radikalisme agama

Dalam kehidupan sehari-hari, simbol sering dianggap hal kecil. Padahal, di dalam kelompok radikal, simbol bisa menjadi alat yang sangat kuat untuk membentuk identitas, mengatur loyalitas, dan membedakan siapa yang dianggap bagian dari kelompok dan siapa yang bukan.

Dari hasil penelitian penulis tentang Ekpresi Keagamaan Radikal Organisasi Keagamaan Radikal di Kota Bima, simbol itu tidak selalu berbentuk benda fisik. Ia bisa berupa pakaian, istilah keagamaan, kebiasaan, cara bicara, hingga narasi perjuangan. Celana cingkrang, jubah, warna hitam, atau istilah seperti jihad, takfir, dan thaghut bukan sekadar ekspresi keagamaan. Dalam konteks kelompok radikal, simbol-simbol itu menjadi penanda ideologis yang memberi arti tertentu bagi para anggotanya.

Bagi orang luar, simbol-simbol itu tampak khas dan mudah dikenali. Tetapi bagi anggota kelompok, simbol tersebut sering kali dipandang biasa saja, bahkan dianggap sebagai bentuk keberagamaan yang paling benar. Di sinilah simbol bekerja secara efektif: ia mengubah sesuatu yang tampak khusus menjadi sesuatu yang terasa normal di dalam kelompok.

Simbol Sebagai Penanda Batas

Salah satu fungsi utama simbol adalah membentuk batas. Ia menandai siapa yang termasuk “kami” dan siapa yang berada di luar kelompok. Dalam banyak kelompok radikal, batas ini dibangun sangat tegas. Mereka tidak hanya ingin berbeda, tetapi juga ingin menegaskan bahwa cara beragama mereka adalah yang paling benar.

- Poster Iklan -

Karena itu, simbol sering dipakai untuk menciptakan rasa kebersamaan internal. Orang yang mengenakan pakaian tertentu, mengucapkan istilah yang sama, dan mengikuti praktik yang sama akan merasa menjadi bagian dari satu identitas kolektif. Pada saat yang sama, simbol yang sama juga bisa menjauhkan mereka dari kelompok Islam arus utama yang dianggap kurang tegas, terlalu kompromistis, atau tidak murni.

Dengan cara ini, simbol tidak hanya berfungsi sebagai tanda pengenal. Ia juga menjadi alat pemisah yang memperjelas garis antara kelompok sendiri dan kelompok lain.

Dari Pakaian ke Gagasan

Menariknya, simbol dalam kelompok radikal tidak hanya muncul dalam bentuk visual. Ada juga simbol yang sifatnya abstrak, seperti kemurnian tauhid, jihad, syariat, khilafah, atau penolakan terhadap demokrasi yang dianggap thaghut. Simbol-simbol ini tidak bisa dilihat langsung, tetapi justru memiliki daya pengaruh yang besar karena membentuk cara berpikir anggota.

Para pimpinan kelompok biasanya lebih banyak memakai simbol abstrak ini. Mereka berbicara dalam bahasa ideologi, moral, dan perjuangan. Sementara itu, anggota biasa lebih mudah mengenali simbol yang tampak di permukaan, seperti model pakaian, atribut, atau kebiasaan sehari-hari.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa simbol bekerja pada dua lapis sekaligus. Di satu sisi, ia tampak sederhana dan mudah dikenali. Di sisi lain, ia membawa gagasan besar yang membentuk cara anggota memahami dunia.

Simbol dan Pembenaran Tindakan

Simbol juga bisa berfungsi sebagai pembenar tindakan. Ketika sebuah gagasan diberi label suci, benar, atau wajib diperjuangkan, maka tindakan yang mengikuti gagasan itu ikut memperoleh legitimasi. Inilah yang membuat simbol sangat penting dalam kelompok radikal: ia tidak berhenti pada identitas, tetapi bergerak sampai ke tindakan.

Misalnya, istilah takfir tidak hanya menjadi konsep teologis. Dalam konteks tertentu, ia dapat digunakan untuk mengkategorikan orang lain sebagai kafir, lalu dari sana lahir pembenaran untuk memusuhi atau menolak mereka. Demikian juga dengan istilah al-wala’ wal bara’, yang dipakai untuk membangun loyalitas penuh kepada kelompok sendiri dan penolakan terhadap pihak luar.

Ketika simbol-simbol semacam ini terus diulang, lama-kelamaan ia menjadi bagian dari cara pandang anggota. Mereka tidak lagi melihatnya sebagai sekadar istilah, tetapi sebagai kebenaran yang harus dibela. Akibatnya, batas antara keyakinan dan tindakan menjadi semakin tipis.

Ketegasan sebagai Identitas

Ada satu kata yang terus berulang ketika para subjek menjelaskan pembeda kelompok mereka dengan kelompok Islam lain: tegas. Kata ini tampak sederhana, tetapi justru menjadi penanda penting.

Bagi mereka, ketegasan berarti tidak kompromi terhadap hal-hal yang dianggap menyimpang. Ketegasan juga dipakai untuk menunjukkan bahwa kelompok merekalah yang paling konsisten menjalankan ajaran. Dengan menonjolkan sikap tegas, kelompok radikal membangun kesan bahwa mereka lebih murni, lebih disiplin, dan lebih benar dibanding kelompok lain.

Namun, ketegasan ini bukan hanya soal sikap pribadi. Ia adalah simbol identitas kolektif. Melalui kata itu, kelompok membangun rasa superioritas moral sekaligus memperkuat loyalitas internal.

Simbol Bisa Berubah Makna

Salah satu temuan penting dari penelitian tersebut adalah bahwa makna simbol ternyata tidak tetap. Ketika seseorang keluar dari kelompok radikal, simbol-simbol yang dulu terasa sakral bisa berubah menjadi biasa saja, bahkan kehilangan daya ikatnya.

Ini menunjukkan bahwa simbol tidak memiliki makna yang berdiri sendiri. Maknanya dibentuk oleh lingkungan sosial, hubungan otoritas, dan pengalaman kolektif. Ketika konteks berubah, makna simbol pun ikut berubah.

Karena itu, deradikalisasi tidak cukup hanya dengan mengubah pendapat seseorang. Yang juga perlu diubah adalah ruang sosial yang selama ini menopang makna simbol-simbol tersebut. Selama seseorang masih berada dalam lingkungan yang terus menghidupkan simbol radikal, pengaruhnya akan tetap kuat.

Simbol dalam kelompok radikal bukan hal kecil. Ia adalah alat untuk membentuk identitas, membangun loyalitas, menegaskan batas, dan memberi legitimasi pada tindakan. Karena itu, memahami radikalisme tidak cukup hanya dengan membaca ideologinya. Kita juga perlu membaca simbol-simbol yang dipakai, sebab di sanalah cara berpikir dan cara bertindak dibentuk secara perlahan tetapi mendalam.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here