Pasuruan – Di lereng Gunung Bromo, tepatnya di Dusun Wonomerto, Desa Tosari, Kabupaten Pasuruan, berdiri Rumah Konservasi Bala Daun Mertasari, sebuah ruang edukatif dan pelestarian yang lahir dari kepedulian masyarakat lokal terhadap kelestarian alam dan budaya Suku Tengger. Kehadiran rumah konservasi ini menjadi ikhtiar bersama dalam menjaga warisan alam sekaligus nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur masyarakat Tengger.
Berada di kawasan pegunungan yang rentan terhadap kerusakan lingkungan, Rumah Konservasi Bala Daun Mertasari hadir sebagai respon atas meningkatnya ancaman degradasi alam, perubahan iklim, serta tekanan pariwisata massal di kawasan penyangga Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Rumah konservasi ini tidak hanya menjadi simbol kepedulian, tetapi juga ruang nyata bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam upaya pelestarian.
Fokus utama kegiatan Rumah Konservasi Bala Daun Mertasari adalah program penanaman pohon berkelanjutan di kawasan lereng dan lahan penyangga permukiman warga. Program ini dijalankan sebagai langkah konkret untuk menjaga keseimbangan ekosistem pegunungan, mencegah erosi tanah, serta melindungi sumber mata air yang menjadi penopang kehidupan masyarakat Tosari dan sekitarnya.

Penanaman pohon dilakukan secara terencana dan bertahap dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari masyarakat setempat, pemuda desa, pelajar, hingga relawan dari luar daerah. Keterlibatan banyak unsur ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama terhadap kelestarian lingkungan. Jenis pohon yang ditanam pun disesuaikan dengan karakter lingkungan pegunungan, antara lain cemara, mentigi, kesek, dan kopi arabica.
Tanaman-tanaman tersebut dipilih karena memiliki fungsi ekologis penting, seperti mengikat tanah untuk mencegah longsor, menyerap dan menyimpan air, serta menjaga kestabilan ekosistem alami di lereng Bromo. Selain manfaat lingkungan, penanaman pohon juga menjadi sarana edukasi tentang pentingnya memilih tanaman yang sesuai dengan kondisi alam setempat.
Sebagai bagian dari edukasi dan dokumentasi konservasi, Rumah Konservasi Bala Daun Mertasari menerapkan sistem barcode pohon. Setiap pohon yang ditanam diberi label berupa barcode yang memuat informasi jenis pohon, tanggal penanaman, lokasi tanam, serta pihak yang terlibat. Barcode tersebut dapat dipindai menggunakan gawai, sehingga masyarakat dan pengunjung dapat mengenali identitas pohon sekaligus memantau keberadaannya.
Penerapan barcode pohon ini menjadi pendekatan edukatif yang sederhana namun efektif. Dengan adanya identitas pada setiap pohon, penanaman tidak berhenti pada aktivitas seremonial, tetapi berlanjut pada upaya perawatan dan pemantauan jangka panjang.
Ketua pengelola Rumah Konservasi Bala Daun Mertasari, Kariadi, menjelaskan bahwa kegiatan penanaman pohon berangkat dari kesadaran kolektif masyarakat Tengger dalam menjaga hubungan harmonis dengan alam.
“Alam bagi masyarakat Tengger bukan sekadar ruang hidup, tetapi bagian dari identitas dan spiritualitas. Menanam pohon adalah cara kami menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya,” ujarnya.
Selain menjalankan program konservasi lingkungan, Rumah Konservasi Bala Daun Mertasari juga sebagai ruang belajar dan edukasi bagi masyarakat, pelajar, dan wisatawan. Berbagai aktivitas dilakukan, mulai dari pengenalan flora khas pegunungan, pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat, hingga diskusi mengenai isu-isu ekologis yang dihadapi kawasan lereng Bromo.
Upaya pelestarian alam tersebut berjalan seiring dengan pelestarian budaya. Rumah konservasi ini aktif mengarsipkan dan mengenalkan nilai-nilai budaya lokal Suku Tengger, seperti tradisi upacara adat, filosofi hidup, serta praktik pertanian ramah lingkungan yang telah lama diterapkan oleh masyarakat setempat. Langkah ini dilakukan agar generasi muda tetap mengenal, memahami, dan melanjutkan nilai-nilai budaya di tengah arus modernisasi.
Rumah Konservasi Bala Daun Mertasari juga menjadi titik temu kolaborasi berbagai pihak, mulai dari komunitas lokal, akademisi, hingga pegiat lingkungan. Melalui diskusi, lokakarya, dan kegiatan konservasi bersama, Bala Daun Mertasari berupaya menanamkan kesadaran ekologis yang berkelanjutan sekaligus memperkuat identitas budaya lokal.
Keberadaan Rumah Konservasi Bala Daun Mertasari diharapkan dapat menjadi model konservasi berbasis komunitas yang menyatukan pelestarian alam dan budaya. Di tengah tantangan perubahan iklim dan pariwisata massal, rumah konservasi ini menjadi pengingat bahwa pembangunan berkelanjutan harus berjalan seiring dengan penjagaan alam dan nilai-nilai tradisi.
Dengan semangat gotong royong dan kecintaan terhadap alam, Rumah Konservasi Bala Daun Mertasari terus berkomitmen menjadi ruang hidup bersama bagi alam, budaya, dan masa depan generasi Tosari.





















