santri

Ada kabar yang datang dari Semarang, awal Mei 2026 ini. Seorang mahasiswa baru saja diwisuda dari Program Studi S1 Fisika Universitas Diponegoro. Bisa jadi, bagi sebagian orang, kabar ini bukan hal yang luar biasa. Toh, setiap semester selalu ada sarjana bari yang ikut wisuda pada program studi yang sama. Tetapi, bagi saya, ada satu nama yang menarik perhatian. Namanya Pato Sayyaf.

Usianya baru 18 tahun 3 bulan. Pato sudah bergelar resmi sebagai Sarjana Fisika (S.Si. atau Sarjana Sains) dengan IPK 3,68, setelah menempuh studi dalam waktu 3 tahun 6 bulan 21 hari. Kalau mengikuti umumnya usia anak saat menempuh jenjang pendidikan, kebanyakan teman sebayanya baru menempuh kuliah tingkat pertama bahkan, di banyak tempat, ada yang masih baru lulus SMA.

Bagi saya, Fisika bukan ilmu yang ramah. Siapa pun yang pernah bersentuhan dengan ilmu ini tahu betul soal ini. Ada mekanika klasik yang menuntut ketelitian matematis luar biasa. Ada elektromagnetik yang bisa membuat kepala “spaneng”. Terlebih bagi mereka yang tidak begitu menyukainya, termasuk saya. Ada juga termodinamika, relativitas, lalu Fisika kuantum. Dunia Fisika, dalam bayangan saya, intuisi (dzauq) sehari-hari hampir tak berguna. Semua berhubungan dengan hitungan dan angka. Sewaktu kuliah dulu, beberapa teman yang saya kenal memilih program studi Fisika dengan semangat membara, lalu perlahan-lahan mundur teratur. Mungkin, tidak sanggup bertahan dengan ritme studinya yang sangat keras.

Rupanya, Pato Sayyaf bisa bertahan dan selesai. Di usia yang tergolong sangat muda dengan waktu tempuh lebih cepat dari umumnya orang lulus kuliah: 4 tahun atau 8 semester. Menariknya, dikabar Pato juga sempat meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa bidang riset eksakta (PKM-RE) tahun 2025 dari almamaternya.

- Poster Iklan -

Namun, bagi saya, yang paling penting bukan hanya soal angka-angka akademik dan usia yang membuat kisah istimewa dari Pato Sayyaf. Ada satu hal lain yang menarik perhatian saya: Pato Sayyaf adalah santri yang menghabiskan 6 tahun di lingkungan pondok pesantren sebelum masuk ke bangku kuliah.

Yang membuat “kesantrian” Pato terasa lebih menarik bagi saya sebenarnya sederhana. Setiap kali mendengar kata santri, banyak orang langsung membayangkan suasana pesantren: ngaji, kitab kuning, hafalan, kajian fikih, sarung, sholawatan, dan sebagainya. Gambaran demikian sama sekali tidak salah. Begitulah kehidupan santri di pesantren.

Tetapi, kisah Pato ini mengajak kita untuk memperluas imajinasi tentang santri. Bahwa dari bilik pesantren yang sama, bisa lahir seorang yang mampu berdiri sejajar di panggung ilmu pengetahuan modern, menjadi saintis. Saya banyak mendengar, saat ini memang banyak pesantren sudah membuka “jalur” ilmuan dengan memasukkan sains sebagai kurikulum utama. Bahkan, kalau boleh jujur, sebelum Pato dan masuknya kurikulum sains di pesantren, beberapa saintis dari kalangan pesantren sudah banyak bermunculan. Belum lagi kalau harus menyebut nama-nama saintis muslim era kejayaan Islam, banyak sekali.

Tapi ini bukan tentang mereka atau santis muslim masa lalu. Ini tentang santri muda bernama Pato Sayyaf. Dalam sebuah wawancara, Pato sendiri mengakui bahwa masa awal kuliah bukan tanpa guncangan. Ia bahkan sempat ragu apakah dirinya bisa beradaptasi dengan ilmu ini, berikut lingkungan sosialnya. Mengingat, perbedaan usia Pato terpaut cukup jauh dengan rekan-rekan seangkatannya yang mayoritas lulusan SMA reguler. Bagi Pato, 6 tahun di pesantren telah membentuknya dengan ritme yang berbeda. Keluar dari pesantren dengan usia muda, ia tiba-tiba ia harus masuk ke dunia kampus, menjadi mahasiswa, dengan segala dinamikanya.

Menariknya, Pato juga mengaku bahwa yang ia temukan justru sebaliknya. Menurutnya, selisih usia yang jauh bukanlah sebuah halangan, justru merasa tertantang untuk bisa sejajar dengan mereka yang lebih tua. Pato menemukan “bahan bakar” yang tepat. Apalagi selama ini ada pandangan dikotomis yang dipercaya banyak orang bahwa dunia agama berada di satu sisi sementara dunia sains ada di sisi lain. Keduanya dianggap berjalan di jalur yang berbeda, bahkan kadang bertabrakan.

Pato, tanpa perlu berpidato atau membuat pernyataan besar, menurut saya telah mematahkan dikotomi itu hanya dengan caranya menjalani hidup. Saya membayangkan kesehariannya saat di pesantren. Bagaimana membagi waktu antara muthala’ah kitab dan mengerjakan soal-soal fisika yang pelik. Bagaimana bisa menjaga fokus di tengah dua dunia yang masing-masing menuntut keseriusan penuh. Disiplin yang tertempa di pesantren, menjadi fondasi yang menggerakkannya di bangku kuliah.

Untuk bisa lulus Fisika dalam tiga setengah tahun, di usia yang belum genap 19 tahun, seseorang harus benar-benar fokus. Ada harga yang harus dibayar yaitu konsistensi, kesabaran, dan keberanian. Dalam bahasa pesantren, mujahadah dan istiqomah mungkin istilah yang paling tepat.

Pato kemudian membagikan pesan inspiratif agar tetap fokus pada pengembangan diri tanpa terjebak dalam perangkap perbandingan sosial yang merugikan. Comparison is the thief of joy. Itulah yang Pato yakini. Dibading-bandingkan memang tidak selalu “nyaman”.

Bagi para santri, kisah ini adalah pengingat bahwa pilihan untuk belajar di pesantren bukan berarti menutup pintu bagi dunia lain. Justru sebaliknya, nilai-nilai yang dibentuk di pesantren merupakan modal yang luar biasa dan menjadi sangat kuat ketika dibawa ke arena apapun. Tak terkecuali ke laboratorium fisika sekalipun.

Bagi santri yang sedang merasa ragu, apakah latar belakangnya cukup, apakah jalurnya terlalu berbeda, apakah tempatnya ada di sana, Pato adalah jawaban yang diberikan bukan lewat kata-kata, melainkan lewat tindakan.

Ada kalimat yang sering saya dengar di lingkungan pesantren: ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah. Menurut saya, Pato membuktikan sisi lainnya. Ketika semangat belajar agama tidak dipisahkan dari semangat memahami alam semesta, yang lahir bukan sekadar prestasi akademik melainkan pribadi yang utuh.

Dari Pato Sayyaf para santri bisa belajar bahwa batas-batas yang dipercaya selama ini, antara pesantren dan universitas, antara santri dan ilmuwan, antara iman dan rasio, tidak sekokoh yang kita kira. Pato sudah membuktikannya dengan cara yang paling elegan: cukup dengan menyelesaikan apa yang ia mulai. Wallahu a’lam.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here