Obrolan tadi malam mengalir tanpa beban. Diiringi kepulan asap kretek, kopi, dan derit kursi kayu, diskusi bersama Kiai Irfan Afifi, pengasuh langgar.co, mendadak bergeser dari sekadar nostalgia ke wilayah perenungan mendalam. Kiai Irfan, begitu sapaan akrabnya, dengan gaya bicaranya yang khas dan kaya narasi Nusantara, melontarkan sebuah sudut pandang menarik tentang Ki Ageng Suryomentaram, putra dari pasangan Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan Bendoro Raden Ayu Retnomandojo, yang oleh Kiai Irfan dideklarasikan sebagai filsuf Nusantara pertama.
Di tengah jagongan menjelang tengah malam, saya melontarkan sebuah pertanyaan sederhana: bagaimana jika tradisi epistemik pesantren yang berumur ratusan tahun itu dibaca menggunakan kacamata Ki Ageng Suryomentaram?
Pertanyaan ini saya ajukan karena pesantren sering kali hanya dipahami dari kacamata syariat, hafalan kitab kuning, atau struktur keilmuan hukum Islam yang kaku. Disebut kaku karena hukum Islam selama ini kerap dipahami sebatas lima kategori: yujabu (wajib), yustahabu atau yusannu (sunnah), yuhromu (haram), yubahu (boleh), dan yukrohu (tidak disukai/dibenci). Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, ada ruang “rasa” yang sangat dominan di sana. Sebuah wilayah batin yang menjadi fondasi utama tempat para santri menimba ilmu.
Sebelum melangkah ke lorong-lorong pesantren, ada baiknya kita memahami dulu apa yang ditawarkan Ki Ageng Suryomentaram melalui gagasannya, Kawruh Jiwa atau Kawruh Begja (ilmu kebahagiaan). Putra ke-55 Hamengku Buwono VII yang memilih menjadi petani biasa dan menanggalkan gelar kebangsawanannya ini mengajarkan bahwa penderitaan manusia umumnya bersumber dari kebingungan mengelola ego, yang ia sebut sebagai Kramadangsa.
Kramadangsa secara sederhana dapat dimengerti sebagai gambaran diri semu yang selalu haus akan pengakuan, materi, dan status sosial. Ketika seseorang terlalu melekat pada Kramadangsa-nya, ia akan mudah goyah oleh pujian dan runtuh oleh celaan.
Bagi Ki Ageng Bringin, nama lain Kiai Ageng Suryomentraman yang lebih akrab di telinga masyarakat Salatiga, kebahagiaan sejati bukanlah akumulasi hal-hal di luar diri, melainkan kemampuan memahami “rasa” sendiri secara jujur. Bahagia itu sederhana: ketika manusia paham batas, tahu kapan harus merasa cukup, dan terbebas dari jerat ekspektasi buatan. Dalam kearifan Jawa, inilah puncak dari sikap “ora kagetan, ora gumunan”: tidak mudah terkejut, tidak gampang heran.
Lantas, di mana letak persambungannya dengan dunia pesantren?
Jika kita mencermati tradisi epistemik, atau sistem pengetahuan, di pesantren, proses belajar di sana sejatinya tidak berhenti pada transfer of knowledge atau sekadar memamah teks-teks klasik melalui jalur riwayat maupun dirayah (metode periwayatan dan penalaran atas teks). Lebih dari iru, pesantren sesungguhnya adalah laboratorium “olah rasa” yang sangat masif.
Pengetahuan di pesantren tidak hanya ditangkap oleh akal rasional (‘aql), tetapi diresapi hingga merasuk ke dalam dada: dalam istilah tasawuf disebut shodr, qalb, fuad, lubb, dan sirr. Di sinilah letak perjumpaan epistemiknya:
Pertama, sikap takzim dan khidmat. Tindakan takzim (penghormatan) kepada kiai dan tradisi ngabdi (berkhidmat) bukanlah bentuk perbudakan modern. Dalam kacamata Kawruh Jiwa, itu adalah ikhtiar melatih jiwa untuk meruntuhkan ego Kramadangsa.
Kedua, pengetahuan yang menjadi “hal”. Santri dibentuk agar ilmu yang dipelajari tidak sekadar menjadi wacana di kepala, melainkan mengendap menjadi hal: sebuah keadaan jiwa yang tenang, tawadu’, dan peka terhadap lingkungan sekitar.
Ketiga, pola hidup komunal dan prihatin. Di dalam bilik-bilik asrama yang sederhana, santri belajar untuk melebur: makan dari satu talam yang sama, tidur bersanding di atas kasur tipis, dan menjalani rutinitas harian yang serba seragam. Pola hidup prihatin atau tirakat ini pada dasarnya adalah latihan praktis Kawruh Jiwa. Santri dilatih untuk tidak menggantungkan kebahagiaan pada fasilitas material.
Selanjutnya, dalam obrolan bersama Kiai Irfan Afifi, saya menarik benang merah bahwa tradisi epistemik pesantren ini sebenarnya adalah jawaban bagi krisis eksistensial manusia modern. Hari ini, banyak orang mengalami kelelahan mental (burnout) karena terus-menerus mengejar validasi di media sosial dan terjebak dalam kompetisi yang tak ada habisnya. Di sinilah kehidupan komunal pesantren menunjukkan kesaktiannya.
Ketika seorang santri berhasil menaklukkan egonya, ia tidak akan gampang silau oleh kemewahan duniawi di kemudian hari. Ia memiliki benteng batin yang kokoh karena telah selesai dengan dirinya sendiri.
Diskusi bersama Kiai Irfan tadi malam akhirnya bermuara pada sebuah kesimpulan yang menyejukkan, setidaknya untuk saya pribadi. Baik Ki Ageng Suryomentaram maupun tradisi pesantren, keduanya sama-sama mengajarkan bahwa puncak dari segala pengetahuan adalah pengenalan terhadap diri sendiri.
Pendidikan sejati seharusnya tidak hanya melahirkan orang-orang pintar yang teralienasi dari jiwanya. Pendidikan harus mampu menuntun manusia menemukan rasa bahagianya yang otentik. Yakni, bahagia yang tidak bergantung pada riuh rendah tepuk tangan dunia.
Akhirnya, melihat pesantren dari kacamata Kawruh Jiwa menyadarkan kita bahwa di balik tembok-tembok benteng tradisi Islam Nusantara itu, tersimpan sebuah metode penyembuhan jiwa yang sangat maju. Sebuah sistem yang tidak hanya mengajari manusia cara bernalar, tetapi juga mengajari manusia cara “merasa” dan merayakan kebahagiaan dengan sejujur-jujurnya. Wallahu a’lam.


















