Kalau boleh jujur, buat masuk ke dunia tulis-menulis itu susahnya minta ampun. Mulai dari belajar lewat YouTube, nulis rutinan di buku catatan harian, sampai daftar kelas kepenulisan. Kadang, semua itu jadi enggak ada gunanya pas mulai mencoba nerbitin naskah tulisan di media daring yang malah langsung ditolak. Pertama kali memang wajar. Tapi siapa sih yang enggak kesal? Aku sih awalnya kesal, tapi sejak nonton film satu ini, pandanganku dalam melihat dunia tulis-menulis langsung berubah total.
Nah, enggak usah bertele-tele lagi, kali ini aku punya rekomendasi film yang lumayan nendang buat yang ingin belajar menulis dan mengenal dunia tulis-menulis, tapi selalu kalah sama rasa malas. Judulnya Rebel in the Rye (2017). Film ini bukan cuma menghibur, tapi juga menyelipkan pelajaran berharga buat menulis. Enggak ada istilah teknis yang ribet seperti, “gagasan utama” atau, “kerangka tulisan”—yang malah lebih cocok jadi kisi-kisi ujian bahasa Indonesia.
Naskah, Amarah, dan Mesin Ketik
Rebel in the Rye diangkat dari kisah nyata; cerita hidupnya si J.D. Salinger, penulis yang ngetop lewat novel The Catcher in the Rye di tahun 1950-an. Ini bukan film biografi yang dibungkus ala dokumenter membosankan. Film ini lebih mirip surat cinta buat semua orang yang pengin nulis tapi malah terjebak di dalam dunia ekspektasi dan trauma karena sering ditolak sama tim redaksi.
Jadi, ada anak muda bernama Jerry—nama Salinger di film—yang punya cita-cita pengin jadi penulis, tapi malah enggak disetujui sama bapaknya. Kata bapaknya, “Nulis itu bukan kerjaan. Mending kamu jadi pebisnis saja!” Klasik banget. Tapi Jerry beruntung, karena ada ibunya yang beda aliran pemikiran. Ibunya malah mendukung.
Jerry akhirnya masuk Columbia University dan ketemu Whit Burnett—dosen yang lebih mirip pelatih UFC karena suka buat babak belur calon penulis. Whit ini bisa dibilang sih bukan semacam dosen PHP yang suka bilang, “Nanti saya baca ya,” lalu menghilang. Dia tahu betul kalau belajar menulis itu bukan soal bermain kata-kata indah, tapi juga soal keberanian buat jujur. Dia juga sering meluluhlantakkan mental calon penulis yang baru saja nulis selarik kalimat sudah merasa hebat seperti Dostoyevsky, tujuannya jelas bagus supaya calon penulis tetap membumi.
Aku Marah, Maka Aku Menulis
Satu adegan yang paling menancap di kepalaku adalah ketika Jerry ditanya sama Whit Burnet begini, “Kenapa kamu menulis?” dan tanpa tedeng aling-aling Jerry jawab, “Karena aku marah.” Simpel, tapi bermakna banget.
Kita sering merasakan banyak hal—kesal, bingung, cemas, muak, dan pengin teriak di jalan raya. Tapi semua unsur emosi itu cuma bisa numpuk di kepala. Nah, si Jerry beda, dia nulis malah buat menyingkap itu semua. Jadi, bukan buat eksis, apalagi buat cari validasi, tapi karena dia enggak punya pilihan lain selain menulis biar tetap waras. Dari situ, kita bisa belajar. Bahwa menulis lebih dari sekadar melabuhkan kata-kata.
Jalan Menulis Itu Bukan Jalan Tol
Naskah tulisan si Jerry pun sering banget ditolak dan parahnya dicuekin. Whit Burnett selalu bilang, “Belum bagus,” dan, “Benerin dulu,” ke Jerry, tapi Jerry enggak baper, enggak bikin thread keluhan, apalagi pensiun dini jadi seleb tiktok. Dia malah lanjut belajar, bukan karena yakin pasti sukses, tapi karena dia tahu, “Kalau berhenti sekarang, semuanya sia-sia.”
Proses nulis kreatifnya Jerry juga jauh dari istilah estetik. Enggak ada kopi americano ataupun stiker motivasi di mejanya. Yang ada ya cuma mesin ketik yang nyaris rusak karena sering dibanting dan lantai kamar yang diwarnai naskah tulisannya yang gagal. Nah dari situ kita tahu, kalau belajar menulis itu bukan tentang tampil artistik di coffee shop, tapi tentang duduk diam, ngetik, salah, ngetik lagi. Begitu saja sudah.
Jadi, Mau Nunggu Apalagi?
Rebel in the Rye cocok buat kamu yang masih terjebak di fase, “Pengin nulis, deh, tapi bingung mulai dari mana, ya?” film ini bukan solusi instan ibarat pop mie yang Cuma butuh tiga menit langsung mateng, tapi semacam tonjokan-tonjokan kecil yang seakan-akan bilang gini, “Kalau memang ingin menulis, ya tinggal menulis saja. Gagal ya wajar. Yang penting jalan.”
Jadi, stop menampung rasa malas. Cepat ambil kertas, pena, atau buka laptop. Ketik satu kata atau dua kata sampai bisa bikin kalimat. Enggak perlu perfect. Enggak perlu ngarep dibaca. Yang penting, ditulis saja dulu. Dan kalau kamu butuh tamparan biar sadar dan bersemangat, coba tengok lah si Jerry. Lihat bagaimana dia bikin karya bukan karena hidupnya enak-enak saja, tapi justru karena hidupnya yang berantakan.