Pernah ketemu orang yang paling berisik saat diskusi? Suaranya keras. Kalimatnya cepat. Kepercayaan dirinya seperti tidak punya rem. Ia selalu punya opini. Tentang apa saja. Seolah dunia ini sederhana, tinggal pilih kubu.

Tapi begitu diajak masuk lebih dalam, jawabannya mulai mengambang. Ia mengulang poin yang sama. Lalu emosinya naik. Karena ternyata yang ia punya bukan pemahaman, tapi kumpulan opini yang belum diuji. Pernah lihat debat di televisi Indonesia? Di sana banyak contohnya. Apalagi pendukung atau yang mengaku relawan politik.

Di sisi lain, ada tipe orang yang bicara pelan. Tidak banyak gaya. Tidak buru-buru menutup pembicaraan dengan “pokoknya”. Yang menarik, orang seperti ini biasanya punya satu kebiasaan yakni membaca.

Makin banyak ia membaca, makin jarang ia sok tahu. Bukan karena ia kurang pintar. Justru karena ia makin pintar. Tapi kepintaran yang satu ini tidak melahirkan kesombongan. Ia melahirkan sesuatu yang lebih langka yakni kerendahan hati.

- Poster Iklan -

Lalu pertanyaannya, kenapa membaca bisa mengarah ke sana? Karena membaca memaksa kita bertemu dengan hal-hal yang menghancurkan ego secara pelan-pelan. Buku tidak memanjakan kita seperti konten pendek. Buku menuntut kita untuk bertahan. Untuk fokus. Untuk sabar. Untuk memahami konteks sebelum menyimpulkan.

Saat membaca sejarah, kita sadar tidak ada bangsa yang selalu benar. Ungkapan umum mengatakan, sejarah milik yang berkuasa. Jadi saat seseorang berkuasa, ia bisa membuat atau menciptakan sejarah. Sejarah saja bisa dia bengkokkan. Sesuai “selera”.

Saat membaca sains, kita sadar teori bisa berubah ketika data berubah. Saat membaca filsafat, kita sadar jawaban terbaik pun sering melahirkan pertanyaan baru. Saat membaca biografi, kita sadar kesuksesan bukan slogan, tapi proses panjang.

Kenapa orang yang sedikit tahu sering merasa paling tahu? Kita bisa menyimak penelitian yang pernah dilakukan David Dunning dan Justin Kruger (1999). Penelitiannya yang terkenal kemudian disebut dengan “efek dunning-kruger”. Seseorang yang memiliki kemampuan atau pengetahuan rendah dalam suatu bidang cenderung melebih-lebihkan kompetensi mereka sendiri.

Kata mereka lebih lanjut, seseorang yang berada di level kemampuan paling rendah justru paling melebih-lebihkan kemampuannya. Itulah kenapa orang yang dangkal sering paling berani berteriak. Ia belum melihat luasnya dunia. Belum bertemu kompleksitas. Belum merasakan bahwa satu persoalan bisa punya banyak sisi.

Sedangkan orang yang banyak membaca biasanya punya lebih banyak “keraguan sehat”. Ia tahu apa yang ia tahu. Yang lebih penting, ia tahu apa yang belum ia tahu. Itulah pintu kerendahan hati. Dampak kerendahan hati intelektual itu nyata, terutama di era hoaks, dan misinformasi.

Kerendahan hati intelektual berkaitan dengan kecenderungan yang lebih rendah untuk terjebak misinformasi. Mengapa? Karena orang yang rendah hati tidak nyaman dengan kesimpulan instan. Ia tidak cepat percaya karena “viral”. Ia butuh sumber. Butuh konteks. Butuh bukti.

Sementara orang yang merasa paling tahu biasanya punya satu ciri yakni tidak sabar memeriksa kebenaran. Ia lebih suka emosi yang menguatkan keyakinannya. Ia lebih suka informasi yang bikin dia merasa menang. Padahal di era digital, ketidaksabaran itu mahal harganya. Bisa membuat kita jadi penyebar salah informasi, tanpa sadar.

Kita bisa tarik ini ke konteks yang lebih besar. Misalnya kualitas masyarakat dan masa depan bangsa. Organisation for Economic Co-operation and Develeopment (OECD) pernah menyelenggarakan Programe for International Student Assessment (PISA). Bukti menunjukkan kemampuan membaca masyarakat Indonesia masih berada di bawah rata-rata OECD.  Artinya sederhana bahwa  literasi membaca masih pekerjaan besar bangsa kita.

Literasi bukan sekadar urusan nilai ujian. Literasi adalah kemampuan memahami. Menimbang. Membedakan fakta dan opini. Membaca konsekuensi. Membaca arah. Saat literasi lemah, masyarakat gampang panas. Gampang diadu. Gampang merasa paling benar. Kerendahan hati pun menjadi barang langka. Padahal kerendahan hati intelektual adalah salah satu “vitamin” terpenting untuk ruang publik yang sehat.

Karena itu, membaca bukan sekadar aktivitas sunyi di kamar. Membaca juga bukan sekadar gaya hidup anak “kutu buku”. Membaca adalah latihan mengelola ego. Buku mengajari kita satu hal yang tidak diajarkan timeline bahwa kita ini tidak sehebat yang kita kira.  Karena orang yang merasa paling benar biasanya berhenti bertumbuh. Sementara orang yang sadar dirinya bisa salah, akan terus naik level.

Ia tidak takut terlihat belum tahu. Ia tidak malu untuk belajar. Ia tidak gengsi untuk bertanya. Itu tanda orang yang benar-benar kuat.

Semakin banyak membaca, semakin seseorang melihat luasnya dunia. Ia juga akan  semakin bahwa keyakinannya pun bisa keliru. Kerendahan hati  menunjukkan bahwa sikap ini membuat seseorang lebih terbuka pada bukti, lebih sehat dalam diskusi, dan lebih kebal terhadap misinformasi. Sedikit tahu sering melahirkan percaya diri berlebihan. Maka membaca bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan karakter paling penting untuk belajar seumur hidup. Rendah hati, berani berkata “saya belum tahu,” lalu terus membaca lagi.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here