kitab kuning

Bayangkan membaca buku tanpa titik, tanpa koma, dan tanpa huruf vokal sama sekali. Bagi santri, itu bacaan sehari-hari.

Coba bayangkan sebuah buku setebal ratusan halaman, ditulis penuh dari atas ke bawah, tapi tanpa satu pun titik, koma, atau tanda tanya. Tidak ada huruf vokal yang menunjukkan cara membacanya. Yang ada hanya deretan huruf Arab yang rapat, di atas kertas berwarna kuning kecokelatan. Bagi orang awam, ini kelihatan seperti teka-teki yang mustahil dipecahkan. Tapi bagi santri di pesantren, inilah menu bacaan harian mereka: kitab kuning.

Orang biasa menyebutnya “kitab gundul” karena “telanjang” dari tanda baca. Para akademisi punya istilah sendiri: turats, warisan intelektual ulama klasik. Walau usianya berabad-abad dan kertasnya sudah menguning, di dalam pesantren kitab ini tidak pernah dianggap barang usang. Ia hidup, dipelajari, diperdebatkan, dan terus diwariskan dari kiai ke santri, dari generasi ke generasi. Untuk memahami kenapa kitab yang terlihat “rumit” ini justru menjadi jantung keilmuan pesantren, kita perlu membedah anatominya satu per satu.

Kitab Tanpa Tanda Baca: Bagaimana Bisa Dibaca?

Hal pertama yang bikin orang mengernyitkan dahi ketika melihat kitab kuning adalah ketiadaan sandangan, yaitu tanda vokal seperti fathah, dlammah, atau kasrah dalam bahasa Arab. Tidak ada juga titik, koma, atau tanda tanya seperti pada buku-buku modern. Praktis, pembaca dituntut sudah menguasai tata bahasa Arab (nahwu dan sharaf) dengan matang. Salah menentukan huruf vokal saja, bisa berakibat fatal: subjek bisa tertukar jadi objek, atau makna kalimat berubah total.

Justru di sinilah tantangan sekaligus daya tarik kitab kuning. Ia memaksa pembacanya untuk benar-benar memahami struktur bahasa, bukan sekadar melafalkan apa yang sudah ditandai. Semacam ujian keterampilan yang terus-menerus, setiap kali membuka halaman baru.

- Poster Iklan -

Dari sisi fisik, kitab-kitab klasik dulunya dijilid dengan sistem “korasan” (karasah), yaitu lembaran-lembaran yang sengaja tidak dijahit mati, melainkan dibiarkan lepas dan bisa dipisah-pisah. Sistemnya cukup praktis: seorang santri cukup membawa beberapa lembar yang sedang ia pelajari hari itu, tanpa perlu memanggul satu jilid penuh yang bisa setebal ratusan halaman. Meski begitu, di era sekarang, banyak kitab kuning yang sudah dicetak dalam format buku kontemporer supaya lebih praktis disimpan dan dibawa.

 Kode-kode Rahasia di Dalam Teks

Kalau buku modern berpindah topik dengan alinea baru, kitab kuning punya caranya sendiri. Strukturnya berjenjang dari unit paling besar ke paling kecil: kitabun (buku besar), lalu babun (bab), fashlun (pasal), sampai far’un (cabang pembahasan). Uniknya lagi, perpindahan antar-subtopik ditandai dengan istilah-istilah khusus, semacam kode isyarat, misalnya tatimmah (pelengkap), muhimmah (hal penting), atau tanbih (peringatan).

Ada pula kode-kode untuk menunjukkan kekuatan pendapat ulama. Istilah al-madzhab atau al-ashlah digunakan untuk menandai pendapat yang paling kuat dan dipegang. Sementara ijtima’an atau ittifaqan menunjukkan adanya kesepakatan (konsensus) di antara para ulama. Bagi yang sudah terbiasa, kode-kode ini seperti rambu lalu lintas yang memudahkan navigasi di tengah pembahasan yang padat.

 Tiga Lapis Ilmu: Matan, Syarah, dan Hasyiyah

Dunia literasi pesantren mengenal semacam “kasta” kitab yang menunjukkan seberapa dalam sebuah teks membahas suatu persoalan. Ada tiga jenjang utama: matan, syarah, dan hasyiyah. Cara termudah memahaminya adalah lewat perumpamaan pohon: matan adalah benihnya, syarah adalah batang dan cabang yang tumbuh darinya, dan hasyiyah adalah hutan luas yang terbentuk ketika pohon itu terus dikaji dan diperkaya oleh generasi-generasi berikutnya.

Pertama, Matan: padat, ringkas, dan butuh penjelasan. Matan adalah naskah inti yang ditulis sangat ringkas. Penyusunnya (disebut muallif atau mushannif) hanya memuat inti-inti persoalan tanpa uraian panjang lebar. Karena saking ringkasnya, kitab matan sering kali sulit dipahami begitu saja tanpa bantuan penjelasan tambahan dari kitab syarah.

Menariknya, kitab matan sendiri kadang merupakan ringkasan dari kitab lain yang lebih tebal, biasa disebut mukhtashar. Misalnya, kitab al-Muharrar karya Imam ar-Rafi’i adalah ringkasan dari al-Wajiz karya Imam al-Ghazali. Ada juga yang ditulis dalam bentuk syair (nadzam) supaya lebih mudah dihafal, seperti Alfiyah dalam ilmu nahwu. Beberapa matan populer di kalangan pesantren antara lain Bidayat al-Mubtadi’ (Mazhab Hanafi), Mukhtasar Khalil (Mazhab Maliki), al-Ghayah wa at-Taqrib (Mazhab Syafi’i), dan Mukhtasar al-Khiraqiyy (Mazhab Hanbali).

Kedua, Syarah: ketika benih mulai tumbuh. Jika matan adalah benih, syarah adalah pohonnya. Kitab syarah ditulis khusus untuk mengulas dan menjelaskan matan atau mukhtashar, kata demi kata, istilah demi istilah. Penulis syarah biasanya juga menampilkan pandangan-pandangan ulama lain terkait persoalan yang dibahas, sehingga cakupannya jauh lebih luas dibanding matan aslinya.

Menariknya, ada juga syarah yang justru mengulas syarah lain, membentuk semacam rantai keilmuan yang panjang. Contohnya Syarh Fath al-Qadir karya Ibnu al-Humam yang mensyarahi kitab al-Hidayah, padahal al-Hidayah sendiri sebenarnya adalah syarah dari kitab Bidayat al-Mubtadi’. Biasanya, penulis syarah punya hubungan keilmuan (sanad) langsung dengan penulis kitab asal, entah sebagai murid atau pengikut mazhabnya. Itulah sebabnya jarang sekali ditemukan seorang pensyarah yang menyanggah pandangan gurunya sendiri.

Ketiga, Hasyiyah: ketika pohon menjadi hutan. Tingkatan paling rumit adalah hasyiyah, yaitu kitab berbentuk komentar (ta’liq) atau catatan (mulahazhat) atas sebuah kitab syarah. Bentuknya mirip syarah, hanya saja penulis hasyiyah biasanya memilih kata atau frasa tertentu saja dari kitab syarah untuk dikupas lebih dalam, bahkan bisa melebar jauh ke berbagai disiplin ilmu lain.

Contohnya Hasyiyah Ibn ‘Abidin, yang mengomentari kitab ad-Durr al-Mukhtar karya al-Haskafi (yang sendiri sebenarnya sudah berbentuk hasyiyah panjang menyerupai syarah). Ada pula Hasyiyah asy-Syarqawi, komentar atas Syarh at-Tahrir karya Zakaria al-Anshari.

Studi Kasus: Dari Setetes Air Hujan ke Kiamat

Supaya lebih terasa, mari lihat contoh nyata bagaimana tiga jenjang ini bekerja lewat topik sederhana: air untuk bersuci.

Di level matan (kitab Taqrib), kalimatnya sangat singkat: “Air yang boleh untuk menyucikan ada tujuh: air langit, air laut, air sungai…” dan seterusnya. Padat, tanpa penjelasan.

Gambar 1. Halaman kitab al-Ghayah wa at-Taqrib (matan) yang memuat daftar tujuh jenis air suci.

Begitu masuk ke level syarah (Fath al-Qarib), kalimat singkat tadi mulai dijabarkan kata per kata. Penulis menjelaskan bahwa “air langit” berarti hujan, “air laut” berarti air asin, dan menyimpulkan bahwa semua air yang turun dari langit atau keluar dari bumi pada dasarnya suci.

Gambar 2. Halaman kitab Fath al-Qarib (syarah) yang menguraikan makna tiap jenis air satu per satu.

Nah, di sinilah bagian paling menakjubkan. Ketika masuk ke level hasyiyah (Al-Bajuri), pembahasan satu frasa saja, “air sungai”, bisa melebar sangat jauh. Penulis tidak hanya bicara soal air, tapi masuk ke ranah linguistik (cara membaca kata nahr dengan tepat), lalu melompat ke geografi (menyebut sungai Nil, Furat, dan Jihun), bahkan sampai ke teologi dan eskatologi: dipercaya bahwa sungai-sungai besar itu berasal dari surga, dan kelak akan “diangkat” kembali saat munculnya Ya’juj dan Ma’juj menjelang kiamat.

Gambar 3. Halaman Hasyiyah al-Bajuri yang melebarkan pembahasan “air sungai” hingga ke geografi dan eskatologi.

Dari satu kata sederhana di kitab matan, lahirlah cakrawala pengetahuan yang luar biasa luas di kitab hasyiyah. Begitulah cara pesantren mengajarkan santrinya berpikir berlapis: mulai dari inti persoalan, merambat ke detail, sampai eksplorasi filosofis yang mendalam.

Silsilah Kitab: Peta Keluarga Besar Ulama

Peneliti asal Belanda, Martin van Bruinessen (1999), pernah menelusuri jejak tradisi literasi pesantren ini dan menemukan sesuatu yang menarik: kitab-kitab kuning ternyata membentuk semacam “pohon keluarga”, mirip silsilah keturunan, yang menghubungkan satu kitab dengan kitab lain lintas generasi dan lintas benua.

Bagan di atas memperlihatkan bagaimana satu kitab matan dalam Mazhab Syafi’i, yaitu Minhaj at-Talibin karya Imam Nawawi, melahirkan lima kitab syarah oleh ulama berbeda. Sebagian syarah itu kemudian disyarahi lagi menjadi kitab hasyiyah, membentuk cabang-cabang keilmuan yang terus bertunas selama ratusan tahun.

Yang tidak kalah menarik, kitab-kitab ini juga menyeberang bahasa. Kitab Taqrib misalnya, diterjemahkan ke bahasa Sunda, Indonesia, Madura, hingga Jawa (dengan judul Fath an-Naqib oleh H. Nasiruddin). Ini bukti bahwa kitab kuning bukan cuma “milik” Timur Tengah, tapi sudah lama berakar dan beradaptasi di bumi Nusantara.

Salah satu kontribusi ulama Nusantara yang paling dikenal adalah karya Syekh Nawawi Banten. Beliau menulis Nihayat az-Zayn, sebuah syarah atas kitab Qurrat al-‘Ayn karya al-Malibari, yang sampai sekarang masih dikaji di pesantren-pesantren Indonesia bahkan hingga ke Timur Tengah.

Ulama Nusantara lain, Syekh Mahfuz at-Tarmasi dari Tremas, Pacitan, juga menulis syarah atas kitab al-Muqaddimat al-Hadramiyyah karya ‘Abdullah Ba-Fadl. Karyanya sejajar dengan syarah-syarah ulama Timur Tengah lainnya, menandakan bahwa ulama Nusantara punya tempat terhormat dalam mata rantai keilmuan Islam klasik, bukan sekadar “pembaca”, tapi juga “penulis” yang karyanya diakui dunia.

Kitab Kuning di Zaman Now

Tradisi ini ternyata tidak berhenti di masa lalu. Belakangan muncul model baru yang disebut maudhu’i atau tematik. Bedanya dengan kitab klasik yang disusun runtut per bab (dari soal bersuci sampai soal pidana), model tematik justru membahas satu isu spesifik dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu sekaligus.

Contoh paling relevan dengan kehidupan sekarang: menentukan status hukum jual beli online. Untuk membahas ini, pesantren tidak cukup hanya mengandalkan pakar dalil Al-Qur’an dan Sunnah. Perlu juga dilibatkan pakar teknologi informasi, praktisi bisnis, hingga pejabat berwenang dan kepolisian, supaya keputusan hukum yang dihasilkan benar-benar kontekstual dan bisa diterapkan.

Bukan Sekadar Kitab Kuno

Anatomi kitab kuning menunjukkan bahwa pesantren mewarisi tradisi literasi yang sangat matang dan sistematis. Lewat sistem matan, syarah, dan hasyiyah, santri diajak berpikir berlapis: dari prinsip dasar, merambat ke rincian, sampai eksplorasi filosofis yang mendalam.

Kitab kuning bukan sekadar peninggalan masa lalu yang berdebu. Ia adalah instrumen intelektual yang terus melatih ketajaman berpikir kritis santri, sekaligus menjaga kemurnian ajaran Islam agar tetap relevan di setiap zaman. Lewat penguasaan atas “kitab gundul” yang tanpa titik koma ini, pesantren justru membuktikan satu hal: kecanggihan literasi bukanlah milik peradaban modern semata. Wallahu a’lam.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here