Versus
Setelah usang merah dan hitam saling mangsa
dan berbagai cara menua.
Pun berlarut-larut dalam perundingan mengikis usia.
Kita menanam rambut dan jarum di senja yang sama.
Merapal mantra berbisa
dalam bau dupa merajah udara
di depan tumbal beraneka rupa.
Sampai tengah malam di musim pancaroba.
Lintah menyusup di ambang pintu kamarmu.
Bola api mengelilingi atap rumahku.
Menunggu
Kau
Aku
dimamah nestapa
Api
Ia berupaya memadamkan api namrud dengan api dari jantungnya.
Ia pun telah mengenakan zirah, yang telah mengarungi berpuluh pertempuran,
dan selalu berakhir menang.
Tapi kali ini gagal, bukan karena koyak, seutas benang mengirisnya.
Dan ia tenggelam di tubuhku.
“Tubuhmu lebih indah dari kisah jurnal penelitian, laporan ekspedisi ilmiah,
film dokumenter National Geographic.”
“Di sini gelap gulita, juga banyak gelombang ganas dan arus buas,” kataku.
“Tak ada lagi tempatku selain di sini, tapi tubuhmu milik api namrud,
yang berkobar abadi, meski api di jantungku tumbuh kembali di jantung yang lain.”
Peniti
Dari sebatang pohon purba di padang sabana, kupetik sebuah peniti.
Lalu kubawa pulang ke tubuhku.
Di tengah perjalanan, seekor kobra, yang baru saja mengambil taringnya
dari wadah ramuan racun, bertanya,
“Kau hendak melukai siapa?”
“Tak ada. Aku akan merawatnya hingga melukai diriku sendiri.”
“Belajarlah bermain catur.”
Peniti itu mengalir di pembuluh darah orang-orang yang mabuk berjual beli sabda.
Mereka membelinya pada sebuah toko yang juga menjual sirip hiu dan botol api.
Menurut sebuah video dari saluran YouTube dengan pengikut jutaan,
toko itu milik seorang pemengaruh berjubah.
Ia merekam lidahnya menjelma api, membakar semua yang beda
dengan ukuran jubahnya.
Peniti itu pun keluar melalui jendela rapuh di tubuhku
menuju halaman-halaman manga dan permainan roblox.

















