Kitab santri

Sekitar akhir tahun 2018, saya terlibat dalam satu proyek penyusunan bunga rampai tentang kisah pengalaman dan pendidikan moral di pesantren. Bunga rampai ini kemudian terbit pertengahan tahun 2018 dengan judul “Kitab Santri: Antologi Pengalaman dan Pendidikan Moral di Pesantren”. Sebuah buku yang dimaksudkan menjadi oase reflektif di tengah arus modernitas yang sering kali mereduksi pendidikan menjadi sekadar capaian akademik dan kompetensi teknis.

Buku ini tidak hanya merekam pengalaman personal para santri yang menjadi kontributor, tetapi juga menghadirkan wajah lain dari pendidikan: yang berakar pada tradisi yang kuat, keteladanan, pembiasaan, dan pembentukan karakter.
Buku Kitab Santri lahir dari kegelisahan intelektual sekaligus kerinduan kultural. Kiai Achmad Tohe, penyunting buku ini, mengakui bahwa gagasan awalnya untuk menghidupkan tradisi literasi masyarakat pesantren, baik yang masih hidup di dalam lingkungan pesantren atau yang sudah melanglang buana bahkan ke berbagai sudut bumi. Gagasan dimaksud selanjutnya direalisasikan dalam bentuk “undangan terbuka” untuk mengeksplorasi kearifan-kearifan pesantren melalui tulisan deskriptif (features) terkait pengalaman penulisnya selama nyantri di pesantren. Tema-tema yang didiskusikan terbilang luas, sejauh menyoal pesantren dan subkultur yang tumbuh di dalamnya.
Masih menurut Kiai Tohe, perbincangan mengenai pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan yang indigenous Indonesia dan telah memberikan kontribusi yang besar dalam dinamika peradaban, khususnya di Indonesia, perlu terus dihidupkan di tengah arus deras perubahan yang secara ironis kerap meminggirkan tradisi, tatanan sosial yang memungkinkan perubahan-perubahan terjadi.
Tak berlebihan jika saya menyebut buku ini menjadi antologi pengalaman yang merekam dinamika kehidupan santri di pesantren, baik dalam aspek pendidikan formal maupun nonformal. Secara kebetulan, saat buku ini terbit tahun 2018, wacana tentang pendidikan karakter sebenarnya tengah menguat di tingkat nasional. Namun, narasi yang berkembang sering kali bersifat normatif dan kurang menyentuh realitas praksis.
Di sinilah posisi penting buku ini. Ia tidak berbicara dari menara gading teori, melainkan dari pengalaman hidup yang konkret. Para kontributor-cum-santri menghadirkan refleksi otentik tentang bagaimana nilai-nilai moral ditanamkan, diuji, dan dihidupkan dalam keseharian. Safira Machrusah dalam komentarnya untuk buku ini menyebut, Kitab Santri mengenalkan lebih dekat kehidupan di pesantren, para kyai dan santri yang selama ini menjadi penyangga tradisi Islam di Indonesia. Bagaimana elastisitas mereka dalam menghadapi berbagai perubahan, dengan tetap meletakkan tradisi dan kearifan lokal sebagai parameter utama memberi pencerahan untuk membangun masa depan yang kokoh dalam tradisi namun inovatif dan kreatif di dunia modern.
Lebih dari itu, buku ini juga dapat dibaca sebagai upaya dokumentasi kultural. Pesantren, sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, memiliki kekayaan tradisi yang sering kali tidak terdokumentasikan secara sistematis. Kitab Santri hadir sebagai arsip hidup yang mengabadikan praktik pendidikan yang selama ini berjalan secara lisan dan turun-temurun.
Hal lain yang menarik dan pentingnya buku ini terletak pada kemampuannya menjembatani ruang antara konsep dan praksis pendidikan moral. Dalam banyak diskursus, pendidikan karakter kerap direduksi menjadi slogan atau kurikulum formal. Namun, di pesantren, pendidikan moral justru hidup dalam keseharian: dalam adab terhadap guru, dalam disiplin waktu, dalam kesederhanaan hidup, dan dalam relasi sosial yang egaliter namun tetap berhierarki.
Buku ini memperlihatkan bahwa pendidikan moral tidak cukup diajarkan. Ia harus diteladankan dan dialami. Santri tidak hanya belajar dari kitab, tetapi juga dari perilaku kiai, dari tradisi kolektif, dan dari dinamika kehidupan bersama. Inilah yang sering luput dalam sistem pendidikan modern: dimensi keteladanan dan habituasi.
Dalam konteks krisis moral yang kerap kita saksikan mulai dari korupsi, intoleransi, hingga degradasi etika publik, Kitab Santri menawarkan perspektif alternatif. Ia mengingatkan bahwa pembentukan karakter tidak bisa instan. Ia membutuhkan proses panjang, lingkungan yang kondusif, dan figur teladan yang konsisten.
Selain itu, buku ini juga penting sebagai kontra-narasi terhadap stigma negatif yang kerap dialamatkan pada pesantren. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul berbagai generalisasi yang mengaitkan pesantren dengan isu-isu tertentu. Kitab Santri secara halus namun tegas menunjukkan bahwa pesantren adalah ruang pembentukan moral yang kaya dan kompleks. Tidak bisa direduksi pada satu-dua kasus.
Meskipun terbit pada 2018, menurut saya relevansi Kitab Santri justru semakin menguat hari ini. Dunia digital telah mengubah pola interaksi sosial, mempercepat arus informasi, sekaligus membuka ruang bagi disinformasi dan krisis otoritas. Dalam situasi ini, nilai-nilai yang diajarkan di pesantren, semisal tabayyun (klarifikasi), tawadhu’ (rendah hati), dan adab dalam berilmu menjadi semakin penting.
Pengalaman santri yang terekam dalam buku ini dapat dikontekstualisasikan sebagai model pendidikan berbasis komunitas. Di tengah individualisme yang menguat, pesantren menawarkan kehidupan kolektif yang mengajarkan empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk menjawab tantangan masyarakat modern yang cenderung terfragmentasi.
Lebih jauh, Kitab Santri juga dapat dibaca dalam konteks global. Ketika dunia menghadapi krisis etika, baik dalam politik, ekonomi, maupun teknologi, model pendidikan moral berbasis nilai seperti yang dipraktikkan di pesantren menjadi penting untuk dikaji. Ia menawarkan pendekatan holistik yang tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan moral dan spiritual.
Namun demikian, kontekstualisasi ini juga menuntut keterbukaan. Pesantren tidak bisa berhenti pada romantisme masa lalu. Nilai-nilai yang diangkat dalam Kitab Santri perlu terus didialogkan dengan realitas kekinian. Misalnya, bagaimana prinsip kesederhanaan diterjemahkan dalam era konsumtif? Bagaimana adab dalam berilmu diterapkan di tengah banjir informasi digital? Pertanyaan-pertanyaan ini membuka ruang bagi pembacaan ulang yang kreatif dan kritis.
Kitab Santri bukan sekadar kumpulan cerita. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah pendidikan yang berakar pada nilai, pengalaman, dan keteladanan. Di tengah kegamangan arah pendidikan modern, buku ini mengajak kita untuk kembali pada hal-hal yang esensial: membentuk manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab.
Membaca buku ini berarti merawat ingatan kolektif tentang pesantren, sekaligus meneguhkan kembali pentingnya pendidikan moral dalam kehidupan berbangsa. Dan mungkin, di situlah kontribusi terbesarnya: mengingatkan kita bahwa di balik kesederhanaan pesantren, tersimpan kekuatan besar untuk membangun peradaban. Wallahu a’lam.

- Cetak Buku dan PDF-
Previous articleKartini, Fikih, dan Jalan Sunyi Perempuan
Abdur Rahim
Alumni Pondok Pesantren Kyai Syarifuddin Lumajang. Selain bekerja sebagai kurator, penyunting, dan pengembang naskah buku, ia juga aktif dalam gerakan literasi. Sejak tahun 2015, terlibat dalam berbagai pelatihan penulisan serta pendampingan (coaching clinic) penerbitan buku, khususnya bagi kalangan akademisi dan komunitas pesantren, guna mendorong tradisi intelektual dan publikasi karya di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here