Santri

Awal Februari 2026, saya mendapatkan perintah dari KH. Muhammad Nafi, Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang, untuk memandu dialog antara Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto) dengan mahasantri Al-Hikam. Mengawali dialog, saya melemparkan pertanyaan kepada Mas Sabrang tentang bagaimana santri tetap memiliki independensi berpikir di tengah gempuran post-truth dan polarisasi digital?

Pertanyaan tersebut didasarkan pada realitas bahwa di dalam bilik-bilik pesantren yang sunyi, seorang santri mengasah dua bilah pedang yang sekilas tampak kontradiktif: ilmu manthiq (logika formal) dan kepatuhan mutlak atau sami’na wa atho’na kepada guru. Namun, ketika kaki melangkah keluar menuju rimba digital (cyberspace), tantangannya bukan lagi perdebatan teologis di atas kitab kuning, melainkan peperangan tak kasat mata melawan algoritma yang dirancang untuk mendikte hasrat dan persepsi manusia.

Mas Sabrang sering menekankan bahwa independensi berpikir di era post-truth bukan sekadar soal kecerdasan, melainkan soal kedaulatan ruang batin. Jawaban dari pertanyaan di atas terletak pada pemahaman mendalam tentang struktur logika dan batasan otoritas.

Manthiq sebagai Anti-Virus Kognitif

Pelajaran manthiq di pesantren bukan sekadar hafalan premis. Ia adalah alat bedah untuk membedakan antara haq (kebenaran) dan bathil (kebatilan) melalui struktur argumen yang valid. Di dunia digital, algoritma bekerja dengan memangkas proses berpikir logis dan langsung menyasar emosi melalui bias konfirmasi. Yaitu, kecenderungan psikologis seseorang untuk mencari, menafsirkan, dan mengingat informasi dengan cara yang mendukung keyakinan atau hipotesis yang sudah mereka miliki sebelumnya.

- Poster Iklan -

Secara sederhana, kita lebih suka benar daripada akurat. Kita cenderung memprioritaskan bukti yang membuat kita merasa nyaman dengan pendapat kita dan mengabaikan bukti yang menantangnya.

Dalam pandangan saya, Mas Sabrang memandang bahwa independensi dimulai ketika kita menyadari bahwa algoritma adalah guru yang tidak memiliki ruh. Algoritma hanya memberikan apa yang kita inginkan, bukan apa yang kita butuhkan. Di sinilah manthiqberperan sebagai filter. Santri yang menguasai logika akan bertanya apakah informasi ini benar secara struktur, atau ia hanya terasa benar karena cocok dengan kemarahan saya?Logika formal mengajarkan kita untuk tidak terjebak pada kesesatan berpikir (fallacy), sesuatu yang justru menjadi bahan bakar utama polarisasi digital. Dengan manthiq, seorang santri memiliki kemampuan untuk menjaga jarak dari informasi yang datang, melakukan verifikasi (tabayyun), dan tidak mudah terombang-ambing oleh tren yang dirancang oleh mesin.

Kepatuhan Versus Penyerahan Diri pada Mesin

Di luar sana, ada miskonsepsi bahwa kepatuhan santri pada guru (kiai) adalah bentuk hilangnya independensi atau kedaulatan berpikir. Mas Sabrang meluruskan hal ini dengan sangat jernih. Kepatuhan pada guru di pesantren adalah kepatuhan berbasis sanad (transmisi ilmu yang jelas) dan akhlaq. Guru (kiai) adalah manusia yang memiliki integritas moral, yang mendidik santri untuk menjadi manusia yang lebih utuh.

Sebaliknya, kepatuhan manusia modern pada algoritma media sosial adalah penyerahan diri yang buta kepada entitas matematika yang tak bertujuan moral. Algoritma tidak peduli apakah kita menjadi bijak atau menjadi pendendam. Algoritma hanya peduli pada engagement.

Independensi atau kedaulatan berpikir santri muncul ketika ia mampu membedakan mana otoritas yang membebaskan (guru/kiai) dan mana otoritas yang memenjarakan (algoritma). Kepatuhan kepada guru justru merupakan latihan disiplin mental. Jika seorang santri mampu mendisiplinkan dirinya di bawah bimbingan seorang guru, ia seharusnya memiliki ketahanan mental untuk tidak disetir oleh notifikasi dari berbagai platform media sosialnya sendiri.

Melawan Post-Truth dengan Kesadaran Diri

Dalam era post-truth, batas antara fakta dan opini menjadi kabur. Mas Sabrang sering mengajak kita untuk melihat peta di balik realitas. Santri diajarkan bahwa kebenaran itu berlapis. Ada yang lahiriyah, ada juga yang batiniyah.

Algoritma menciptakan gelembung gema atau yang sering disebut echo chambers.Gelembung gema ini membuat kita merasa paling benar sendiri. Untuk tetap independen,berdaulat secara akal, santri harus menggunakan prinsip kerendahan hati ilmiah. Kedaulatan berpikir bukan berarti merasa tahu segalanya, melainkan menyadari batasan ketidaktahuan kita.

Polarisasi digital terjadi karena orang kehilangan kemampuan untuk berdialog dengan yang lain. Di pesantren, tradisi bahtsul masail (forum diskusi hukum Islam) mengajarkan bahwa perbedaan pendapat adalah rahmat. Santri dilatih untuk melihat satu persoalan dari berbagai sudut pandang mazhab. Kemampuan multi-perspektif inilah senjata utama melawan polarisasi. Santri tidak akan mudah membenci sesama hanya karena perbedaan pilihan politik di layar kaca, karena ia tahu bahwa realitas jauh lebih kompleks daripada sekadar teks di media sosial. Apapun jenis dan platform media sosialnya.

Mas Sabrang menekankan pentingnya menjadi subjek yang sadar. Algoritma memperlakukan manusia sebagai data atau objek pemasaran. Jika kita tidak sadar, kita hanyalah bidak dalam papan catur ekonomi perhatian.

Santri memiliki modal spiritual untuk menjadi subjek. Latihan riyadhah (olah batin) dan muhasabah (introspeksi diri) adalah bentuk jeda yang sangat mahal di era digital yang serba cepat. Saat dunia menuntut reaksi instan, santri memiliki tradisi untuk diam dan berpikir. Independensi adalah kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum menekan tombol share.

Dunia digital itu seperti air laut. Bisa membuat kita mengapung, tapi jika tidak hati-hati, ia akan membuat haus dan menenggelamkan kita.

- Cetak Buku dan PDF-
Previous articleMembaca “Kitab Santri” di Tengah Krisis Global
Abdur Rahim
Alumni Pondok Pesantren Kyai Syarifuddin Lumajang. Selain bekerja sebagai kurator, penyunting, dan pengembang naskah buku, ia juga aktif dalam gerakan literasi. Sejak tahun 2015, terlibat dalam berbagai pelatihan penulisan serta pendampingan (coaching clinic) penerbitan buku, khususnya bagi kalangan akademisi dan komunitas pesantren, guna mendorong tradisi intelektual dan publikasi karya di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here