Home Mozaik Hidup-Hidupilah Pers

Hidup-Hidupilah Pers

Tulisan ini terbit atas kerjasama ASPIKOM Jawa Timur dengan Semilir.co

0
pers

Di bulan Mei ini ada momentum penting yang membawa perhatian kita pada Pers. Pertama, tanggal 3 Mei yang dinyatakan sebagai Hari Kebebasan Pers Sedunia (World Press Freedom Day). Kedua, kabar terbaru dari Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) yang mengajak para kreator konten ikut dalam jumpa pers. Para kreator konten pelaku homeless media itu bukan jurnalis, kok diberi kewenangan setara media arus utama? Menyamakan pers dengan homeless media itu justru berpotensi bisa “membunuh” pers.

Pada Hari Kebebasan Pers Sedunia, secara global kehidupan pers sedang tidak baik-baik saja. Sejumlah persoalan pelik masih harus dihadapi insan pers global. Pers masih harus berhadapan dengan kebebasan yang masih belum sepenuhnya dimiliki. Masalah kekerasan terhadap jurnalis angkanya juga masih tinggi. Keberlangsung hidup institusi pers saat ini juga masih menjadi keprihatinan global.

Tak sedikit institusi pers yang harus gulung tikar. Pers dalam pengertian media cetak dan elektronik harus head-to-head dengan beragam platform digital global dan media sosial (medsos). Pers harus menghadapi kenyataan tak lagi sebagai sumber informasi utama. Iklan sebagai sumber penyokong kehidupan pers telah beralih ke media non pers. Aneka platform digital global telah memalingkan iklan menjauh dari media pers.

Menjamurnya praktik media tanpa rumah (homeless media) juga turut menghantam keberlanjutan pers. Tak sedikit instansi pemerintah dan swasta yang justru menggelontorkan anggaran besar demi membayar para konten kreator, pemengaruh digital (influencer), hingga pendengung bayaran (buzzer). Kuatnya penetrasi homeless media ini menjadikan tak sedikit institusi pers yang tumbang.

- Poster Iklan -

Ajakan hidup-hidupilah pers dalam tulisan ini tak bermaksud agar pers disokong secara finansial semata. Namun, soal kebebasan pers juga perlu dihidupkan terus agar pers yang merdeka bisa terwujud. Hidup-hidupilah pers juga bukan dengan cara “membeli” pers agar tak kritis dalam menjalankan pilar demokrasi. Begitu pentingnya pers bagi demokrasi, untuk itu begitu penting pula upaya untuk menghidup-hidupi pers.

Senjakala Media Pers

Sebuah surat kabar tertua di dunia telah berhenti terbit setelah 320 tahun berkiprah. Media cetak tertua di dunia itu bernama Wiener Zeitung yang menerbitkan edisi harian terakhirnya pada Jum’at (30/6/2023) silam. Koran yang berbasis di Wina, Austria itu cetak koran pertamanya pada tahun 1730. Gegara tak terbit lagi, koran ini kehilangan pendapatan sekitar 18 juta Euro atau setara hampir Rp 300 milliar.

Koran The Sun milik Rupert Murdoch di Inggris juga telah lama tumbang. Kejatuhan bisnis koran The Sun menjadi semakin lengkap dengan bangkrutnya sejumlah media cetak di Amerika. Chicago Tribune, Los Angeles Time, The Rocky Mountain News, Seattle Post Intelligencer, Philadelphia Inquiry, Baltimore Examiner, Kentucky Post, King Country Journal, Cincinnati Post, Union City Register Tribune, Halifax Daily News, Albuquerque Tribune, South Idaho Star, San Juan Star, adalah sejumlah media cetak besar AS yang bangkrut.

Majalah Newsweek, majalah ternama Amerika yang menguasai pemberitaan selama 80 tahun juga telah lama mati. Newsweek menamatkan riwayatnya pada 31 Desember 2012 setelah 80 tahun berkiprah. Sehari berikutnya menyatakan resmi beralih ke media online. Saat ini, terdapat puluhan bahkan mungkin ratusan media cetak di Amerika yang sedang menunggu giliran ditutup karena sudah tak lagi diminati.

Di Indonesia, senjakala media cetak juga terus terjadi. Majalah Berita Mingguan Gatra resmi mengumumkan penerbitan edisi terakhirnya pada Juli 2024. Gatra yang telah berkiprah di dunia pers tanah air tak kurang 30 tahun ini terpaksa harus gulung tikar. Media yang sudah berumur dan punya nama besar ini tak mampu menolak senjakala. Koran Republika juga telah menghentikan versi cetaknya pada 31 Desember 2022. Menyusul koran Sindo yang gulung tikar pada 17 April 2023, koran Sinar Harapan menutup usahanya pada tanggal 1 Januari 2016, menyusul Harian Bola, Soccer, Jurnal Nasional, Majalah Tajuk, Prospek, dan Fortune.

Philip Meyer (2004) dalam bukunya “The Vanishing Newspaper: Saving Journalism in the Information Age” memprediksi koran akan mati pada tahun 2043. Semua pengelola media dituntut mampu menjalankan medianya sebagai sebuah lembaga pers di samping tetap harus mampu menjaga kelangsungannya sebagai sebuah institusi bisnis. Situasi tarik menarik kepentingan antara idealisme dan bisnis yang sering menjadi dilema bagi media pers. Apalagi saat ini pola konsumsi informasi masyarakat telah banyak bergeser ke medsos.

Era disrupsi saat ini telah memunculkan bisnis korporasi media. Raksasa platform media seperti Google dan sejumlah platform medsos telah menyerbu masyarakat dan menggeser kelangsungan hidup pers nasional dan global. Google dan medsos memang bukan perusahaan media, namun melalui internet dan laman-laman medsos tersebut mampu memasilitasi orang dalam mengunggah dan mengunduh beragam berita dan informasi.

Korporasi media digital ini juga telah mengambil kue iklan yang sebelumnya menjadi jatah media pers. Beragam platform digital telah menggeser pola pemasang iklan yang sebelumnya ada pada media arus utama kini banyak yang berpindah ke online. Banyak berkurangnya iklan yang ke media pers sangat berpengaruh pada kelangsungan hidup media ini.

Tak Boleh Mati

Pers tak boleh mati, karena sejatinya saat sebuah media pers mati, yang dirugikan bukan hanya pengelola dan para awak pers bersangkutan, namun juga masyarakat luas karena hak mendapatkan informasi dari media yang kredibel jadi tiada. Bagi demokrasi juga berdampak buruk, karena kematian media pers adalah kematian “anjing penjaga” demokrasi.

Saat sebuah penerbitan pers mati, pluralisme media akan terbatas karena sumber-sumber informasi akan lebih bergantung pada media non pers. Di samping itu, bisa terjadi penurunan kualitas jurnalisme. Media pers seringkali membuat investigasi dan laporan mendalam yang membutuhkan waktu dan sumber daya yang lebih besar. Tanpa media pers, pelaksanaan jurnalisme mendalam bisa berkurang dan lebih banyak berita berpotensi menjadi berita cepat dan dangkal.

Media pers adalah marwah dari jurnalisme karena peran pentingnya dalam menyediakan informasi yang akurat, terpercaya, dan mendalam kepada masyarakat. Di tengah era digital dengan perkembangan pesat medsos dan homeless media, produk pers tetap punya nilai tersendiri dan dianggap sebagai salah satu bentuk jurnalisme yang paling autentik dan teruji. Semua produk informasi yang tersaji di media pers telah melalui proses editorial yang ketat dan pengawasan yang teliti.

Di era informasi yang berlimpah saat ini, media pers berperan sebagai penyaring informasi, membantu membedakan berita yang sahih dari hoaks atau berita palsu yang beredar di dunia maya. Sejumlah media pers yang independen berfungsi sebagai wadah bagi para jurnalis untuk mengungkap kebenaran dan memberikan laporan yang tak kenal kompromi.

Menolak mati adalah harga mati bagi para pengelola pers. Digitalisasi menuntut perubahan pada lanskap manajemen bisnis dan redaksional media pers. Kehadiran internet, teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah cara banyak orang dalam mengakses informasi. Kemampuan beradaptasi dan menyesuaikan tuntutan kemajuan teknologi menjadi kunci penting agar pers tetap bisa hidup.

- Cetak Buku dan PDF-
Previous articleRekonsiliasi Makna di Meja Makan
Sugeng Winarno
Pengajar Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang. Pernah kuliah Media and Information di Curtin University of Technologi Australia. Atlet perangkai kata-kata. Ia menulis di sejumlah media dengan minat seputar komedi, musik, motoran, dan kuliner. Tertarik riset dan kajian komunikasi, media baru, dan jurnalisme. Saat ini sedang studi lanjut di rumah (home schooling).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here