Pagi itu, langit di atas Gaza tetap kelabu, meskipun tak ada awan. Abu Yahya membuka matanya dan tak segera bangkit. Di sisi tikarnya, cucunya yang bungsu, Leila, masih tertidur, bibirnya bergerak-gerak seperti sedang menyusui udara. Ia menghela napas pelan dan menghindari suara agar tidak membangunkannya.

Sudah empat hari ini mereka tidak makan apa pun kecuali dua genggam tepung yang dicampur air dan dibakar di atas panci hangus. Anak-anak menyebutnya roti debu. Mereka tertawa pertama kali menyebutnya begitu. Hari ini, mereka tidak menyebut apa-apa.

Di dapur yang sebenarnya hanya sudut ruangan, Abu Yahya membuka lemari plastik berwarna biru pudar. Di dalamnya ada satu saset garam, dua buah kantong teh bekas yang digantung agar bisa digunakan lagi nanti, dan sebuah kaleng kosong yang pernah berisi minyak zaitun.

Ia menatap barang-barang itu sejenak, lalu menutup lemari. Tangannya bergetar. Tidak karena marah. Ia terlalu tua untuk marah. Tiga bulan lalu, ia masih sempat ikut salat Jumat di masjid Abu Bakr. Sekarang ia takut berjalan ke luar. Bukan karena takut bom, tapi karena takut harus melihat warung-warung yang kosong, para ibu yang duduk menatap sepi, dan para anak yang mengunyah udara.

- Poster Iklan -

Di ruang tengah, cahaya matahari menyelinap lewat lubang di dinding yang dulu jendela. Sebuah bingkai foto tergantung miring. Di dalamnya, wajah Leila dan ibunya tersenyum dalam bidikan lama. Abu Yahya meluruskan bingkai itu, lalu membetulkan tikar tempat Leila tidur. Ia menjaga ketenangan pagi seperti menjaga doa, pelan dan tak ingin lekas selesai.

Tepat jam delapan pagi, suara pesawat tak berawak menderu perlahan di langit. Seperti biasa. Ia bahkan tahu kapan bunyinya akan meninggi, lalu menurun, lalu hilang sebentar sebelum kembali. Seperti burung logam yang kesepian, pikirnya.

“Abu Yahya…”

Suaranya datang dari luar. Abu Yahya membuka pintu pelan. Di ambang pintu berdiri Hamdi, lelaki separuh baya yang pernah menjual bawang di pasar Shujaiya. Matanya merah, tangannya membawa secarik kertas.

“Ada daftar penerima bantuan. Kau masih punya kartu hijau?”

Abu Yahya menggeleng. Kartu itu terbakar bersama rumah anak sulungnya tiga bulan lalu. Ia tidak mengurus ulang. Ia sudah merasa tidak termasuk dalam sistem apa pun.

Hamdi tak banyak bicara. Ia meletakkan kertas itu di atas lantai, lalu pergi. Di bawah namanya tertulis: Minyak 1L, Tepung 2kg, Sarden 1 kaleng. Lokasi: Gudang UNRWA dekat Khan Younis, ambil pukul 10.00–11.00.

Abu Yahya tidak bergerak. Ia hanya berdiri di depan pintu, lalu menatap cucunya yang masih tidur. Leila adalah satu-satunya anak dari anaknya yang selamat. Ibu Leila meninggal di rumah sakit karena infeksi usus. Itu sebelum rumah sakitnya dibom.

Ia duduk. Pikirannya berjalan lambat. Seperti jalan Gaza sekarang yang penuh puing, penuh diam.

Jam sembilan lewat dua puluh, ia memutuskan berjalan. Di kantongnya ia membawa kartu pengenal lama dan salinan akta kelahiran Leila. Ia tidak tahu apa yang akan ditanyakan petugas, tapi ia ingin siap.

Langkahnya lambat. Ia melewati reruntuhan sekolah tempat Leila dulu belajar. Papan bertuliskan “Kelas 1B” masih menggantung dengan satu paku. Ada gambar matahari dan senyum di bawahnya. Abu Yahya menoleh cepat, takut air matanya jatuh.

Di dekat tikungan menuju gudang, ada antrian. Panjang. Diam. Seorang anak laki-laki duduk sambil menggenggam roti pipih di tangannya, tidak dimakan.

Abu Yahya menatapnya. “Untuk siapa itu?”

“Untuk ibu,” jawab anak itu.

Abu Yahya mengangguk. Ia masuk antrian. Tidak ada yang bicara. Suara pesawat terus berputar di langit.

Tiba gilirannya. Petugas, seorang pria muda dengan rompi lusuh, menatap kertasnya, lalu menggeleng.

“Nama tidak cocok. Tidak ada kartu baru. Maaf, Tuan.”

“Dia cucuku, aku, aku tak sempat urus ulang, aku kira,”

“Maaf, aturannya ketat. Sudah banyak yang antre.”

Abu Yahya tidak berteriak. Ia hanya berdiri, menatap petugas itu, lalu mundur pelan. Ia mengambil kertasnya, melipatnya hati-hati, lalu memasukkannya ke saku. Langit tetap kelabu.

Dalam perjalanan pulang, ia melewati Masjid Abu Bakr. Imamnya dulu teman masa kecilnya. Sekarang masjid itu hanya dinding setengah berdiri dan puing-puing karpet terbakar. Seorang lelaki tua duduk di sana, seperti sedang menunggu adzan.

Di persimpangan, Abu Yahya berhenti sejenak. Ada poster robek tergantung di tiang listrik. Gambar bendera Palestina setengah terbakar dan tulisan “kami tidak akan menyerah” samar tertutup debu. Di dekatnya, dua remaja menggambar di dinding rumah yang runtuh: seekor merpati membawa ranting zaitun. Abu Yahya menatap mereka lama. Ia merasa sedang melihat harapan yang digambar dengan sisa tenaga.

Sore hari, Leila terbangun.

“Kakek, aku mimpi kita makan ayam.”

Abu Yahya tersenyum. “Apa warnanya?”

“Putih. Lalu berubah jadi merah. Tapi enak.”

“Merah karena saus tomat?”

Leila mengangguk pelan. Ia tidak tahu bahwa warna merah dalam mimpi anak-anak Gaza bisa berarti banyak hal. Bisa berarti makanan, bisa berarti luka.

Ia menyisir rambut Leila dengan jari-jarinya yang kasar. Di luar, azan terdengar samar dari toa yang hanya satu speaker-nya masih hidup. Leila memejamkan mata lagi. Perutnya belum kenyang. Tapi mimpi tadi membuatnya sedikit lebih hangat.

Abu Yahya berdiri. Ia membuka lemari plastik biru, mengambil kantong teh bekas dan air yang tersisa sedikit di ember, lalu merebusnya. Leila bangun, duduk, menatap panci dengan pandangan yang terlalu tua untuk anak berumur enam tahun.

“Aku akan ke rumah Pak Yasin nanti malam,” kata Abu Yahya. “Dia mungkin punya sisa bubur.”

Leila hanya mengangguk. Ia tahu kemungkinan itu kecil. Tapi ia juga tahu bahwa kakeknya tidak pernah bohong. Ia hanya tidak selalu benar.

Malam itu, suara bom terdengar dari kejauhan. Langit berkedip sekali, lalu gelap lagi. Di dalam rumah, Leila tidur bersandar di lengan Abu Yahya. Lelaki tua itu menatap langit-langit yang mulai retak.

Ia teringat pada istrinya, pada anak-anaknya, pada hari-hari sebelum ini. Lapar bukan hal baru. Tapi kali ini terasa berbeda. Bukan karena jumlahnya, tapi karena diamnya. Semua orang diam. Dunia diam. Hanya langit yang terus bersuara.

Ia tidak menangis. Tidak bisa. Di usianya, air mata sudah habis. Yang tersisa hanya detak pelan dan perhitungan yang lambat: berapa hari lagi mereka bisa bertahan dengan dua kantong teh dan secuil garam?

Menjelang tengah malam, seekor kucing kurus berjalan perlahan melewati reruntuhan. Mencari sesuatu yang bisa dimakan. Seperti Abu Yahya. Seperti semua orang.

Di dapur, air rebusan teh sudah berubah warna. Leila bangun dan duduk, menatap cangkir kecil yang dituang setengah. Ia menyeruput perlahan. Rasanya pahit. Tapi ia pura-pura tersenyum.

“Kita akan makan besok, kan, Kek?”

“Ya,” jawab Abu Yahya. “Besok.”

Ia tahu ia tidak bisa menjanjikan apa pun. Tapi ia juga tahu bahwa satu-satunya yang bisa menyelamatkan mereka malam itu bukanlah bantuan dari luar, bukan roti atau sarden atau tepung, melainkan satu hal kecil: harapan.

Pagi akan datang lagi. Dan hari itu akan sama seperti hari-hari lain. Tapi selama Leila masih bisa bermimpi ayam bersaus tomat, dan Abu Yahya masih bisa mengatakan “besok”, maka hari itu masih bisa mereka lewati. Meskipun dengan dua kantong teh dan secuil garam.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here