“Ngapain masih baca buku? Sekarang kan ada ChatGPT.”

“Kalau mau tahu sesuatu, tinggal tanya AI.”

“Bikin tugas juga bisa dibantu. Bahkan bisa langsung jadi.”

Percakapan seperti itu mungkin semakin sering kita dengar. Terutama di kalangan anak muda. Ketika hampir semua pertanyaan bisa diketik di layar, buku terlihat seperti benda lama yang perlahan kehilangan fungsi. Buku dianggap serius dan menghabiskan waktu. Memahami isinya juga “berat”.  Sementara ChatGPT bisa memberikan jawaban dalam hitungan detik.

Informasi Melimpah, Wajib Belajar Memahami

Lalu, apakah membaca buku masih penting?  Saat ini  informasi bisa diperoleh dengan sangat mudah. Semakin gampang  kemampuan membaca secara mendalam menjadi semakin berharga. Masalah kita hari ini bukan kekurangan informasi. Kita justru kebanjiran informasi. Misalnya, setiap hari kita melihat video, membaca lalu lintas pesan di media sosial dan pesan dari berbagai platform digital. Kita tahu banyak hal memang, namun  belum tentu memahami banyak hal.

Di sinilah buku memiliki peran yang tidak mudah digantikan oleh ChatGPT. ChatGPT sangat membantu ketika kita membutuhkan jawaban cepat. Ia bisa menjelaskan konsep yang rumit. Aplikasi itu juga  bisa membantu mencari ide. Ia bahkan dapat membantu seseorang memahami materi yang sebelumnya terasa sulit.

Tetapi ada satu hal yang tidak boleh dilupakan. AI memberikan jawaban, sedangkan buku mengajak kita menjalani proses berpikir.  Ketika membaca buku, kita tidak hanya mencari informasi. Kita mengikuti jalan pikiran penulis. Diajak memahami masalah dari awal. Lalu melihat bagaimana sebuah argumentasi dibangun. Nah, kemudian kita menemukan alasan mengapa sebuah kesimpulan dibuat. Hikmah lain yang pernah saya dapatkan, kita juga belajar bahwa sebuah persoalan sering kali tidak memiliki jawaban yang sederhana.

- Poster Iklan -

Proses seperti ini penting sangat bagi generasi muda. Bayangkan seorang mahasiswa yang ingin memahami komunikasi politik. Ia bisa bertanya kepada ChatGPT, “Apa itu komunikasi politik?” Dalam beberapa detik, ia mendapatkan penjelasan singkat dan mudah.

Tetapi ketika ia membaca sebuah buku tentang komunikasi politik, pengalaman yang diperoleh berbeda. Ia bertemu dengan teori. Ia membaca perdebatan para ilmuwan. Ia melihat contoh kasusnya. Juga menemukan perbedaan perspektif. Bahkan mungkin ia tidak setuju dengan pendapat penulis sendiri.

Justru di situlah proses intelektual terjadi. Membaca buku melatih kita untuk tidak buru-buru percaya. Kita belajar bertanya. Mengapa penulis mengatakan demikian? Apa buktinya? Apakah ada sudut pandang lain? Apakah argumentasinya masuk akal? Apakah contoh yang diberikan masih relevan dengan kondisi sekarang?

Kemampuan semacam ini sangat penting di tengah banjir informasi digital. Media sosial membuat semua orang bisa berbicara. Masalahnya, tidak semua yang berbicara memiliki pengetahuan yang cukup. Informasi juga tak seluruhnya benar. Misalnya viral belum tentu benar. Pengalaman saya dalam menguji skripsi, tak semua tulisan yang terlihat meyakinkan memiliki dasar yang kuat.

Oleh karena itu, membaca buku sebenarnya bukan sekadar kegiatan akademik. Membaca adalah latihan literasi. Ia membantu kita membangun daya tahan terhadap informasi yang menyesatkan.

Orang yang terbiasa membaca juga memiliki modal lebih baik untuk memahami konteks. Ia tidak mudah terjebak pada potongan informasi. Seorang pembaca tahu bahwa satu peristiwa dapat dilihat dari banyak perspektif.

Kita bisa lihat contohnya sederhana. Saat seseorang melihat sebuah video berdurasi tiga puluh detik langsung marah. Komentar keluar semua. Lalu buru-buru kita membagikannya.  Padahal, tiga puluh detik tidak selalu cukup untuk memahami sebuah persoalan.

Maka, buku mengajarkan kesabaran yang berbeda. Kita belajar membaca persoalan secara utuh. Seseorang belajar menunda kesimpulan. Pembaca buku  belajar bahwa realitas tidak selalu sesederhana judul atau potongan video.

Buku dan AI Bisa Menjadi Pasangan

Ada manfaat lain yang sering tidak kita sadari. Membaca buku memperkaya kemampuan berbahasa. Semakin banyak membaca, banyak kosakata yang dikenal. Juga,  banyak gaya tulisan yang ditemui, semakin kaya cara kita menyampaikan gagasan. Itu semua penting bagi siapapun terutama  generasi yang hidup dalam dunia komunikasi.

Seseorang mungkin bisa meminta ChatGPT membuat tulisan. Namun demikian, jika ia  sendiri tidak banyak membaca, ia akan kesulitan menilai apakah tulisan itu bagus. Artificial Inteligence (AI) dapat membantu menghasilkan teks. Namun begitu, kualitas pertanyaan dan penilaian tetap sangat bergantung pada manusia yang menggunakannya.

Semakin luas bacaan seseorang, biasanya semakin baik pula ia memberikan pertanyaan. Tahu apa yang ingin dicari atau bisa membedakan informasi penting dan tidak penting. Ia dapat mengoreksi jawaban AI. Ia juga tidak mudah menerima begitu saja setiap kalimat yang dihasilkan mesin.

Dengan kata lain, membaca buku justru membuat seseorang menjadi pengguna AI yang lebih cerdas. Kita tidak perlu memusuhi ChatGPT. Jangan pula menganggap teknologi sebagai ancaman bagi buku. Keduanya dapat berjalan bersama.

Misalnya, gunakan ChatGPT untuk bertanya, lalu gunakan buku untuk memperdalam.  AI untuk menemukan kemungkinan. Nah, buku untuk memahami konteks. Gunakan teknologi modern untuk mempercepat pekerjaan. Lalu, gunakan membaca untuk mempertajam pikiran.

Generasi muda hari ini sebenarnya memiliki keuntungan yang luar biasa. Generasi sebelumnya harus pergi ke perpustakaan untuk mencari informasi. Sekarang pengetahuan berada di ujung jari. Persoalannya bukan lagi bagaimana mendapatkan informasi, tetapi bagaimana mengolahnya menjadi pengetahuan dan kebijaksanaan.

Oleh karena itu, membaca buku tidak harus selalu berarti membaca ratusan halaman dalam sekali duduk. Mulailah dari sepuluh halaman sehari. Pilih buku yang memang menarik. Novel, biografi, sejarah, psikologi, komunikasi, filsafat, bisnis, agama, atau apa saja yang membuat rasa ingin tahu tumbuh. Terserah. Yang penting bukan terlihat rajin membaca. Penting kiranya  pikiran kita bergerak setelah membaca.

Sebab pada akhirnya, teknologi akan terus berubah. ChatGPT akan semakin pintar. Mesin pencari akan semakin cepat dengan melimpahnya informasi.  Namun, manusia tetap membutuhkan kemampuan untuk berpikir, merenungkan, memahami,  lalu mengambil keputusan.

Maka, salah satu cara paling sederhana untuk merawat kemampuan itu adalah membaca buku. Jadi, di era ChatGPT, kita bukan semakin tidak membutuhkan buku. Sebaliknya, kita membutuhkan buku agar tidak menjadi manusia yang hanya pandai bertanya kepada mesin. Di sisi lain kita kehilangan kemampuan untuk berpikir dengan kepala sendiri.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here