Judul forumnya saja hampir tak muat dalam satu tarikan napas: Decolonizing Islamic Studies, Islamic Family Law, and Nusantara Ulama Manuscripts. Forum di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu mempertemukan akademisi dan pegiat manuskrip, termasuk filolog Universitas Leiden, Jochem van den Boogert. Semula saya hanya menemani Gus Najib (Dr KH Ahmad Najib AR) dan Lora Utsman (KH Utsman Hasan Al Akhyari). Namun, dua pertanyaan sederhana muncul di benak saya: untuk apa kita bersusah payah mengurus kertas yang sudah menguning, dan siapa yang selama ini menjaga teksnya tetap utuh?
Di rak rumah ada kitab-kitab bersampul lusuh yang dulu saya anggap bacaan wajib belaka, dan dua pertanyaan tadi belum pernah terlintas. Di antara sesi yang padat, satu paparan membuat saya berhenti mencatat hal lain. Saya pulang dengan satu keyakinan: turots membutuhkan dua hal sekaligus, yaitu perawat yang telaten dan pembaca yang sanggup. Jawabannya datang dari Lora Utsman, Ketua Lajnah Turots Ilmi Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan (selanjutnya Lajnah) sekaligus Ketua Nahdlatut Turots (NT). Tujuh tahun terakhir, beliau dan timnya bekerja dalam senyap merawat peninggalan intelektual Syaikhona Kholil. Paparannya bertumpu pada dua kata: sarana dan tujuan.

Sarana, atau wasa’il, adalah kerja yang paling mudah kita bayangkan. Naskah dipulihkan dan difoto (digitalisasi). Isinya dicatat dalam daftar (fihris), lalu disunting secara ilmiah lewat tahqiq, yaitu penelusuran banyak salinan untuk mendekati teks yang ditulis pengarangnya. Setelah itu naskah dicetak, diterbitkan, dan disebarkan. Bagian terakhir sering dianggap sepele, padahal naskah yang hanya punya satu salinan rentan hilang oleh api, banjir, atau rayap. Lora Utsman menyandarkan kerja ini pada kaidah usul fikih, ma laa yatimmul wajib illa bihi fa-huwa wajib: sesuatu yang tanpanya kewajiban tak sempurna ikut menjadi wajib. Jadi, merawat naskah bukan hobi orang yang suka debu, melainkan anak tangga.
Anak tangga itu menuju tujuan, atau maqashid: menghidupkan naskah (ihya’ al-nuskhah). Lora Utsman menyebut tiga rambu, yakni mengusahakan pengamalan dan buah manfaat, membiasakan diri membaca warisan, serta mengamalkan mutiara ilmu. Dalam salindia yang disajikan Lora Utsman, pengamalan disebut dua kali, dan saya membacanya sebagai penekanan, bukan kebetulan.
Sasaran akhirnya, menurut beliau, adalah tokoh-tokoh yang selaras dengan zamannya. Frasa itu saya garis bawahi, sebab ia menolak dua godaan sekaligus: menyimpan masa lalu seperti benda keramat atau membuangnya karena merasa sudah usang. Naskah yang selesai direstorasi lalu tak pernah dibaca, pikir saya, hanya pindah dari gudang ke etalase.
Lalu bagaimana orang diajari membaca? Lora Utsman merujuk metode Syaikhona Kholil yang bertumpu pada tiga syarat: kitabah (menulis dan mencatat dengan cermat), hifzh (menghafal matan, yaitu teks pokok), dan fahm (memahami maksud dan maknanya secara mendalam). Menurut paparan itu, lebih dari 500.000 orang dari seluruh Indonesia lahir dari metode khas asuhan Syaikhona, jumlah yang disandingkan dengan 3.000 kiai dan 200 ulama Arab. Angka sebesar itu tak bisa saya uji, jadi saya mencatatnya sebagai klaim pemaparan, bukan temuan saya. Namun, arah pesannya jelas: ilmu yang kokoh dibangun dari tulisan, hafalan, dan pemahaman sekaligus.
Kini Lajnah mencoba menghidupkan metode itu dalam skala kecil. Di Bangkalan, Madura, berdiri Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil dengan dua puluh santri pada angkatan pertama dan program intensif dua tahun. Lembaga itu lahir setelah kursus kitab Al-Mukhtashar fi Awzan al-‘Arudh dinilai berhasil. Daftar kitabnya tidak glamor. Santri memulai dari ilmu alat, yaitu perangkat untuk membaca kitab. Nahu dan saraf dipelajari lewat Al-Ajrumiyah, Tashrif al-‘Izzi, dan Alfiyah Ibnu Malik, nazam seribu bait tentang tata bahasa Arab.
Mantik dan bahasa ditempuh lewat Isaghuji, Al-Mukhtashar fi ‘Ilm al-‘Arudh, dan Al-Madkhal fi al-Balaghah; fikih dan usul fikih lewat Al-Matn al-Syarif dan nazam Zubad. Urutannya masuk akal bagi saya. Santri tak langsung diminta membedah kitab besar sebelum menguasai alatnya, seperti tukang kayu yang belajar mengasah pahat sebelum mengukir. Di sinilah tiga syarat tadi menemukan syarat pertamanya: tanpa alat, santri sulit menulis dengan cermat, apalagi menghafal dan memahami. Sebelum naskah bisa hidup, harus ada pembaca yang sanggup membacanya.
Judul forum menyebut dekolonisasi studi Islam. Sejauh yang saya catat, Lora Utsman tidak memakai kata itu, jadi hubungan ini adalah tafsir saya. Pesantren menawarkan satu hal yang dicari forum tersebut: naskah diperlakukan sebagai bagian dari rantai guru ke murid (sanad), bukan semata benda yang diteliti. Sementara itu, ketelitian filologi, yang di forum hadir lewat para filolog seperti Jochem van den Boogert, menjaga teks tetap jujur pada pengarangnya. Keduanya saling melengkapi: sanad menjaga hubungan pembaca dengan gurunya, filologi menjaga hubungan teks dengan penulisnya. Maka pertanyaan kedua saya terjawab: teks dijaga guru dan filolog yang bekerja berdampingan.
Tinggal satu soal yang belum terjembatani, yaitu jarak waktu antara kita dan para penulis naskah itu. Lora Utsman menampilkan dua nukilan di salindianya. Imam Malik berkata, “Tidak akan baik akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah memperbaiki awalnya.” Ibnu al-Wardi bersyair, “Jangan katakan para pemiliknya telah pergi; siapa pun yang menempuh jalan yang sama pasti sampai.” Rentang berabad-abad tidak menutup jalan itu. Yang menutupnya adalah berhenti membaca. Dua kutipan itu bukan hiburan; keduanya adalah argumen bahwa jalan lama masih bisa ditempuh.
Sarana tanpa tujuan menghasilkan museum yang rapi. Tujuan tanpa sarana menghasilkan semangat yang mudah salah kutip. Keduanya adalah sisi dari satu koin, dan koin itu baru bernilai kalau dibelanjakan: dibaca, dipahami, dan diamalkan. Pertanyaan pertama saya di awal pun terjawab. Kita merawat kertas yang menguning supaya suatu hari ada orang yang membacanya dengan benar, lalu mengamalkannya. Sederhana, tetapi jarang kita tuntaskan. Tujuh tahun belum mengakhiri pekerjaan itu, tetapi arahnya sudah terang. Pulang dari forum, saya memandang rak-rak buku dengan cara lain.
Wallahu a’lamu bis-showab.




















