Pada November 2025, Belém—ibu kota negara bagian Pará di Brasil utara—menjadi tuan rumah Konferensi Perubahan Iklim COP30. Dengan populasi sekitar 1,5 juta jiwa, Belém adalah kota yang tidak terlalu besar namun menyandang status sebagai “gerbang Amazon”, hutan tropis terluas di Bumi. Sekilas, tak ada yang paradoks dari pilihan kota ini. Justru, ia tampak sebagai lokasi yang tepat untuk meluncurkan advokasi lingkungan global.
Sebagian panelisnya merupakan perwakilan politisi yang melakukan promosi solusi pintar untuk krisis iklim ekstrem. Indonesia? Negara kita diwakili oleh Hanif Faisol Nurofiq. Disnilah paradoksnya, konferensi tersebut diwakili politisi lingkungan hidup yang menganggap bahwa material kayu di sungai Garoga adalah kayu-kayu yang tumbang alami dan menjadi penyebab utama banjir di Tapanuli sebulan setelah ia menghadiri konferensi tersebut. Dengan paradoks tersebut, panggung COP30 tampak terlalu megah untuk para politisi lingkungan yang bahkan tidak pernah menjejak akar rumput dan bermain-main dengan kebijakan lingkungan.
Di sisi lain bumi, ada seorang perempuan adat yang duduk di ladang jagung. Mengamati pertumbuhan jagung dan bicara dengan bahasa botanik. Robin Wall Kimmerer, seorang perempuan botani yang percaya bahwa Alam lebih punya ruang dan waktu sendiri yang tak terinterupsi. Dengan apa yang diberikan Alam, seharusnya manusia mengembalikan pemberian itu dengan timbal balik. Konsep reciprocity ini adalah cara paling relevan untuk menjawab Alam sekaligus melawan narasi eksploitasi kapitalisme dan teknologi.
Di Media, Siapa yang Bicara?
Dalam riset Ekofeminisme Digital: Analisis Multimodal terhadap Diskursus Perempuan dan Lingkungan di Media Massa Keislaman (2026), pakar teknologi, korporasi, politisi laki-laki, ilmuwan laki-laki, ulama laki-laki adalah pihak-pihak yang kerapkali diwawancarai tentang persoalan lingkungan. Narasi dominan yang dikonstruksi oleh media adalah narasi yang menjadikan actor laki-laki sebagai bagian primer dari solusi dan mengabsenkan peran dan kapasitas perempuan dalam pengelolaan ekologi.
Dalam wacana ekologi, perempuan dan anak-anak kerap direpresentasikan sebagai pihak korban yang rentan. Ironisnya, teks-teks yang mengaitkan perempuan dengan isu lingkungan justru secara sepihak membebaskan laki-laki dari tanggung jawab ekologis. Alih-alih menggugat ketimpangan struktur, media justru melestarikan dualisme tak setara: pengetahuan laki-laki dianggap lebih tinggi dan lebih sahih ketimbang pengetahuan lainnya. Jejaknya dapat kita amati dari bagaimana media lebih dominan menampilkan suara pakar (yang didominasi laki-laki) ketimbang suara lokal (yang kerap diasosiasikan dengan perempuan).
Bahasa Lain yang Enggan Kita Dengar
Robin Wall Kimmerer, seorang perempuan adat yang bekerja sebagai akademisi sekaligus botani, mengatakan bahwa ada bahasa lain yang sebenarnya bicara pada kita sepanjang waktu. Bahasa itu tidak riuh dan hiruk pikuk seperti yang bergaung di media sosial dan televisi. Bahasa yang memiliki kapasitas sepadan untuk disuarakan di panggung dunia. Bahasa yang hidup bersama para perempuan adat. Tumbuh di lingkaran nurturasi masyarakat adat.
Kimmerer menyebutnya sebagai tata bahasa yang hidup (Grammar of Animacy). Bahasa itu mensyaratkan kita untuk mengenali dan memperhatikan lebih dekat pengetahuan-pengetahuan di luar diri kita. Mendengar, menyaksikan, dan menciptakan keterbukaan pada Bumi adalah proses yang harus dilalui untuk melarutkan batasan:
“I come here to listen, to nestle in the curve of the roots in a soft hollow of pine needles… to turn off the voice in my head until I can hear the voices outside it: the shhh of wind in needles, water trickling over rock, nuthatch tapping, chipmunks digging, beechnut falling, mosquito in my ear, and something more—something that is not me, for which we have no language, the wordless being of others in which we are never alone. After the drumbeat of my mother’s heart, this was my first language.” (Braiding Sweetgrass, hal. 48)
The Gift of Strawberries: Alam sebagai Hadiah
Kimmerer memiliki relasi personal dengan buah stroberi liar di ladang rumahnya. Stroberi liar tidak dijual. Ia tersebar berlimpah di sekitar rumahnya. Stroberi adalah pemberian alam. Tidak ada transaksi ekonomi di dalamnya. Ia bukan sekadar makanan, namun kehadirannya menegaskan relasi emosional dan spiritual dengan Bumi dan rasa syukur.
Berbeda dengan stroberi komoditas yang nurturasinya dipenuhi dengan nilai tukar ekonomi. Stroberi liar justru menciptakan hubungan timbal balik dengan alam karena diasaskan pada konsep hadiah/pemberian (Gift). Meski demikian, konsep hadiah ini berbeda dengan perspektif Barat yang menganggap bahwa segala pemberian adalah hak milik penerima untuk selamanya. Kimmerer menggunakan terminologi pribumi Timur yang menganggap bahwa hadiah harus terus bergerak dan menciptakan siklus.
Selain stroberi, Kimmerer memperkenalkan sweetgrass atau Rumput Manis sebagai contoh sakral. Rumput Manis adalah tanaman rumput yang dikenal harum seperti vanilla saat kering dan kerap digunakan oleh masyarakat adat untuk upacara. Rumput Manis tidak diperjualbelikan meski demikian pengambilannya harus dilakukan dengan penuh hormat. Untuk tetap sakral dan lestari, Rumput Manis harus diberikan, bukan dijual.
Di media massa, para agamis dan penganut teknologi aktif bicara dalam ruang lingkup nilai tukar yang menganggap bahwa alam adalah produk. Bahasa mereka adalah bahasa milik. Bukan bahasa mitra yang setara. Kontras dengan apa yang dikenalkan oleh Kimmerer.
Konsep Timbal Balik: Etika Kuno yang Selalu Baru
Dalam esai Returning the Gift, Kimmerer bercerita tentang upacara kuno Minidewek. Ritual warga Potawatomi dalam merayakan peristiwa kehidupan. Orang-orang yang dihormati akan memberi hadiah dan berbagi keberuntungan dengan semua orang yang hadir. Warga menari. Setiap hentak kaki adalah puisi penghormatan pada Bumi. Upacara itu adalah upacara Returning the Gift. Hadiah itu adalah giveaway kecil yang sifatnya personal karena dibuat dengan tangan. Apapun hadiahnya, Minidewek adalah sebuah ritus yang menjadi pengingat bahwa kesejahteraan satu orang selalu berkelindan terkait dengan kesejahteraan semua orang. Tidak ada yang mengambil terlalu banyak.
Saat ada seorang anak kecil melemparkan truk mainan barunya, sang ayah meminta untuk mengambilnya kembali. Hadiah berbeda dengan sesuatu yang kau beli. Hadiah harus berupa sesuatu yang memiliki makna di luar batas materi. Hadiah harus sesuatu yang membuatmu melakukan sesuatu. Yang merawatnya saat kau membuatnya.
Dalam upacara tersebut ada buah yang selalu hadir. Buah beri. Simbol utama dari hadiah. Karena buah beri selalu menawarkan rasa manis pada alam. Transaksinya tak berakhir di situ. Buah beri menjadi ikon yang mengingatkan bahwa kemakmuran adalah timbal balik. Dengan dasar filsafati seperti ini, masyarakat Potawatomi menjadikan buah beri sebagai simbol besar rasa terima kasih.
Defeating Windigo: Melawan Rakasa Konsumsi
Salah satu konsep paling tajam dari Kimmerer adalah Windigo—monster dalam legenda Anishinaabe yang melambangkan keserakahan tak terpuaskan. Windigo adalah manusia yang berubah menjadi kanibal karena kelaparan ekstrem. Ia terus makan, namun tak pernah kenyang. Semakin banyak ia makan, semakin lapar ia. Hatinya membeku menjadi es. Ia berjalan di tengah badai salju pada masa Hunger Moon—saat persediaan makanan habis dan kematian mengintai.
Kimmerer melihat Windigo tidak hanya sebagai cerita rakyat, tetapi sebagai diagnosis atas penyakit peradaban modern. Windigo hidup dalam diri korporasi yang menambang batu bara hingga membunuh gunung. Windigo merasuki politisi yang menyatakan bahwa “tidak ada batasan daya dukung bumi.” Windigo berjalan di mal-mal, di iklan-iklan yang terus membujuk kita untuk membeli lebih banyak, mengambil lebih banyak, mengkonsumsi lebih banyak. Windigo adalah nama untuk “apa pun dalam diri kita yang lebih peduli pada kelangsungan hidupnya sendiri daripada apa pun.”
Jejak kaki Windigo ada di mana-mana: di Danau Onondaga yang tercemar limbah industri, di hutan Amazon yang dibakar demi kedelai, di tambang-tambang yang merobek puncak gunung Appalachia, di lautan yang dipenuhi sampah plastik. Kita semua, dalam satu dan lain cara, telah digigit Windigo. Kita telah membiarkan “pasar” mendefinisikan apa yang kita nilai, sehingga kebaikan bersama seolah bergantung pada gaya hidup konsumtif yang memperkaya penjual tetapi memiskinkan jiwa dan bumi.
Lalu, bagaimana cara mengalahkan Windigo? Kimmerer menemukan jawabannya dalam kisah Nanabozho, pahlawan budaya Anishinaabe, yang memilih melawan Windigo pada musim panas—niibin, masa kelimpahan. Bukan pada musim dingin saat Windigo paling kuat, tetapi pada saat ketika alam menunjukkan kemurahan hatinya. Karena hanya ketika kita menyadari bahwa kita telah diberi segala sesuatu secara berlimpah, keserakahan kehilangan dayanya.
Rasa syukur, bagi Kimmerer, adalah penawar racun Windigo. “Gratitude plants the seed for abundance,” tulisnya. Ketika kita benar-benar merasakan bahwa bumi telah memberi kita cukup—bahkan lebih dari cukup—maka dorongan untuk menimbun dan mengkonsumsi berlebihan akan luruh dengan sendirinya. Inilah sebabnya mengapa dalam tradisi Potawatomi, kekayaan diukur bukan dari seberapa banyak yang dimiliki, tetapi dari seberapa banyak yang bisa diberikan.
Jika Honorable Harvest adalah etika mengambil yang benar, maka gratitude adalah fondasi yang membuat etika itu mungkin dijalankan. Karena hanya dengan hati yang penuh syukur kita bisa menerima bahwa apa yang kita butuhkan telah tersedia, dan kita tak perlu mengambil lebih dari separuh.
Perempuan, Air, dan Api: Merestorasi Keseimbangan
Dalam tradisi Potawatomi, ada pembagian peran yang indah: laki-laki adalah penjaga api, perempuan adalah penjaga air. Api dan air adalah dua kekuatan yang harus seimbag. Api tanpa air akan membakar habis; air tanpa api akan menjadi dingin dan mati.
Kimmerer menceritakan bagaimana para tetua mengajarkan bahwa perempuan memiliki ikatan alami dengan air, “karena kami berdua adalah pembawa kehidupan.” Perempuan mengandung bayi dalam “kolam internal” dan melahirkan mereka ke dunia di atas gelombang air. Maka, adalah tanggung jawab perempuan untuk menjaga air bagi semua kerabat—bagi ikan, bagi katak, bagi tumbuhan, bagi anak cucu.
Di sinilah letak pentingnya menghadirkan kembali suara perempuan dalam wacana ekologi. Bukan hanya karena mereka lebih rentan terhadap dampak krisis iklim, tetapi karena mereka memiliki pengetahuan dan tanggung jawab yang telah diwariskan secara turun-temurun tentang cara merawat sumber kehidupan. Ketika media terus-menerus menampilkan aktor laki-laki sebagai solusi, kita kehilangan separuh dari kearifan yang dibutuhkan untuk keluar dari krisis.
Krisis iklim adalah juga krisis ketidakseimbangan. Terlalu banyak api—ambisi, ekspansi, ekstraksi—dan terlalu sedikit air—kesabaran, nurturasi, timbal balik. Merestorasi keseimbangan berarti mengembalikan air ke dalam wacana, memberi ruang pada suara-suara yang selama ini terpinggirkan, dan mengakui bahwa solusi sejati membutuhkan perajutan antara maskulin dan feminin, teknologi dan spiritualitas, sains dan kearifan lokal.
Merajut Kembali yang Terputus
Kimmerer tidak menolak teknologi. Tetapi ia mengkritik teknologi ekstraktif seperti penambangan tanpa etika ataupun teknologi yang tidak menghormati aturan Honorable Harvest. Ia menggunakan metafora bunga aster dan goldenrod yang tumbuh Bersama untuk menggambarkan bagaimana sains dan pengetahuan tradisional jika diintegrasikan akan menciptakan pemahaman yang utuh tentang dunia.
Dalam Learning the Grammar of Animacy ditegaskan bahwa tatabahasa alam kerapkali kita abaikan atau sengaja tak kita dengarkan. Bahasa alam adalah bahasa purba yang justru akan melekatkan harmoni manusia dengan alam. Bila kita lebih memilih mendengarkan suara media yang terlalu sibuk mengambil suara dan mengklaim bicara untuk perempuan, masyarakat adat, dan Bumi bukankah ini adalah format ekstraksi simbolik yang mirip dengan ekspolitasi terhadap sumber daya alam?
Krisis iklim bukan hanya krisis ekologis, tetapi lebih dari itu juga krisis epistemologis—krisis cara memahami dan cara mendengar. Dengan mengajukan pertanyaan: lantas siapa yang pantas bicara atas nama Bumi? Bukankah telah jelas siapa yang kita beri ruang untuk bicara. Karena pada akhirnya merawat Bumi bukan soal siapa yang bicara paling keras, tetapi perihal siapa yang paling tawaduk mendengarkan.
Wallahu a’lam




















