Ada buku yang sejak pertama kali melihat sampulnya sudah membuat kita ingin membacanya. Ada juga buku yang justru membuat kita ingin menjauhinya. Saya pernah mengalami keduanya. Semua itu pengaruh desain cover, judul, atau nama penulisnya.

Ketika masih menjadi mahasiswa, saya pertama kali melihat buku Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib karya Ahmad Wahib yang diterbitkan LP3ES. Jujur saja, saya tidak langsung tertarik. Judulnya terasa berat. Ada kata “pemikiran Islam” di sana. Saya membayangkan isinya pasti serius. Mungkin penuh istilah. Mungkin juga membuat kepala cepat pusing.

Sebagai mahasiswa, saat itu saya lebih tertarik membaca buku yang terasa ringan. Buku yang langsung bisa dipahami. Buku yang tidak terlalu banyak mengajak berpikir. Apalagi kalau harus membaca buku dengan judul seperti Pergolakan Pemikiran Islam. Rasanya seperti sedang mendapat tugas tambahan dari dosen.

Buku itu akhirnya hanya saya lihat. Sesekali saya pegang. Lalu saya letakkan kembali. Dimana saya melihat pertama kali buku itu? Di wisma “SUN” jalan Surya, Kentingan, Surakarta.

- Poster Iklan -

Namun, rasa penasaran ternyata lebih kuat daripada rasa malas.

Saya mulai “mencuri” untuk membacanya. Tidak langsung banyak. Hanya beberapa halaman. Lalu beberapa halaman berikutnya. Anehnya, semakin dibaca, buku itu justru semakin menarik.

Saya seperti menemukan suara seorang anak muda yang sedang bertanya kepada dirinya sendiri. Ahmad Wahib (wartawan Tempo yang meninggal karena kecelakaan) tidak tampil sebagai seseorang yang merasa sudah selesai dengan pemikirannya. Ia justru banyak bertanya dan ungkatan kegelisahan lalu mempertanyakan banyak hal. Ia seperti berdialog dengan dirinya sendiri.

Di situlah saya mulai ketagihan tentang dinamika pemikiran penulisnya. Saya kadang merasa sedang membaca catatan seorang manusia yang sedang berusaha memahami kehidupan. Bukan sekadar membaca teori atau pendapat seseorang. Saya seperti diajak masuk ke dalam proses berpikirnya.

Tentu saja, proses itu membuat saya tidak nyaman. Tetapi anehnya, justru ketidaknyamanan itulah yang justru menarik. Anak muda yang berposes dari pemahaman Islam tekstual dan dibenturkan dengan kenyataan sosial yang sangat berbeda jauh. Gejolak anak muda ndalam proses memahami dan menerjemahkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari yang lebih kompleks. Setidaknya itu pemahaman awal saya.

Ketika Membaca Membuat Saya Tidak Nyaman

Ada satu pelajaran penting yang saya dapat dari buku Ahmad Wahib. Membaca ternyata tidak selalu membuat kita semakin nyaman dengan apa yang sudah kita yakini. Kadang membaca justru membuat kita gelisah.

Kita mulai bertanya. Benarkah yang selama ini saya anggap benar memang benar? Mengapa saya percaya pada pendapat tertentu? Dari mana saya mendapatkan keyakinan itu? Apakah saya pernah membaca sumber lain? Apakah saya hanya mengikuti apa yang dikatakan orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu perlahan tumbuh dalam diri saya. Saya kemudian sadar bahwa masalah terbesar seorang mahasiswa bukan karena tidak memiliki pendapat. Masalahnya adalah memiliki pendapat tanpa pernah menguji dari mana pendapat itu berasal.

Buku Ahmad Wahib memberi saya pengalaman membaca yang berbeda. Ia menunjukkan bahwa berpikir adalah proses. Tidak selesai dalam satu malam. Juga, tak selesai hanya karena seseorang sudah mendapatkan jawaban.

Sejak saat itu, cara saya membaca buku mulai berubah. Saya tidak lagi hanya mencari buku yang memberikan jawaban. Saya mulai mencari buku yang memberikan pertanyaan. Tapi ini kadang-kadang. Yang pasti membaca karena membutuhkan dan senang saja.

Saya mulai tertarik membaca buku-buku lain. Buku yang sebelumnya mungkin saya anggap terlalu berat. Ada teman yang kemana-mana membawa buku karya Kuntowijoyo berjudul Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi (1991). Buku itu berat bagi saya. Saya waktu itu belum berpikir untuk membacanya, tetapi teman saya itu bangga dengan bukunya. Mungkin levelnya sudah sedemikian tinggi. Saya malah membaca buku-buku motivasi dan novel yang lebih menghibur. Namun, saya mulai menikmati proses tidak memahami. Bagi saya, tidak memahami isi buku itu perubahan besar. Dari tidak tertarik menjadi tertarik meski tidak paham.

Dulu saya membaca agar tahu. Kemudian saya membaca agar bisa terangsang berpikir. Setelah itu saya membaca untuk mempertanyakan kembali apa yang saya pikir sudah saya ketahui.

Di situlah saya merasakan bahwa membaca buku bukan sekadar aktivitas akademik. Membaca adalah latihan mental. Buku melatih saya untuk tidak buru-buru percaya. Ia mengajari saya membandingkan. Buku juga memaksa saya melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Yang paling penting, buku mengajari saya bahwa dunia tidak sesederhana sebagaimana yang kita lihat.

Buku yang Menentukan Cara Kita Melihat Dunia

Hari ini anak muda hidup dalam situasi yang berbeda. Informasi datang begitu cepat. Satu video pendek bisa membuat seseorang merasa sudah memahami sebuah persoalan. Satu unggahan media sosial bisa membuat seseorang yakin bahwa dirinya sudah mengetahui kebenaran. Padahal, mengetahui informasi tidak sama dengan memahami persoalan.

Saya kira di sinilah kebiasaan membaca buku menjadi semakin penting. Buku membutuhkan kesabaran. Kita tidak bisa membaca buku seperti menggulir TikTok atau Instagram. Kita harus berhenti. Misalnya, membaca kalimat, lalu paragraf dan mencerna gagasannya. Kemudian menghubungkannya dengan pengalaman dan pengetahuan yang sudah kita miliki. Proses itu memang pelan, namun justru karena pelan, pikiran mempunyai kesempatan untuk “bekerja”.

Pengalaman membaca Ahmad Wahib ketika mahasiswa akhirnya memengaruhi kebiasaan membaca saya pada tahun-tahun berikutnya. Satu buku membuka pintu kepada buku lain. Satu ketidaktahuan, melahirkan pertanyaan berikutnya.

Saya kemudian memahami bahwa buku yang kita baca hari ini bisa menentukan cara kita berpikir bertahun-tahun kemudian. Bacaan bukan sekadar tumpukan kertas di rak, namun bahan baku pikiran.

Apa yang kita baca ikut menentukan pertanyaan yang kita ajukan. Pertanyaan menentukan cara kita melihat masalah. Nah, cara melihat masalah kemudian memengaruhi cara kita mengambil keputusan.

Oleh karena itu, saya selalu percaya bahwa kebiasaan membaca mahasiswa tidak boleh berhenti pada buku yang diwajibkan dosen. Kuliah memang penting, namun pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Di luar mahasiswa harus memiliki keberanian untuk mencari bacaan sendiri.

Saya teringat pengalaman ketika pertama kali membaca Ahmad Wahib di atas. Saya hampir melewatkan buku itu hanya karena merasa judulnya berat. Untungnya saya kemudian penasaran. Dari rasa penasaran itu, saya menemukan pengalaman membaca yang mengubah cara saya memandang buku.

Mungkin itulah kekuatan sebuah buku. Ia tidak selalu mengubah hidup kita dalam satu malam. Kadang ia hanya menanamkan satu pertanyaan. Pertanyaan itu kemudian tinggal di kepala. Bertahun-tahun kemudian, pertanyaan tersebut tumbuh menjadi cara berpikir.

Bagi saya, buku Pergolakan Pemikiran Islam bukan hanya sebuah buku yang pernah saya baca ketika menjadi mahasiswa. Ia menjadi salah satu pintu yang memperkenalkan saya pada dunia bacaan yang lebih luas. Dari sana saya belajar bahwa membaca bukan pekerjaan untuk mendapatkan nilai. Membaca adalah cara merawat pikiran agar tidak mudah dikendalikan oleh apa pun yang datang kepadanya.

Mengapa? Apa yang saya baca hari ini mungkin belum terasa manfaatnya sekarang. Tetapi ia bisa menentukan bagaimana saya berpikir dan mengambil keputusan di masa depan. Maka, kalau ingin tahu seperti apa kualitas pemikiran seseorang beberapa tahun mendatang, saya kira salah satu caranya sederhana, lihat buku apa yang ia baca hari ini.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here