Satu tahun sebelum mati dengan wajah tercabik beling botol bir, suatu malam Kuncoro alias Kuntet mendatangiku dengan semangat dan senyum yang lebih lebar dari biasanya.
Ban motor yang dikendarainya diselimuti kerikil. Curah hujan memang sedang tinggi-tingginya. Jalan menuju tempat ini seperti dipenuhi ranjau. Minimnya penerangan membuat siapa pun bisa terjebak di jalan bertanah laterit yang becek dan berlobang. Tapi, dengan ketangkasannya berkendara, malam itu Kuntet berhasil lolos.
Sembari menenggak sebotol Anker Bir dan mengisap sebatang Djarum Super yang entah sudah batang keberapa, Kuntet bercerita tentang adiknya.
“Besok dia datang naik KM Lawit,” kata Kuntet sambil memijat-mijat keningnya. Tampaknya ia mulai mabuk.
“Di sini kerja apa dia, Bang?” tanyaku ingin tahu.
“Sama sepertiku, ngerajuk,” jawab Kuntet pelan.
Semangatnya ketika datang tadi lesap sudah. Ia mengeluh pening dan tak banyak berkata-kata lagi. Dan setelah bir di botolnya tandas, ia langsung menciumku dengan buas.
“Mulai sekarang aku tidak perlu lagi mengiriminya uang setiap bulan,” kata Kuntet lagi ketika aku memapahnya menuju kamar di bagian dalam warung.
Bau badannya asam, tetapi aku justru semakin menyukainya seturut diriku yang semakin mengenalnya. Seolah bau itu adalah hal paling suci yang aku cari selama ini dari seorang lelaki. Dan seperti yang sudah-sudah, malam itu kami bercinta tanpa mengindahkan suara jangkrik di rerimbun perdu maupun gelak tawa orang-orang yang sedang bercangkung di beranda. Kami juga tidak mengindahkan dosa, lebih-lebih rasa bersalah yang bisa berganti karma.
Seminggu setelahnya, Kuntet mengenalkanku pada Wasis, adiknya. Mulanya Wasis tak banyak bicara denganku. Ia hanya datang untuk minum, dan sesekali menggenjreng gitar yang teronggok di pojok warung sembari bernyanyi. Menurutku suaranya bagus. Lalu aku pun terpantik untuk menemaninya bernyanyi. Kami pun berdendang bersama.
Wasis jadi sering berbicara denganku dan aku jadi lebih mengenalnya. Lebih dari itu, ia juga mengikuti jejak saudaranya—ia mengisap kenikmatan sesaat dari tubuhku, lalu membayar dengan harga yang ia kira pantas untuk itu.
Berbeda dengan Kuntet, Wasis orangnya penuh kejutan. Di waktu-waktu tertentu, ia membawakanku sekantong plastik buah kemunting yang terasa manis-gurih; atau buah kelubi yang mirip salak dan rasanya sangat masam. Wasis bercerita kalau ia mendapati buah-buah itu di tengah hutan ketika pulang dari kulong. Kejutan yang sederhana, tetapi membuatku senang karena aku bisa merasakan lagi Tanah Melayu di masa lalu.
Aku teringat lagi saat datang ke tempat ini untuk pertama kali. Usiaku belum juga genap empat belas, tetapi Mak Len, perempuan paruh baya pemilik warung yang membawaku, memalsukannya menjadi delapan belas ketika mengenalkanku pada kepala desa. Di masa-masa itu, tak ada hal lain yang menggembirakanku selain memasuki hutan tak jauh dari warung, lalu memetik buah-buahan apa saja yang tak pernah kujumpai sebelumnya.
Mak Len sendiri sangat baik kepadaku. Ia menyuruhku bekerja di warung agar aku mendapatkan uang.
“Simpanlah uang itu untuk keperluanmu sendiri,” katanya.
Dengan uang aku pun bisa membeli pakaian, sepatu, dan barang-barang lain yang aku inginkan. Aku tak kalah dari kebanyakan perempuan di kampung ini. Buktinya, banyak lelaki yang akhirnya menginginkanku—lelaki yang selalu bau matahari dengan kulit terpanggang, yang sudah beristri maupun belum beristri.
Beberapa bulan setelah aku mengenal Wasis, sikap Kuntet menjadi aneh dan tak seperti biasanya. Ia sering marah-marah tak jelas, lalu melarangku menerima tawaran Wasis yang sering menginginkan tubuhku.
“Masih ada perempuan lain, tak usah kau layani dia,” katanya geram.
Aku tak peduli larangan Kuntet, karena tak ada alasan bagiku untuk menolak tawaran saudaranya itu. Apalagi aku juga membutuhkan uang untuk kebutuhanku sehari-hari. Namun, beberapa hari setelah itu, Kuntet berkata bahwa ia selalu memimpikanku setiap malam. Awalnya aku tak menghiraukannya, sampai kemudian aku bertemu Salima, istri Kuntet, ketika sedang membeli tauco di pasar kecamatan.
“Maya, apa benar Mas Kuncoro sering menemuimu di warung?” tanya Salima menyelidik. Ekspresinya bak senjata yang siap menyibak rahasia.
“Aku tidak tahu, Mbak,” jawabku gugup.
“Tidak tahu?” tanya Salima lagi.
“Aku sibuk berjualan,” jawabku lagi sekenanya.
“Jualan apa, Maya?” potong pedagang tauco tiba-tiba, “jualan kelentit?”
Aku pun terdiam. Tak mampu lagi aku menatap dua perempuan di hadapanku. Tanpa berkata-kata aku pun beranjak meninggalkan pasar.
Aku menganggap semuanya baik-baik saja dan hidup berjalan seperti biasa, padahal kenyataannya aku hanya berpura-pura. Aku diselimuti rasa cemas. Ketakutan memburuku dalam bentuk bayang-bayang gelap. Namun, suatu malam Kuntet datang dengan janji yang menggusah bayang gelap itu. Ucapannya malam itu tidak hanya memberi secercah harap, tetapi juga membangkitkan imajiku sebagai perempuan.
Celakanya, aku tidak pernah menyangka bahwa keputusanku mengikuti maunya Kuntet akan berbuah petaka. Petaka ini bukan hanya menyangkut Kuntet, tetapi juga orang-orang di sekitarnya.
Segera kukatakan pada Wasis bahwa aku tidak bisa lagi melayaninya, sekali pun ia bersedia membayarku berkali-kali lipat lebih mahal. Maka, sejak itu ia tidak pernah lagi datang ke warung. Namun, aku beberapa kali melihatnya tengah minum-minum di warung lain. Tempatnya lebih jauh masuk ke hutan, melewati kebun-kebun kelapa sawit berbuah lebat. Aku juga pernah melihatnya di pasar kecamatan. Bahkan kami sempat berserobok di tempat penjualan ikan. Aku menegurnya, tapi ia membuang muka, tak mau melihatku.
Satu bulan setelahnya, ketika malam begitu tenang tanpa suara jangkrik yang menyapu keheningan, Wasis datang ke warung seperti orang kesetanan. Ia datang dengan motornya yang mengeluarkan lengkingan menusuk-nusuk telinga. Ia juga menenteng satu botol bir yang sudah kosong. Sepertinya ia sedang mabuk berat. Saat itu aku sedang duduk-duduk di beranda bersama Kuntet. Warung sedang tidak begitu ramai.
Aku, Kuntet, dan semua orang yang ada di warung sama sekali tak punya bayangan apa yang akan terjadi. Sampai suara “praaak” mengejutkan semuanya. Wasis mengempaskan botol bir pada tiang listrik di depan warung. Kini, botol pecah dengan beling-beling tajam itu tergenggam erat di tangannya. Bulu kudukku merinding hebat ketika Wasis mendekat. Ia mendengus. Matanya merah semerah limpa babi. Tapi, Wasis seolah tak memedulikan keberadaanku. Dan ia langsung mencengkeram kerah baju Kuntet, menyeretnya, dan mengempaskan tubuh saudaranya itu ke dinding.
Kuntet seperti sedang mencerna apa yang dialaminya dan mencoba melawan, tapi semuanya sudah terlambat. Dengan sangat cekatan dan penuh keteguhan, Wasis langsung menusukkan botol becah itu ke perut saudaranya. Berkali-kali. Jleb! Jleb! Jleb!
Aku histeris. Semua orang histeris. Mak Len yang mendengar keributan keluar dari dalam warung. Ia lebih histeris. Lalu lari terbirit-birit menuju jalan. Perempuan itu berteriak-teriak minta tolong.
Tak ada yang berani mendekati Wasis, apalagi menghentikan aksinya. Semuanya menjauh, tetapi aku justru mematung. Kegilaan di hadapanku seolah membekukan sel-sel dalam tubuhku. Dan kegilaan itu semakin menjadi ketika Wasis juga mengiris dan mencabik-cabik wajah Kuntet dengan botol pecah yang sudah di penuhi darah.
“Mampus! Mampus! Mampus!” desis Wasis. Suaranya serak dan aku seperti tak mengenalinya lagi.
Tak banyak yang aku ingat apa yang terjadi selanjutnya malam itu. Mak Len segera menyeretku menjauh seiring datangnya dua lelaki yang membawa batang kayu dan segera menghentikan Wasis.
Malam itu aku sulit tidur. Begitu juga malam-malam berikutnya hingga tujuh hari lamanya. Aku mendekam dalam kamar. Darah kental tercecer dan wajah Kuntet yang koyak moyak menghantuiku setiap waktu. Sekuat apa pun aku mengusirnya, sekuat itu pula peristiwa jahanam itu mencengkeram pikiran dan perasaan, apalagi ketika aku melongok ke beranda warung. Sari dan Mala, kawanku yang juga bekerja di warung Mak Len, terkadang menemaniku dalam kamar sembari membawakanku nasi beserta lauk-pauknya. Aku makan agar tetap hidup. Aku tahu aku berdosa, tapi aku belum mau mati.
Dari Mak Len aku tahu kalau Kuntet sudah dikuburkan dengan tenang. Dan Wasis sudah dijebloskan ke penjara. Keesokan hari setelah tragedi malam itu, dua orang polisi mendatangi warung. Mak Len sempat ditanya beberapa pertanyaan. Tapi itu pun hanya sebentar saja. Aku, Sari, dan Mala sama sekali tidak ditanya.
Hari itu Mak Len menutup warungnya, tapi dua hari kemudian ia sudah kembali membukanya. Seolah kematian Kuntet adalah hal biasa saja dan tak perlu dibesar-besarkan.
“Kalau terlalu lama tutup nanti pelanggan Mak Len lari,” ujarnya, “lagipula, kecelakaan seperti itu bukan baru pertama kali terjadi.”
Mak Len menyebut kematian Kuntet sebagai kecelakaan. Baginya itu hanyalah risiko bisnis. Dan ya, ia benar, kematian-kematian seperti itu memang sudah berulang kali terjadi di tempat ini. Aku yang berlebihan, barangkali karena aku terlalu takut.
***
Genangan air di tanah laterit masih memantulkan sinar matahari pagi menyilaukan ketika Salima dan kedua anaknya mendatangiku. Aku yang masih berbaring di kasur buru-buru membasuh muka dan segera menemui anak-beranak itu.
Salima mengenakan pakaian terusan yang kusut mesut, juga kerudung hitam arang yang menutupi rambutnya hingga ke dada. Matanya yang sendu menatap lurus kepadaku. Mata bertemu mata.
“Ceritakan semuanya, Maya,” katanya. Suaranya parau. “Ceritakan padaku dengan sejujurnya,” tandasnya.
Kini aku tersadar bahwa yang menghantuiku bukanlah rasa takut, melainkan rasa bersalah. Yang aku sembunyikan dengan sekuat hati bukanlah kekhawatiran akan nasib, tetapi dosa yang aku perbuat. Salima, juga kedua anaknya yang seperti malaikat-malaikat kecil, seolah meminta pertanggungjawaban sekaligus mengharap belas kasih kepadaku. Aku tak bisa lagi menghindar.
Kukatakan pada Salima bahwa aku tak tahu-menahu soal hubungan Kuntet dengan adiknya. Namun, juga kukatakan bahwa benar suaminya itu kerap datang ke warung dan aku memang menjalin hubungan dengannya. Bahkan, ia mengucap janji yang membuatku mengangankan sesuatu yang seharusnya tak pernah kuangankan. Kuntet berjanji akan menceraikan Salima dan segera mengawiniku.
Salima menatapku dingin. Aku terdiam.
“Tega sekali kau, Maya,” kata Salima pelan. Air matanya tumpah seketika. “Kenapa kau setega itu sebagai perempuan?”
Aku tak tahu harus menjawab apa. Kata maaf memang tak akan pernah cukup. Dan perlahan-lahan pipiku pun basah. Ingin sekali kukatakan padanya bahwa ia telah membuatku menyadari kalau hidup yang kujalani bukanlah yang kuinginkan. Selama ini, diam-diam aku menyimpan dengki terhadapnya. Memiliki suami, membesarkan anak-anak, dan hidup di bawah atap yang menghangatkan adalah hal-hal yang kusimpan sebagai harap, tetapi di saat yang sama semuanya menenggelamkanku dalam mimpi tak bertepi.
Tentu semua itu hanya kusimpan dalam hati. Aku tak pantas mengutarakannya kepada Salima. Lagipula, beradu penderitaan sesama perempuan sungguh tiada guna.
Salima menunjukkan gelagat ingin pergi setelah dua anaknya yang sedari tadi menggelendoti tubuhnya merengek. Ia berkata bahwa ini adalah hari terakhirnya menginjakkan kaki di tempat terkutuk ini. Nanti siang ia berangkat ke pelabuhan. Ia berencana pulang ke rumah orang tuanya di Lampung. Sejak kematian Kuntet, tak ada lagi alasan baginya untuk bertahan.
Aku menahan Salima lalu bergegas ke dapur. Sembari menahan air mata yang mulai tumpah, kuambil beberapa rantang lalu kuisi dengan nasi, abon, ayam goreng, dan segala lauk-pauk yang ada dalam sepen. Lalu aku menuju kamar, mengambil beberapa lembar uang, dan kumasukkan ke dalam rantang.
“Bawa ini, Mbak, untuk bekal di jalan,” kataku seraya menyodorkan rantang itu dan menahan isak. Salima mengambilnya dan segera pergi tanpa kata-kata.
Malam harinya kedua mataku kembali sulit terpejam. Namun, yang menguasai kepalaku bukan lagi wajah koyak moyak Kuntet, melainkan mata sendu Salima. Aku terus tepekur memikirkan perempuan itu hingga suara azan menyadarkanku. Aneh sekali. Rasanya baru kali ini aku mendengar suara azan di penghujung malam.
Segera kukemasi barang-barang dan aku keluar melalui pintu belakang. Di waktu-waktu begini, biasanya Mak Len, Sari, dan Mala baru saja memejamkan mata. Aku terus berjalan menerobos gelap. Suara azan itu menuntunku.
*Catatan:
Ngerajuk: Kegiatan menambang timah dengan metode rajuk—metode tambang dengan menggunakan pipa sedot untuk mengisap pasir yang kaya kandungan timah.
Kulong: Cekungan berisi air yang terbentuk akibat penambangan timah di wilayah Bangka Belitung.
















