Ngopi sebagai Metodologi
Ketika membaca artikel Af’idatul Husniyah yang berjudul “Ngopi as Methodology: Reclaiming Indonesian Practices for Knowledge Co-Creation”, saya mendapatkan oase baru sekaligus angin segar. Ada sesuatu yang familier dalam tawaran Husniyah. Ngopi, dengan segala ritualnya: duduk santai, berbincang tanpa tergesa, saling mendengarkan, rupanya bisa menjadi kerangka metodologi yang sahih dan bermartabat dalam kancah riset global. Bukan sekadar cara mengumpulkan data, melainkan cara “berada bersama” (togetherness) dalam proses menciptakan pengetahuan. Dalam situasi yang demikian, relasi antara satu dengan yang lain, peneliti dengan yang diteliti, begitu cair, setara, dan manusiawi.
Menariknya, Husniyah mengusulkan Ngopi sebagai cara elegan untuk melawan dominasi teori Barat yang dalam banyak kasus bersifat membatasi, kaku, dan cenderung ekstraktif. Adanya ruang dialog yang setara, informal, dan relasional, pengetahuan bersama (ko-kreasi) diciptakan tanpa sekat hierarki yang membentang kaku. Tidak berhenti di situ. Husniyah juga menyusun prinsip-prinsip yang harus dipenuhi saat Ngopi. Sikap saling menghormati, keterbukaan, dan kenyamanan menjadi hal penting agar wawasan yang mendalam diperoleh secara autentik.
Menurut saya ini adalah strategi ciamik dalam memposisikan tradisi dan kearifan lokal sebagai kerangka ilmiah. Tawaran Husniyah ini membuat saya merasa seperti “pulang ke rumah”, apalagi jika saya kaitkan dengan societas pesantren. Saya menemukan kerangka yang sama. Dalam konteks pesantren, relasionalitas tak berjarak semacam ini sebenarnya bukan barang baru. Pengetahuan juga tidak pernah lahir dari ruang hampa. Pengetahuan hadir (diciptakan) melalui cerita, wejangan, dan refleksi yang mengalir secara organik.
Pengetahuan di pesantren juga tumbuh dari relasi. Antara santri dan kiai, antara sesama santri dalam gojlokan yang penuh canda sekaligus penuh ilmu, antara pesantren dan masyarakat sekitar yang terhubung lewat silaturahmi yang tak pernah putus. Hal ini sangat senada dengan filsafat relasionalitas Profesor Armada Riyanto yang menyatakan bahwa tidak ada entitas yang eksis secara terisolasi. Segala sesuatu, mulai dari manusia, alam, hingga Tuhan, selalu berada dalam jalinan hubungan yang saling tergantung dan saling memberi makna. Relasionalitas bukan aksesoris kehidupan. Relasionalitas adalah “cara hidup itu sendiri”. Dan bagi siapapun yang mengenal pesantren dari dalam, filsafat ini bukan teori abstrak. Ia adalah deskripsi faktual tentang bagaimana pesantren bernapas.
Oleh karena itu, tawaran Husniyah dan filsafat relasionalitas Profesor Armada sangat selaras dengan relasionalitas organik pesantren. Di jagat kaum sarungan ini, pengetahuan sejati tidak boleh diambil secara sepihak melalui kuesioner kering, melainkan harus diciptakan bersama lewat ruang dialog yang setara, intim, dan nyantai. Sesekali, melalui ruang perdebatan ilmiah yang terbuka dalam forum bahtsul masa’il.
Kembali ke tawaran Husniyah. Menurutnya, Ngopi bukan sekadar minum kopi namun sebuah metodologi. Metodologi ini lahir sebagai kritik atas keresahan akademisi terhadap model riset konvensional yang kerap memposisikan masyarakat adat atau komunitas lokal hanya sebagai ladang penambangan data (data mining). Namun, Ngopi sebagai metodologi merupakan pergeseran paradigma dari riset yang “mengambil” data, menuju riset yang “menciptakan” pengetahuan bersama.
Basis metodologi ini adalah hubungan kemanusiaan yang setara. Itulah sebabnya harus berdiri di atas lima nilai inti yang saling berkelinda: relasionalitas (relationality), dialogis (dialogic), terletak/kontekstual (situated), hormat (respectful), dan timbal balik (reciprocal). Kelima nilai inilah yang menjadi jembatan bagi siapapun untuk menyelami samudera pengetahuan tanpa harus mencerabut societas dari akar sosiologisnya. Dalam konteks pesantren, inilah juga nilai-nilai yang menghidupkan dunia pesantren sejak berabad-abad lalu.
Resonansi Pesantren: Relasionalitas yang Hidup
Saya harus jujur, salah satu tantangan terbesar dalam meneliti pesantren adalah masih adanya hierarki yang kaku dan sulit dicairkan. Doktrin takdzim (penghormatan) yang sangat tinggi antara guru (kiai/ustadz) dan murid (santri/alumni) menjadi contoh paling mudah soal hierarki ini. Namun, sosiabilitas bersama dalam tradisi pesantren dapat menciptakan ruang komunal baru di mana masing-masing orang tidak menempatkan dirinya sebagai pihak yang serba tahu.
Contoh konkret yang sangat menarik dari peleburan hierarki ini adalah tradisi bahtsul masail. Forum ini merupakan ruang terbuka di mana argumen diuji tanpa sekat status sosial; santri bisa beradu argumen fikih secara terbuka dengan para asatidz atau kiai muda, asalkan memiliki basis literatur kitab kuning yang kuat.
Selain itu, Ngopi menurut Husniyah juga membuka ruang dialogis yang transformatif. Alih-alih menjadi arena debat kusir untuk saling menjatuhkan, Ngopi menciptakan ruang inklusif untuk saling memahami. Melalui relasionalitas Ngopi, kita ditawarkan sebuah “perjumpaan transformatif” di mana perbedaan pendapat atau variasi pemikiran di antara para pengasuh dan santri diakui, dirayakan, dan dihargai sebagai sumber wawasan baru yang kaya, bukan sebagai penyimpangan. Itulah sebabnya, kehidupan di pesantren tidak ada yang benar-benar sendirian.
Kekuatan utama dari metodologi Ngopi ini terletak pada sentralitas nilai kebersamaan (togetherness) dan karakter nyantai (santai/rileks) yang menjadi watak asli disposisi budaya Indonesia. Kebudayaan pesantren sangat kental dengan kebersamaan ini; mulai dari makan bersama dalam satu nampan besar (mayoran) hingga mengantre mandi. Menggunakan pendekatan Ngopi memungkinkan pengetahuan akademik muncul secara organik dari ritme kehidupan sehari-hari mereka. Wawasan-wawasan epik sering kali tidak lahir saat wawancara formal terjadwal, melainkan saat momentum silaturahmi informal atau ketika duduk santai menggelar tikar setelah pengajian malam. Dialog yang terjadi sambil menyeruput kopi dan menikmati camilan seadanya justru melahirkan jawaban yang jauh lebih jujur, mendalam, dan terbebas dari kepura-puraan.
Di samping itu, aspek akuntabilitas relasional dan kepercayaan jangka panjang menjadi fondasi penting. Di dunia pesantren, sebuah hubungan sosial tidak dibangun atas dasar transaksional, melainkan atas dasar berkah dan kepercayaan. Metodologi Ngopi mempraktikkan etika melalui hubungan langsung, di mana persetujuan dan kepercayaan dinegosiasikan secara terus-menerus melalui ketulusan sikap (srawung), rasa saling percaya, dan komitmen menjaga nama baik pesantren.
Dalam lanskap pesantren, hemat saya, tawaran ini sangat seksi karena mampu memvalidasi pengalaman hidup, laku spiritual (tirakat), dan kearifan lokal kaum santri sebagai pengetahuan yang setara dengan teori-teori akademik Barat yang mapan. Langkah ini secara langsung menantang apa yang disebut sebagai epistemicide: penghapusan cara mengetahui dan sistem pengetahuan non-Barat.
Terakhir, metodologi ini sangat mendukung pendekatan re-storying (bercerita kembali) dalam analisis data. Pesantren memiliki akar tradisi lisan (oral tradition) yang luar biasa kuat melalui penuturan kisah para ulama terdahulu (manaqib) atau tradisi gojlokan (candaan cerdas penuh kritik khas santri). Penggunaan re-storying berbasis Ngopi sangatlah cocok karena membiarkan narasi, metafora, dan suara asli masyarakat pesantren tetap utuh dalam konteks budayanya. Informasi tidak lagi dipecah-pecah secara brutal menjadi kategori atau coding abstrak yang kaku, melainkan disajikan kembali sebagai sebuah cerita utuh yang bernyawa.
Pengetahuan yang Lahir dari Perjumpaan
Membaca pesantren dengan semangat metodologi Ngopi menjadikan proses ilmiah jauh lebih etis, lebih memanusiakan subjek, dan lebih selaras dengan ritme kehidupan kaum sarungan yang tidak pernah memisahkan ilmu dari adab, teori dari praksis, atau guru dari murid secara absolut. Pengetahuan yang lahir dari proses ini bukan lagi pengetahuan tentang pesantren yang diambil dari luar dan dirumuskan di menara gading. Namun merupakan buah pikir kolaboratif yang tumbuh bersama pesantren: di serambi, di bawah sinar lampu teplok, dalam gojlokan yang penuh kasih, dan dalam diam yang juga penuh makna. Sebab pada akhirnya, sebagaimana filsafat relasionalitas mengingatkan kita: tidak ada yang benar-benar mengetahui sendirian. Pengetahuan, seperti juga manusia, selalu lahir dari perjumpaan. Wallahu a’lam.


















