vasektomi

Di beberapa obrolan tongkrongan laki-laki, kata “vasektomi” seperti mengetuk ruang paling sensitif dalam imajinasi tentang kejantanan. Kadang disambut tawa kecil, kadang dengan wajah meringis, kadang pula dengan kalimat yang seolah-olah sudah menjadi stigma: “Laki-laki kok mau divasektomi?”

Vasektomi adalah prosedur medis sederhana: pemotongan atau pengikatan saluran vas deferens agar sperma tidak bercampur dengan cairan ejakulasi. Prosedurnya singkat, sekitar 15–30 menit dengan pembiusan lokal, tanpa rawat inap, dan pemulihan dalam beberapa hari. Yang lebih penting, vasektomi tidak memengaruhi libido, tidak mengubah kemampuan ereksi, dan tidak mengubah kadar testosteron. Perlu ditegaskan bahwa ini bukan “pengebirian”, tetapi kontrasepsi.

Data Sistem Informasi Keluarga (SIGA) BKKBN pada 2024 mencatat bahwa dari lebih dari 27 juta peserta KB aktif, hanya 2,48 persen adalah pria, jauh dari target 5,33 persen yang ditetapkan pemerintah. Vasektomi sendiri bahkan hanya digunakan oleh 0,1 persen peserta KB aktif. Angka yang sangat kecil untuk sebuah tanggung jawab yang seharusnya dibagi.

Di satu sisi, pembicaraan tentang kontrasepsi berhenti menjadi urusan kesehatan reproduksi dan berubah menjadi urusan harga diri. Tubuh laki-laki seakan menjadi panggung tempat kejantanan harus terus dipertontonkan melalui keturunan. Di sisi lain, perempuan yang minum pil. Perempuan yang memasang spiral. Perempuan yang menerima suntikan hormonal. Perempuan yang mengalami perubahan suasana hati, nyeri, gangguan siklus, atau kecemasan tubuh akibat alat dan metode kontrasepsi tertentu. Sementara laki-laki, dalam banyak kasus, cukup berdiri di pinggir percakapan, lalu menyebut semua itu sebagai “urusan istri”.

- Poster Iklan -

Tentu tidak semua laki-laki demikian. Namun, kita perlu jujur bahwa dalam banyak rumah tangga, kontrasepsi masih lebih sering dibayangkan sebagai beban perempuan. Padahal kehamilan tidak terjadi sendirian. Jika reproduksi adalah peristiwa bersama, mengapa tanggung jawab mencegah kehamilan seolah-olah hanya menjadi tugas salah satu pihak?

Vasektomi, dalam konteks ini, menjadi lebih dari sekadar pilihan kontrasepsi. Ini menjadi pintu masuk untuk membicarakan ulang relasi kuasa dalam rumah tangga, mengajak laki-laki bertanya kepada dirinya sendiri: apakah kejantanan berarti selalu berarti untuk membuahi, atau justru berani membatasi diri demi keputusan bersama?

Tapi entah mengapa, kata “vasektomi” kerap memantik reaksi yang jauh lebih besar dari fakta medisnya, yang justru diletakkan dalam medan pertarungan simbolis tentang kejantanan. Kejantanan dalam banyak kebudayaan, termasuk di Indonesia, sering kali dibangun di atas narasi kesuburan dan dominasi. Seorang pria sejati adalah pria yang bisa menghamili, yang subur, yang mampu “mengisi” pasangannya. Dalam logika ini, merelakan kemampuan reproduksi adalah melepaskan satu dari sedikit bukti kejantanan yang ada. Pria yang memilih vasektomi dianggap menyerah, bahkan disebut si “pecundang” dalam sistem patriarki.

Sosiolog Raewyn Connell menyebut konstruksi semacam ini sebagai hegemonic masculinity, yaitu sebuah tatanan sosial yang menetapkan satu bentuk kejantanan sebagai ideal dan menghukum semua bentuk lain (Connell, Masculinities, 1995). Dalam tatanan ini, pria yang merawat, yang berbagi beban, yang mau mengalah untuk kepentingan bersama, sering kali justru dianggap lemah, bukan tangguh. Padahal jika dipikir ulang, butuh keberanian yang tidak kecil untuk duduk di meja dokter, menandatangani formulir persetujuan, dan memilih menanggung prosedur fisik demi meringankan beban pasangan. Itu bukan kelemahan. Itulah arti kejantanan sesungguhnya.

Di sinilah komunikasi intim menjadi kunci yang sering diabaikan.

Banyak pasangan sanggup membicarakan cicilan rumah, sekolah anak, menu makan, pekerjaan, atau rencana liburan. Namun, ketika pembicaraan menyentuh tubuh dan seksualitas, suasana mendadak canggung. Padahal, justru di situlah kualitas keintiman diuji. Komunikasi intim bukan sekadar berbicara di ranjang sebelum tidur, tetapi bagian dari proses membangun ruang aman di mana masing-masing pihak merasa didengar tanpa dihakimi. 

Penelitian Byers dan Demmons dalam Journal of Sex Research menunjukkan bahwa pasangan yang memiliki keterbukaan komunikasi dalam topik seksual dan reproduksi cenderung lebih mampu membuat keputusan kesehatan reproduksi secara kolaboratif. Dalam konteks ini, komunikasi bukan hanya tentang “apakah kamu setuju?”, tetapi juga tentang “siapa kita dalam pernikahan ini; dua orang yang bekerja sama, atau dua orang yang masing-masing memikul bebannya sendiri?”

Masalahnya, banyak pria tumbuh dalam lingkungan yang tidak mengajarkan mereka cara berbicara tentang hal-hal semacam ini. Mereka dididik untuk kuat, untuk tidak mengeluh, untuk membuat keputusan, bukan untuk mendiskusikannya. Idealisme kejantanan yang kaku justru adalah penjara, bukan bagi perempuan saja, tetapi bagi laki-laki itu sendiri. Sistem yang telah mendarah-daging ini memaksa pria untuk membuktikan sesuatu yang tidak perlu dibuktikan, yang kemudian menutup pilihan-pilihan yang jauh lebih bermakna.

Memang benar kata pepatah; diam itu mahal harganya. Harga yang membuat perempuan terus menanggung beban kontrasepsi sendirian. Beban yang membuat pria takut dianggap lemah jika mempertimbangkan vasektomi. Dan pada akhirnya, membuat keputusan-keputusan reproduksi menjadi monolog, bukan dialog.

Pria yang memilih vasektomi bukan pecundang. Justru ia adalah seseorang yang berani melepaskan ego demi kebaikan bersama. Mungkin itulah definisi kejantanan yang lebih manusiawi: bukan tentang siapa yang paling kuat menanggung beban sendiri, tetapi tentang siapa yang cukup kuat untuk memilih berbagi.

Vasektomi bukan jawaban untuk semua pasangan, juga bukan solusi tunggal, bukan pula ukuran mutlak tanggung jawab laki-laki. Tetapi, vasektomi layak dibicarakan sebagai pilihan dengan pasangan. Bukan dengan mitos. Bukan dengan cemooh. Bukan dengan ketakutan yang diwariskan dari satu tongkrongan ke tongkrongan lain. Sebab pada akhirnya, yang perlu kita ubah bukan hanya cara memandang vasektomi, tetapi juga cara memandang laki-laki yang tidak harus terus-menerus membuktikan dirinya melalui kuasa atas tubuh dan reproduksi. Bahwa laki-laki juga bisa membuktikan dirinya melalui keberanian mendengar, memahami, dan berbagi beban.

Mungkin, laki-laki yang berani membicarakan vasektomi justru sedang memenangkan sesuatu yang lebih penting, yaitu keintiman yang jujur, relasi yang setara, dan cinta yang tidak membiarkan satu tubuh menanggung semuanya sendirian.

- Cetak Buku dan PDF-
Previous articleBelajar dari Pato, Santri yang Menaklukkan Fisika
Tuhfatul Mubarokah Assalamah
Kandidat doktor Ilmu Sosial di Universitas Airlangga. Minat tulisan dan risetnya bergerak pada etnografi digital, teori kritis, dan queer studies. Ia menaruh perhatian pada bagaimana tubuh, keintiman, dan identitas dikonstruksi, diawasi, serta dinegosiasikan dalam kehidupan sosial maupun ruang digital. Melalui tulisan-tulisannya, ia membaca fenomena sosial-budaya yang kerap bersembunyi di balik norma gender, teknologi, dan relasi sehari-hari sebagai medan kuasa. Bisa dihubungi melalui tuhfatul.mubarokah.assalamah-2024@fisip.unair.ac.id dan evaocca@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here