Museum Trauma
Kau melangkah ke aula berkabut,
lantainya berlumur nadi yang membatu.
Setiap ubin adalah jerit,
setiap dinding memantulkan desah tercekik.
Ruang pertama menunggu dengan vitrin kaca,
di dalamnya tergeletak gaun koyak,
masih berlumuran aroma tubuh yang dipaksa.
Ada noda yang tak pernah kering,
ada benang yang tercabut bebarengan ingatan.
Label kecil di bawahnya berbunyi:
“Pameran Ketakberdayaan.”
Lorong kedua lebih sesak.
Di kanan-kiri, kursi kecil berjejer rapi,
semuanya kosong,
kecuali bayangan anak yang duduk tanpa wajah.
Suaranya lirih,
memanggil nama yang tidak pernah dijawab.
Kurator berbisik: “Inilah ruang kehilangan.”
Langkahmu gemetar,
lalu sampai di galeri terakhir,
dinding penuh foto-foto patah.
Wajahmu sendiri ada di sana,
dibelah, disobek, ditusuk, disusun ulang.
Kepalamu di satu bingkai,
dadamu di bingkai lain,
mulutmu dipajang terbuka,
seolah masih menjerit.
Museum ini tidak menyediakan pintu keluar.
Hanya tangga berdebu yang berputar kembali
ke pintu masuk semula.
Setiap kali kau mencoba pergi,
kau akan berjumpa lagi dengan gaun,
kursi kecil,
dan potret yang digantung dengan paku berkarat.
Kurator tersenyum di balik kaca,
“Selamat datang kembali,
pengunjung setia,
kau akan berputar di sini selamanya.”
2025
Kota Terkunci
Bayangkan sebuah kota
yang tidak pernah kau tinggalkan,
meski kau berlari puluhan tahun.
Jalannya berlapis kabut besi,
setiap tikungan memuntahkan gang buntu.
Gedung-gedungnya menjulang tanpa jendela,
pintu-pintunya hanya menuju pintu lain.
Di alun-alun berdiri jam raksasa,
jarumnya berputar terbalik,
menelan menit ke dalam hampa.
Orang-orang berdiri di sekelilingnya,
semuanya mengenakan wajahmu,
semuanya menatapmu
tanpa berkedip.
Trauma menyerupai kota ini,
ruang yang menyusun dirinya terus-menerus,
setiap kali kau mencari jalan keluar,
satu dinding baru tumbuh
menghadang langkah.
Kau berjalan sampai lutut berdarah,
kau mengetuk pintu yang tak pernah terbuka,
kau berteriak di tengah lapangan kosong,
dan gema suaramu kembali
sebagai teriakan orang lain.
Akhirnya kau menyadari,
kota itu bukan di luar tubuhmu,
kota itu adalah kepalamu sendiri.
Setiap bangunan adalah ingatan,
setiap jalan adalah saraf,
setiap wajah adalah serpihan dirimu
yang tak pernah berhasil kabur.
Dan kau,
selalu terbangun di tempat yang sama,
selalu menjadi warga tetap,
selalu dihukum untuk tinggal
di kota yang terkunci.
2025
Memperkosa Diri
Tubuhku menindih tubuhku,
peluh bercampur peluh,
dada menghantam dada
hingga tulang berderak seperti pintu karat.
Tangan menyusuri lenganku
bukan dengan mesra,
melainkan mencengkeram seperti penjagal,
meremas sendi sampai berderit.
Pinggulku menggempur pinggulku,
gerakan berulang
tak ubahnya mesin berkarat
yang memaksa kenikmatan busuk
menjadi hukuman.
Aku menciumi bibirku sendiri
sampai pecah berdarah,
menjilat asin dagingku
seperti hewan lapar yang terjebak kandang.
Rongga tubuh kubuka paksa,
kujejalkan diriku ke dalamnya,
hingga jeritanku sendiri
memantul di dinding kepala.
Tiada orgasme,
hanya luka yang menjalar,
menyulut setiap syaraf
hingga menjelma arang.
Di ujungnya aku tergeletak,
terbuka, terenggut, terpotong,
sementara aku yang lain
masih bergoyang di atas,
tertawa tanpa suara,
menyetubuhi bangkaiku sendiri.
2025
Berhala Bernama Aku
Aku membangun altar dari dagingku sendiri,
menegakkan kepala di atas leher
sebagai patung suci.
Setiap tetes keringat kusebut air suci,
setiap ludahku kusebut wahyu.
Aku bersujud pada bayanganku di cermin,
mencium kaki yang busuk,
menyembah pusar yang berlumur lemak,
meminum kencingku sendiri
sebagai sakramen palsu.
Dan ketika tubuh ini roboh,
berhala bernama aku pun pecah
meninggalkan bau tengik
yang menyesaki paru siapa pun
yang berani menghirup keangkuhan ini.
2025