menelanjangi asumsi kita yang angkuh perihal sastra anak. Ia membongkar lapisan demi lapisan prasangka yang selama ini mengurung narasi bocah dalam kotak “hiburan semata”. Ari mengingatkan kita bahwa di balik kalimat-kalimat lugu tentang hewan yang bicara atau petualangan di rimba raya, tersimpan kritik sosial yang tajam, yang sering kali jauh lebih jujur ketimbang manifesto orang dewasa.
Salah satu momen paling menohok hadir ketika Ari membedah cerpen Gus Mus yang berjudul “Awas Manusia”. Di tangan Ari, kisah tentang anak singa dan anak bebek yang tertawan dalam kurungan manusia ini tidak lagi sekadar menjadi cerita tentang satwa yang terperangkap. Ia bertransformasi menjadi sebuah cermin yang memantulkan potret buram kemanusiaan kita sendiri. Melalui nasib dua mahluk malang tersebut, Ari menunjukkan betapa seringnya kita sebagai spesies yang merasa paling beradab justru menjadi predator.
“Di antara lembaran-lembaran tuturan Gus Mus tentang bebek dan singa muda, tersembunyi releksi mendalam tentang hubungan kekuasaan dan kerentanan.” (Hlm. 100)
“Pembacaan ulang cerita anak menjadi medium untuk menimbang perbedaan antara masa lampau yang ideal dan realitas dewasa, juga mengangkat kritik sosial yang mendalam” (Hlm. 107).
Saya menyadari buku ini menarik karena tidak berusaha mengintimidasi dengan jargon-jargon teoretis yang dingin. Ari memilih jalan yang “akrab”. Ia meramu cerita jenaka dan narasi sejarah dengan bahasa yang mengalir, seperti menyeduh teh di sore hari yang teduh. Membaca buku ini adalah upaya menangkap isu-isu kompleks tanpa kehilangan rasa kemanusiaan kita.
Di tengah disrupsi yang seolah tak berujung, Ari mengajak kita menaruh telinga pada bisikan-bisikan masa kecil yang mungkin telah lama teredam oleh ego kedewasaan.
“Saat kita menavigasi kompleksitas kehidupan modern dengan disrupsi di segala lini kehidupan, fiksi anak-anak menawarkan pengingat seperti yang disampaikan Christopher Robin kepada Pooh: ‘Kau lebih berani daripada yang kau percayai, lebih kuat daripada yang kau tampakkan, dan lebih cerdas daripada yang kau pikirkan.’” (Hlm. 108).
Pada akhirnya, Melampaui Sastra Anak bukan sekadar buku bacaan yang mengisi waktu senggang. Ia adalah manifesto kecil yang mengajak kita untuk menziarahi kembali masa lalu bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai cermin. Ari mengingatkan bahwa sastra anak adalah fondasi yang sering kali retak karena kita terlalu sibuk menjadi “dewasa”.
“Bagi orang dewasa, membaca cerita anak memfasilitasi, menyegarkan pengalaman dan membuka mata karena cerita-cerita tersebut seringkali menyajikan perspektif yang berbeda dari narasi dominan yang telah terinternalisasi dalam pikiran orang dewasa.” (Hlm. 26).




















