Setiap pemimpin memiliki cerita. Ada yang lahir dari panggung besar, ada pula yang tumbuh perlahan dari jalan panjang penuh proses. Wawan Sulthon Fauzi termasuk sosok kedua: pribadi yang dibentuk oleh pengalaman, kerja keras, dan kesetiaan pada nilai-nilai yang ia yakini. Ia bukan figur yang gemar menonjolkan diri, tetapi orang yang memilih bekerja dalam diam dan membuktikan hasil melalui tindakan nyata.
Perjalanan hidup Wawan berangkat dari akar yang sederhana. Ia lahir di Lamongan pada 12 Maret 1987, tumbuh dalam lingkungan yang mengenalkan arti disiplin, ketekunan, dan pentingnya pendidikan sejak dini. Dari masa kecil itu, ia belajar bahwa keberhasilan bukan sesuatu yang datang tiba-tiba, melainkan hasil dari usaha yang konsisten dan kemauan untuk terus belajar.
Langkah pendidikannya ditempuh dengan tekun. Dari sekolah dasar hingga menengah, ia melalui proses belajar yang membentuk karakter sekaligus cara berpikirnya. Ia kemudian melanjutkan studi di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada jenjang sarjana, lalu meneruskan ke program magister hingga meraih gelar M.Pd. Latar belakang akademik ini menunjukkan bahwa Wawan tidak hanya bergerak di dunia praktik, tetapi juga menghargai pentingnya ilmu pengetahuan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Namun yang membuat Wawan menonjol bukan semata gelar pendidikan, melainkan bagaimana ia menghubungkan ilmu dengan realitas lapangan. Ia memilih berkecimpung di dunia penerbitan dan perbukuan—sektor yang sering kali bekerja senyap, tetapi memiliki pengaruh besar terhadap peradaban. Dari industri inilah ia tumbuh, belajar memahami pasar, membaca perubahan zaman, dan melihat langsung tantangan yang dihadapi para pelaku usaha buku.
Karier profesionalnya berkembang melalui pengalaman nyata. Ia dipercaya menduduki posisi strategis sebagai Direktur Operasional PT Cita Intrans Selaras. Kecakapan dan pengalamannya di dunia buku membuatnya sering diminta sebagai salah satu pengisi utama pengembangan literasi sekolah di Kota Malang. Pada tahun 2024, ia diminta sebagai salah satu juri Lomba Literasi Sekolah (L2S) Kota Malang yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Malang. Jabatan dan peran-peran tersebut Adalah bentuk kepercayaan atas kapasitasnya dalam mengelola organisasi, membangun sistem kerja, dan mendorong pertumbuhan usaha.
Mereka yang mengenal Wawan melihatnya sebagai pribadi yang tenang, terukur, dan tidak mudah terbawa suasana. Ia lebih suka mendengar sebelum berbicara, lebih memilih merumuskan solusi daripada memperpanjang persoalan. Dalam diskusi, ia dikenal terbuka terhadap gagasan baru. Dalam kerja sama, ia menempatkan komunikasi sebagai jembatan utama. Sifat ini membuatnya mampu diterima di banyak kalangan: dari pelaku usaha, komunitas literasi, hingga rekan kerja lintas generasi.
Di tengah derasnya perubahan digital, Wawan juga dikenal sebagai sosok yang adaptif. Ia memahami bahwa dunia buku tidak bisa lagi berjalan dengan cara lama semata. Teknologi, pemasaran digital, perubahan perilaku pembaca, dan tantangan distribusi harus dihadapi dengan strategi baru. Karena itu, ia mendorong pembaruan tanpa harus memutus akar tradisi. Baginya, inovasi bukan berarti meninggalkan nilai lama, tetapi menguatkannya dengan cara yang relevan untuk masa kini.
Kepeduliannya terhadap literasi juga menjadi bagian penting dari dirinya. Wawan melihat buku bukan hanya komoditas dagang, melainkan sarana mencerdaskan masyarakat. Ia percaya bahwa penerbit memiliki peran strategis dalam membangun kualitas bangsa. Karena itu, dunia penerbitan baginya bukan sekadar bisnis, tetapi juga misi kebudayaan.
Sebagai pribadi, Wawan dikenal sederhana dan dekat dengan banyak orang. Ia memahami bahwa jabatan hanyalah amanah, sedangkan kepercayaan dibangun melalui sikap. Dalam memimpin, ia cenderung mengajak daripada memerintah, merangkul daripada menjauhkan, dan membangun bersama daripada berjalan sendiri.
Mengenal Wawan Sulthon Fauzi berarti mengenal sosok yang percaya pada proses. Ia tidak dibentuk oleh popularitas instan, tetapi oleh perjalanan panjang yang penuh kerja nyata. Ia memahami bawahannya karena pernah berada di lapangan. Ia mengerti tantangan usaha karena pernah menghadapinya. Ia menghargai kolaborasi karena tahu bahwa tidak ada keberhasilan besar yang dicapai sendirian.
Di tengah kebutuhan akan kepemimpinan yang matang dan relevan, Wawan hadir sebagai figur yang membawa perpaduan antara pengalaman, integritas, dan visi masa depan. Sosok yang tumbuh dari dunia buku, bekerja untuk dunia buku, dan ingin membawa dunia buku menuju masa depan yang lebih kuat.
Wawan Sulthon Fauzi dalam Kontestasi Pemilihan Ketua IKAPI JATIM
Di balik semangat perubahan yang ia bawa untuk IKAPI Jawa Timur, Wawan Sulthon Fauzi adalah sosok yang tumbuh dari proses panjang, kerja nyata, dan kecintaan pada dunia literasi. Ia bukan figur yang datang tiba-tiba. Perjalanannya dibangun dari pengalaman, ketekunan, serta kedekatan langsung dengan industri perbukuan.
Lahir di Lamongan pada 12 Maret 1987, Wawan menempuh pendidikan dari lingkungan pesantren dan sekolah umum hingga meraih gelar magister. Latar belakang ini membentuk dirinya sebagai pribadi yang menghargai ilmu pengetahuan, disiplin, dan nilai-nilai kebersamaan.

Dalam dunia kerja, Wawan dikenal sebagai pribadi yang fokus, tenang, namun penuh gagasan. Ia meniti karier di sektor penerbitan dan percetakan, hingga dipercaya memegang berbagai posisi penting di perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang buku dan distribusi. Dari ruang produksi, manajemen operasional, hingga pengembangan usaha, semua pernah ia jalani. Itu sebabnya ia memahami persoalan dunia penerbitan bukan dari teori, tetapi dari pengalaman nyata.
Bagi rekan-rekannya, Wawan adalah sosok yang mudah diajak berdiskusi, terbuka pada masukan, dan senang mencari solusi. Ia percaya bahwa kemajuan organisasi lahir dari kolaborasi, bukan dominasi. Karena itu, gaya kepemimpinannya cenderung merangkul, membangun komunikasi, dan mengajak semua pihak tumbuh bersama.
Di luar aktivitas profesional, Wawan juga dikenal memiliki kepedulian besar terhadap pengembangan literasi dan kualitas sumber daya manusia. Baginya, buku bukan sekadar produk dagang, tetapi alat perubahan sosial. Dunia penerbitan bukan hanya soal bisnis, tetapi juga soal membangun masa depan masyarakat yang lebih cerdas.
Mengenal Wawan berarti mengenal sosok pekerja keras yang tidak banyak bicara, tetapi banyak bekerja. Sosok yang percaya bahwa perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten. Wawan Sulthon Fauzi adalah perpaduan antara pengalaman, integritas, dan semangat pembaruan.



















