Societas Pesantren

Beberapa tahun belakangan, saya sering menemani diskusi santai Profesor Mujamil Qomar, seorang pemikir keislaman dan Guru Besar UIN SATU Tulungagung yang sudah puluhan tahun berkutat dengan kajian pesantren. Dalam satu kesempatan, beliau mengajukan pertanyaan yang sederhana namun menohok: “Mengapa kita tidak mencari cara baru untuk membaca dunia pesantren?”

Pertanyaan tesebut tentu bukan tanpa alasan. Prof. Mujamil menilai bahwa kajian-kajian seputar pesantren selama ini belum menemukan formula baru yang signifikan setelah lahirnya karya-karya dari para pemikir besar, semisal Zamakhsyari Dhofier, Nurcholish Madjid, KH. Abdurrahman Wahid, Mastuhu, Karel A. Steenbrink, M. Dawam Rahardjo, dan Hiroko Horikoshi. Bahkan karya Prof. Mujamil sendiri yang berjudul “Pesantren: dari Transformasi Metodologi menuju Demokratisasi Institusi” masih terus dikutip dalam berbagai penelitian terbaru, padahal datanya sudah lama.

Saya pikir, beliau ada benarnya. Jika ada yang menyebut “Indonesia adalah surga ilmu sosial”, maka tidak akan lengkap tanpa menempatkan pesantren di dalamnya. Pesantren merupakan episentrum dinamika sosial dan keagamaan yang terus menyediakan ruang tanpa batas bagi para peneliti untuk memahami akar kebudayaan masyarakat kita.

Selama ini, para peneliti cenderung membaca pesantren seperti membaca sebuah objek di bawah mikroskop: diamati, diukur, kemudian diberi label. Padahal, menurut Prof. Mujamil, pesantren melampaui itu semua. Pesantren bukan sekadar objek kajian. Pesantren merupakan sebuah dunia yang hidup, bernapas, dan terus bergerak.

- Poster Iklan -

Saya sangat setuju dengan pendapat Prof. Mujamil. Saya menilai pesantren bukan sekadar institusi masa lalu, melainkan sebuah masyarakat masa depan yang terus bertransformasi tanpa kehilangan akar identitasnya.

Mengapa Societas?

Untuk menggambarkan esensi pesantren, saya memilih satu kata: societas. Dalam bahasa Latin, kata ini berarti persekutuan atau komunitas. Namun, sesungguhnya maknanya jauh lebih kaya dari sekadar kumpulan manusia. Societas adalah persekutuan yang hidup. Ia mengandaikan kebersamaan yang bukan terjadi secara kebetulan, melainkan lahir dari pilihan dan tanggung jawab bersama. Saya pertama kali mengenal kata ini dari guru saya, Profesor Armada Riyanto, baik melalui kelas-kelas yang beliau ajar maupun buku-buku yang beliau tulis. Dan, semakin saya mendalaminya, semakin saya yakin bahwa societas adalah kata yang paling mendekati kenyataan pesantren yang sesungguhnya.

Dengan demikian, pesantren adalah sebuah persekutuan manusia yang hidup bersama dalam ikatan nilai, tradisi, dan tujuan bersama. Ia bukan hanya tempat belajar ilmu agama, melainkan ruang di mana manusia dibentuk: menjadi insan yang berilmu sekaligus berakhlak, mandiri sekaligus terikat dalam komunitas, modern sekaligus berakar pada tradisi.

Inilah yang coba ditangkap oleh Prof. Mujamil melalui empat pendekatan besarnya dalam seri buku terbarunya, yaitu Sosiologi Pesantren (2025), Antropologi Pesantren (2025), Fenomenologi Pesantren (2025), dan Bahasa Pesantren (2025). Bahwa, pesantren adalah fenomena kemanusiaan yang terlalu kaya untuk dikurung dalam satu disiplin ilmu saja. Karena itulah, selain empat pendekatan tersebut, sesungguhnya Prof. Mujamil juga menulis tiga buku yang terbit sebelumnya yaitu, “Arus Utama Pemikiran Pesantren” (2023), “Inteligensia Pesantren: Epistemologi Pembaruan Pesantren” (2023), dan Aksiologi Pendidikan Pesantren: Etika dan Nilai-nilai Kearifan Islam” (2023). Namun, keempat pendekatan yang beliau ajukan menurut saya lebih relevan untuk membaca societas pesantren di Indonesia.

Empat Pintu Masuk

Prof. Mujamil memetakan cara membaca pesantren melalui empat pendekatan utama yang saling melengkapi. Jika boleh disederhanakan, keempat pendekatan ini ibarat empat pintu masuk ke dalam sebuah rumah besar bernama pesantren. Tergantung pintu mana yang kita buka, kita akan menemukan ruangan yang berbeda—namun semua ruangan itu adalah bagian dari rumah yang sama.

Pertama, Sosiologi Pesantren. Pintu pertama adalah sosiologi. Melalui pintu ini, kita dapat melihat pesantren sebagai sebuah sistem sosial yang utuh. Ada pranata, ada norma, ada mekanisme kontrol. Dalam karyanya Sosiologi Pesantren (2025), Prof. Mujamil menggunakan kombinasi teori-teori besar semisal, kausalitas tindakan Max Weber dan fakta sosial Emile Durkheim, untuk memahami mengapa pesantren bisa bertahan begitu lama sebagai institusi.

Kiai dalam societas pesantren bukan sekadar guru. Ia adalah penentu kebijakan, pengasuh, sekaligus figur otoritas tertinggi yang memancarkan karisma. Di bawahnya, terdapat jaring-jaring hubungan antara ustaz, santri, dan masyarakat sekitar yang membentuk modal sosial yang sangat kuat. Hubungan antarmereka bukan hubungan birokrasi, melainkan lebih menyerupai ikatan dalam sebuah keluarga besar yang dipenuhi norma tak tertulis.

Menariknya, sosiologi pesantren juga menyoroti bagaimana stratifikasi sosial di pesantren, tak terkecuali peran perempuan, yang mengalami mobilitas yang dinamis dalam merespons perubahan zaman. Menurut saya, ini bukti bahwa pesantren adalah agen perubahan sosial yang nyata, bukan sekadar penjaga tradisi yang statis.

Kedua, Antropologi Pesantren. Jika sosiologi melihat struktur, maka antropologi masuk ke dalam “daging” kebudayaannya. Pintu ini membawa kita lebih dalam ke lapisan budaya: menemukan bahwa pesantren bukan hanya lembaga pendidikan agama, melainkan institusi kebudayaan yang menyimpan memori kolektif, tradisi, dan cara hidup yang khas.

Melalui pendekatan antropologis, Prof. Mujamil mengajak kita melihat pesantren sebagai sebuah subkultur dengan kekayaan simbol, makna, dan nilai yang tidak ditemukan di luar tembok pesantren. Setiap tindakan dalam societas pesantren memiliki makna simbolik. Mulai dari tradisi mencium tangan kiai, makan bersama menggunakan talam, hingga ritus-ritus seperti marhabanan dan slametan—semuanya adalah bagian dari dialektika Islam dengan budaya lokal.

Pesantren membentuk karakter manusia melalui rutinitas harian yang terstruktur, dari tahajud dini hari hingga ngaji kitab kuning di malam hari. Antropologi pesantren memotret bagaimana identitas santri dibentuk melalui internalisasi nilai-nilai al-akhlaq al-karimah dan ketaatan pada sanad keilmuan. Ini adalah sebuah laboratorium sosial di mana tradisi-tradisi kuno tetap relevan meskipun dihantam arus globalisasi dan digitalisasi.

Ketiga, Fenomenologi Pesantren. Pintu ketiga membawa kita pada sisi yang paling dalam dan batiniah dari pesantren. Fenomenologi tidak sekadar melihat pesantren sebagai lembaga sosial atau budaya, tetapi sebagai dunia pengalaman yang hidup di dalam kesadaran para santrinya.

Mengapa seorang santri rela hidup sederhana bertahun-tahun? Mengapa tradisi khidmah kepada kiai dianggap bagian penting dari proses belajar? Mengapa keberkahan ilmu lebih sering dibicarakan daripada nilai akademik? Semua pertanyaan itu hanya bisa dipahami jika kita berani masuk ke dalam pengalaman subjektif dunia pesantren.

Salah satu terobosan paling berani dari Prof. Mujamil adalah penggunaan pendekatan fenomenologi ini. Beliau menyadari bahwa banyak peneliti terjebak pada data di permukaan tanpa menyentuh esensi pengalaman hidup di pesantren. Memahami pesantren secara fenomenologis berarti mencoba memahami apa artinya “barakah” bagi seorang santri, atau bagaimana perasaan spiritual saat melakukan tadarus di tengah malam.

Di titik ini, pesantren tampak bukan hanya tempat belajar, melainkan ruang pembentukan jiwa. Tradisi tirakat, ngalap berkah, adab kepada guru, hingga kesabaran dalam menuntut ilmu turut membentuk cara pandang hidup yang khas. Fenomenologi membantu kita memahami bahwa bagi banyak santri, belajar bukan semata mencari pekerjaan, tetapi bagian dari perjalanan spiritual manusia. Buku ini beliau akui sangat memusingkan karena harus membedah istilah-istilah filsafat rumit dari tokoh seperti Edmund Husserl, namun hasilnya adalah sebuah karya rintisan yang penting untuk memahami “ruh” pesantren yang sebenarnya.

Keempat, Bahasa Pesantren. Pilar terakhir yang tak kalah menarik adalah bahasa. Prof. Mujamil berkeyakinan bahwa bahasa di lingkungan pesantren bukan sekadar alat komunikasi, melainkan roh yang menjiwai seluruh proses pendidikan dan kehidupan santri.

Dalam karyanya, Prof. Mujamil mengidentifikasi tidak kurang dari 33 (tiga puluh tiga) jenis bahasa yang digunakan dalam ekosistem pesantren. Rentangnya sangat luas. Dari bahasa Arab klasik yang sarat doktrin agama, bahasa teologis, bahasa tasawuf, hingga bahasa-bahasa yang sangat cair dalam interaksi sosial seperti bahasa satire, gestur tubuh, bahasa diam, bahkan bahasa plesetan dan humoris.

Istilah seperti dawuh, sanad, ijazah, khidmah, tabarrukan, mahfudzat, atau ngaji pasaran bukan hanya kosakata teknis, melainkan simbol dari cara berpikir dan cara menghormati ilmu. Bahkan cara seorang santri berbicara kepada kiai atau sesama santri memuat etika yang dibentuk selama bertahun-tahun.

Di pesantren, bahasa tidak hanya berfungsi untuk mengajar ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk menanamkan adab dan membentuk karakter. Bahasa pesantren melahirkan kesantunan, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap ilmu pengetahuan. Di sinilah pesantren sebenarnya sedang membangun kebudayaan melalui bahasa—sebab bahasa bukan hanya mencerminkan pikiran, tetapi juga membentuk cara manusia memandang dunia.

Hal menarik lainnya, selain empat pendekatan di atas, Prof. Mujamil juga melihat pesantren dalam konteks arus utama pemikiran Islam di Indonesia. Pesantren bukan lembaga yang berdiri di tepi sejarah. Pesantren adalah aktor utama yang merespons modernisasi, mempertahankan identitasnya sebagai lembaga yang genuine, dan menjadi agen perubahan sosial di komunitasnya.

Menurut saya ini bukan klaim kecil. Sebab, kita berbicara tentang lembaga yang sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka, yang bertahan melewati berbagai gelombang perubahan. Mulai dari kolonialisme, modernisme, hingga digitalisasi. Sedikit pun tak kehilangan jiwanya. Pesantren tahu caranya berubah tanpa berhenti menjadi dirinya sendiri.

Memahami societas pesantren berarti menghargai keberagaman yang luar biasa, karena tiap-tiap pesantren memiliki corak dan selera kiainya masing-masing. Ada pesantren yang sangat salaf, ada yang modern, ada yang fokus pada Al-Qur’an, hingga pesantren yang fokus pada rehabilitasi sosial. Semuanya membentuk mozaik peradaban Islam di Indonesia yang sangat kokoh.

Melalui konfigurasi empat pilar ini, Prof. Mujamil sebenarnya sedang mengajak kita untuk melihat pesantren dengan cara yang lebih manusiawi dan utuh. Beliau telah membuktikan bahwa pesantren adalah “lahan empuk” bagi berbagai macam penelitian yang belum sepenuhnya tergali. Masih banyak “rahasia” pesantren yang belum terekspresikan, dan rangkaian buku ini, adalah pembuka jalan bagi generasi peneliti berikutnya.

Rangkaian karya Prof. Mujamil ini menjadi cermin bagi kita semua. Dengan membaca dan memahami konfigurasi pemikiran beliau, kita tidak hanya mendapatkan ilmu pengetahuan, tetapi juga inspirasi untuk terus menjaga nurani kemanusiaan melalui jalur pendidikan Islam tertua di Indonesia. Wallahu a’lam.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here