pesantren

Suatu sore, saya membuka percakapan WhatsApp dengan seorang ulama kharismatik sekaligus penerus silsilah thoriqoh yang saya takdzimi, KH Ahmad Tajul Mafakhir. Saya memulai dengan mengirim artikel saya tentang “kemudi batin”.

Sebuah pernyataan dari beliau yang menenangkan. “Sebenarnya spiritualitas di kita itu sudah diamankan oleh poro sesepuh.” Kemudian beliau menjelaskan tentang manusia modern yang cenderung menjadi tukang kehidupan dan penyembah alat kerjanya. Pesan beliau jelas, “jadi tukang jangan nggumuni alat.” Bahkan, beliau juga menandaskan, sekarang sudah muncul fenomena yang lebih mengerikan dimana manusia sudah bukan sekadar tukang namun penyembah alat.

Dari sana, obrolan sederhana itu berkembang menjadi dialog yang menyentuh inti pemahaman tentang perjalanan spiritual di lingkungan pesantren dan thoriqoh. Beliau menegaskan bahwa ungkapan itu memang khas argumen para mursyid thoriqoh. Bukan sekadar klaim kosong, melainkan keyakinan yang hidup di antara para penempuh jalan ini.

Perlahan saya meren ungi kalimat “diamankan oleh poro sesepuh” itu cukup dalam, hingga akhirnya mendorong saya untuk menulis artikel ini. Menurut saya, ada dua cara membaca kalimat ini. Pertama, dengan nada skeptis. Kalimat itu bisa dianggap sebagai pelarian dari tanggung jawab, atau sekadar penghiburan agar orang merasa aman tanpa usaha. Kedua, dengan kedalaman batin. Bahwa memang ada penjagaan spiritual yang diwariskan para wali dan mursyid dari generasi ke generasi. Dan, ketika seseorang masuk dalam jalur itu, ia juga masuk dalam lingkaran penjagaan tersebut. Bahkan, Kiai Tajul menegaskan bahwa mengikuti jalan sesepuh (waliyullah, mursyid, dan ulama terdahulu) membawa kita pada keselamatan. “Ikuti saja mereka. Selamet. Selamet. Gak kiro salah.”

- Poster Iklan -

Kebenaran, dalam pandangan saya, tidak berpihak pada salah satu kutub. Dialog dengan beliau meneguhkan keyakinan itu. Hidup tidak selalu harus dibaca secara hitam-putih. Bahwa iman dan akal tidak harus saling menegasikan.

Lalu, saya menjawab singkat, “Husnudzon kepada para sesepuh dan penyangga batin (guru tulang).” Di situlah letak inti refleksi ini. Dalam keyakinan saya, husnudzon bukan berarti mematikan akal. Tapi memberi ruang percaya kepada mereka yang lebih dulu berjalan dan membuktikan jalan itu lewat hidupnya. Sedangkan guru tulang adalah sosok yang menopang batin kita dari dalam. Mereka bukan hanya memahami keadaan lahir, tetapi juga mengenal sisi batin terdalam seorang murid. Karena itu, hubungan ini bukan sekadar hubungan murid dan pelajaran, melainkan hubungan jiwa.

Ada pernyataan berikutnya yang mengena. “Sing ruwet itu sing ndolek dalan dewe.” Yang rumit itu yang mencari jalan sendiri. Di sini Kiai Tajul sedang berbicara tentang penyakit spiritualitas modern yaitu keinginan untuk merancang perjalanan sendiri tanpa mau tunduk pada tradisi dan bimbingan. Banyak orang kini merasa cukup dengan membaca buku terjemahan, menonton ceramah daring, atau meracik praktik spiritual dari berbagai sumber tanpa bimbingan. Hasilnya, mereka memang bergerak tapi sering kali berputar-putar, capek sendiri, tanpa pijakan yang kokoh.

Kiai Tajul kemudian menyebutkan deretan amalan komunal yang biasa kita temukan. “Kenduri, Sowan Yai, Khataman, Ziarah Wali, Haul, Maleman, Megengan.” Ini bukan daftar ritual sembarangan. Ini adalah arsitektur sosial-spiritual yang telah dirancang dengan sangat sadar oleh para sesepuh untuk menjaga hubungan antara yang hidup dan yang telah tiada, antara murid dan guru, serta antara individu dan komunitasnya. Setiap amalan itu adalah jembatan menuju keberkahan. Menuju ingatan kolektif. Menuju rasa memiliki terhadap sebuah silsilah panjang yang tidak terputus.

“Itu aja jagain. Aman. InsyaAllah.” Pesan penutup dari Kiai Tajul.

Tiga pesan penutup Kiai Tajul tersebut terasa seperti napas lega setelah untaian penjelasan yang panjang dan mendalam. Beliau seakan berpesan, “kerjakan bagianmu, lalu serahkan sisanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala”.

Di situlah ajaran yang terasa sangat membumi. Saya menyebutnya teologi praktis. Bukan pasrah tanpa usaha, dan bukan juga sibuk bergerak tanpa arah batin. Yang dijaga adalah keseimbangan antara ikhtiar dan tawakkal, lewat amalan-amalan sederhana yang bisa dijalani setiap hari, setiap bulan, dan setiap tahun.

Refleksi ini membawa saya pada satu kesimpulan: kita sering mencari jalan spiritual yang besar dan rumit, padahal para sesepuh telah mewariskan jalan yang bersahaja namun nyata. Jalan itu bukan di seminar motivasi atau aplikasi meditasi. Ia ada di serambi masjid saat maleman, di makam wali ketika haul, dan di dapur saat orang-orang menyiapkan kenduri bersama.

Keamanan spiritual yang diwariskan para sesepuh bukan berarti hidup tanpa ujian. Tetapi setidaknya, kita tidak berjalan sendirian. Dan, dalam perjalanan hidup yang panjang, itu adalah hal yang sangat berharga. Wallahu a’lam.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here