komodifikasi kesalehan

Ketika membaca buku Agama Saya Adalah Uang karya Nurudin, saya teringat pada fenomena yang semakin sering muncul di beranda media sosial, khususnya TikTok. Hampir setiap hari pengguna disuguhi video dengan narasi seperti, “Hanya orang sombong yang tidak mau mengaminkan Surah Al-Mulk ini,” “Ketik amin jika cinta Rasulullah,” “Jangan di-skip, jika video ini muncul di FYP berarti Allah sedang memilihmu,” atau “Pinjam jarimu untuk menulis amin agar rezekimu dilancarkan.” Sekilas narasi tersebut tampak sebagai ajakan beribadah. Namun, jika dicermati lebih dalam, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah yang sedang dipertukarkan di ruang digital masih merupakan ekspresi spiritual, atau justru telah menjadi komoditas yang mengikuti logika algoritma?

Fenomena ini menunjukkan bahwa yang mengalami komodifikasi bukan lagi agama semata, melainkan performativitas kesalehan (performative piety). Di media sosial, ungkapan seperti “Amin Ya Allah,” “Masya Allah,” “Subhanallah,” “Like = Doa,” atau “Share agar rezeki lancar” tidak lagi sekadar menjadi ekspresi religius, tetapi telah berubah menjadi mata uang algoritmik (algorithmic currency).

Setiap komentar, tanda suka, dan bagikan merupakan sinyal keterlibatan (engagement) yang dibaca oleh algoritma sebagai indikator relevansi sebuah konten. Semakin tinggi interaksi, semakin besar peluang konten masuk ke For You Page (FYP), menjangkau lebih banyak pengguna, dan pada akhirnya membuka peluang monetisasi bagi kreatornya.

Dalam konteks ini, kata “amin” memiliki dua nilai sekaligus: nilai simbolik sebagai doa dan nilai algoritmik sebagai penggerak distribusi konten.

- Poster Iklan -

Logika tersebut tidak lahir begitu saja. TikTok bekerja berdasarkan ekonomi perhatian (attention economy), yaitu sistem yang menjadikan perhatian manusia sebagai komoditas utama. Platform akan mempromosikan konten yang mampu memicu respons emosional dalam waktu singkat.

Simbol-simbol keagamaan menjadi sangat efektif karena mampu membangkitkan harapan, rasa takut, rasa bersalah, bahkan kecemasan spiritual. Kalimat seperti “Kalau di-skip berarti sombong” atau “Jika benar mencintai Nabi, tulislah amin” sesungguhnya bukan hanya ajakan religius, tetapi juga strategi komunikasi yang dirancang untuk meningkatkan interaksi pengguna. Di sinilah agama memasuki arena ekonomi digital, tempat perhatian manusia diperdagangkan melalui algoritma.

Perspektif Media Ecology yang dikembangkan Marshall McLuhan dan Neil Postman membantu menjelaskan fenomena tersebut. Media bukan sekadar saluran penyampai pesan, melainkan lingkungan yang membentuk cara manusia berpikir, berinteraksi, dan memaknai realitas. Dalam konteks media sosial, perubahan terbesar bukan terletak pada isi dakwah, tetapi pada karakter platform yang memaksa dakwah menyesuaikan diri dengan ritme algoritma.

McLuhan pernah mengatakan, the medium is the message. Kini, di era media sosial, tesis tersebut dapat diperluas menjadi the algorithm becomes the message. Yang menentukan keberhasilan sebuah pesan keagamaan bukan lagi kedalaman substansinya, melainkan kemampuannya memenuhi logika algoritma: singkat, emosional, visual, dan viral.

Konsekuensinya, agama mengalami proses mediatisasi, sebagaimana dijelaskan Stig Hjarvard. Media tidak lagi sekadar menyampaikan ajaran agama, tetapi turut membentuk cara agama dipraktikkan. TikTok mendorong pesan religius dikemas dalam video berdurasi singkat, musik yang menyentuh emosi, visual dramatis, dan narasi persuasif. Dakwah akhirnya mengikuti ritme platform: cepat, sederhana, mudah dibagikan, dan mudah dikonsumsi.

Dalam situasi ini, kedalaman refleksi sering kali kalah oleh tuntutan viralitas. Agama menyesuaikan diri dengan logika media agar tetap terlihat, didengar, dan memperoleh perhatian.

Fenomena tersebut semakin jelas apabila dibaca melalui teori komodifikasi Vincent Mosco. Dalam perspektif ini, sesuatu yang semula memiliki nilai guna berubah menjadi nilai tukar.

Simbol-simbol keagamaan yang pada dasarnya berfungsi sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan diproduksi ulang menjadi komoditas digital yang memiliki nilai ekonomi. Potongan ayat, doa, ceramah, hingga ekspresi kesalehan dipertukarkan demi memperoleh likes, followers, viewers, dan pendapatan dari monetisasi platform. Kesalehan tidak lagi hanya dipahami sebagai pengalaman spiritual, tetapi juga sebagai aset ekonomi dalam pasar digital.

Kondisi tersebut juga dapat dipahami melalui konsep hiperrealitas Jean Baudrillard. Di ruang digital, batas antara kesalehan yang autentik dan performa religius menjadi semakin kabur. Yang tampil di layar sering kali bukan lagi pengalaman spiritual yang mendalam, melainkan simulasi kesalehan yang dibangun melalui estetika visual.

Pengguna media sosial lebih mudah mengukur religiusitas melalui jumlah komentar “Masya Allah”, ribuan likes, atau jutaan penonton daripada melalui kedalaman pemahaman keagamaan. Kesalehan menjadi tontonan yang terus diproduksi dan direproduksi demi mempertahankan visibilitas digital.

Dalam praktiknya, algoritma memperkuat fenomena tersebut melalui mekanisme personalisasi. Platform merekam perilaku pengguna, mempelajari preferensi mereka, lalu menyajikan konten serupa secara berulang. Akibatnya terbentuk echo chamber, yaitu ruang gema yang memperkuat keyakinan yang sudah dimiliki pengguna tanpa banyak mempertemukannya dengan perspektif lain.

Konten religius yang memperoleh interaksi tinggi akan terus direkomendasikan sehingga menciptakan kesan bahwa bentuk keberagamaan tertentu merupakan satu-satunya bentuk yang paling benar atau paling populer. Pada titik ini, algoritma bukan hanya menentukan apa yang kita lihat, tetapi juga perlahan membentuk cara kita memahami agama.

Pada titik inilah analogi “Pasar Malam Digital” menjadi relevan. Sebagaimana pasar malam dipenuhi lampu warna-warni dan suara yang berlomba menarik perhatian pengunjung, media sosial juga dipenuhi berbagai konten yang saling bersaing memperoleh klik, komentar, dan bagikan. Bedanya, yang diperdagangkan bukan sekadar barang, melainkan simbol-simbol religius. Ayat suci, doa, shalawat, dan ungkapan keimanan dipajang layaknya etalase yang dirancang seatraktif mungkin agar memperoleh perhatian sebanyak-banyaknya. Kesalehan pun mengalami proses estetikasi: lebih menonjolkan tampilan visual daripada kedalaman makna.

Dalam konteks tersebut, saya menawarkan konsep Algorithmic Piety Economy, yaitu suatu kondisi ketika ekspresi religius memperoleh nilai bukan hanya karena makna spiritualnya, tetapi juga karena kemampuannya menghasilkan keterlibatan algoritmik. Kesalehan menjadi modal simbolik sekaligus modal ekonomi digital.

Kata “amin” tidak lagi hanya dipahami sebagai respons doa, melainkan juga sebagai data yang meningkatkan distribusi konten, memperluas jangkauan audiens, membangun otoritas digital, dan membuka peluang monetisasi. Berdasarkan hal tersebut maka algoritma menjadi aktor penting dalam mentransformasikan makna kesalehan di ruang siber.

Meskipun demikian, fenomena ini tidak sepenuhnya harus dipandang negatif. Media sosial telah membuka akses yang lebih luas terhadap pengetahuan keagamaan, terutama bagi generasi muda. Banyak orang memperoleh inspirasi, belajar agama, dan menemukan komunitas keagamaan melalui platform digital.

Persoalannya bukan pada penggunaan teknologi, melainkan ketika logika algoritma menempatkan popularitas di atas kedalaman makna. Dakwah yang substansial dapat tersisih oleh konten yang lebih emosional, sensasional, dan manipulatif.

Oleh sebab itu, tantangan terbesar masyarakat digital saat ini bukanlah menolak media sosial, melainkan membangun literasi digital religius. Publik perlu memahami bahwa tidak semua konten spiritual lahir dari motivasi edukatif; sebagian merupakan strategi untuk memenangkan persaingan dalam ekonomi perhatian. Kesadaran ini penting agar masyarakat mampu membedakan antara dakwah yang membangun pemahaman dengan eksploitasi simbol agama demi kepentingan algoritma.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita renungkan bukanlah apakah mengetik “amin” itu benar atau salah. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah ruang digital sedang mendekatkan manusia kepada spiritualitas, atau justru mengubah agama menjadi komoditas visual yang diperdagangkan demi popularitas?

Di tengah derasnya arus algoritma, agama semestinya tetap menjadi ruang refleksi, etika, dan transformasi diri, bukan sekadar instrumen untuk mengejar angka interaksi. Sebab ketika “amin” telah berubah menjadi mata uang digital, kita perlu semakin bijak membedakan mana ketulusan iman dan mana strategi viralitas. Di era ekonomi perhatian, bahkan kesalehan dapat diperdagangkan; namun kedalaman spiritual tidak pernah dapat diukur hanya dengan jumlah klik, likes, atau komentar.

tiktokFig 1. Tangkapan Layar dari beberapa akun Tiktok

 

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here