Artikel ini merupakan tanggapan atas tulisan berjudul “Ruang Batin Orang-orang Pesantren” yang diterbitkan oleh Semilir. Penulis menyambut gagasan dalam tulisan tersebut sekaligus melengkapinya dengan perspektif yang lebih utuh tentang pesantren sebagai lembaga pembentukan karakter. Bukan hanya ruang spiritual, melainkan juga emosional, intelektual, dan fisik/jasmani.
Pesantren adalah paket lengkap capacity building. Sisi emosional ditempa, sisi intelektual diasah, sisi fisik/jasmani juga diperhatikan, dan sisi spiritual sudah pasti menjadi prioritas utama. Keempat dimensi ini bukan sekadar slogan, melainkan benar-benar dijalani santri dalam keseharian mereka di pesantren.
Pertama, sisi emosional: empati yang tumbuh dari kebiasaan. Sisi emosional diasah dengan cara (salah satunya) berempati. Santri terlatih merasakan dan merespon kebutuhan sesama tanpa harus menunggu instruksi. Saat ada santri yang sakit misalnya, santri lain tanpa menunggu perintah akan segera bergerak membantu: mengambilkan makan, mengantarkan ke klinik, membuatkan surat izin tidak masuk sekolah, hingga mencucikan baju.
Manusia pada dasarnya butuh kehadiran keluarga. Dan ketika keluarga tidak bisa hadir secara fisik, teman sesama santri hadir memberi kehangatan bak saudara kandung. Inilah yang membuat pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan juga rumah kedua yang membentuk kepekaan sosial secara nyata.
Kedua, sisi intelektual: sorogan dan bahtsul masail. Sisi intelektual diasah melalui dua metode khas: sorogan dan bahtsul masail. Sorogan bertujuan menjaga kemurnian sanad keilmuan. Pembelajaran tidak cukup berhenti pada pertanyaan “apakah santri mengerti penjelasan kyai”, tapi harus dipastikan “apakah pemahaman santri berkesesuaian dengan materi yang disampaikan kyai”.
Itulah keistimewaan sorogan. Santri dituntut bisa membaca sekaligus menjelaskan ulang apa yang dibaca.
Bahtsul masail lebih menarik lagi. Di zaman ini banyak orang terpesona dengan acara debat seperti ILC (Indonesia Lawyers Club), sebuah acara gelar wicara yang sebelumnya disiarkan di salah satu stasiun televisi, di mana narasumber tampil lincah merangkai argumen, berkelit dari kesalahan, dan sekaligus menemukan celah logical fallacy lawan bicara. Bahtsul masail jauh lebih seru dari itu. Santri melompat dari satu kitab ke kitab lain, bergerak dari hujjah yang lemah menuju pendapat yang lebih rojih. Lebih kuat dan lebih tepat.
Yang membedakan bahtsul masail dari debat biasa adalah suasana setelahnya. Di ruang bahtsul masail, kepala boleh panas dan emosi meluap selama diskusi berlangsung. Namun ketika perumus sudah memutuskan, perbedaan pendapat (khilaf) diterima sebagai rahmat, bukan kekalahan. Ngopi bareng dengan lawan debat sudah pasti terjadi sesudahnya. Segalanya bermula dari ilmu dan berakhir pada ilmu. Ini yang membedakan dengan debatnya para politisi yang kerap berujung kontak fisik atau saling lapor ke polisi.
Bahtsul masail juga mengajarkan komitmen dan konsistensi intelektual. Dalil yang dianggap kuat akan dipertahankan setengah mati. Beda dengan politisi yang bisa menjadikan seseorang musuh besar saat menjadi oposisi, lalu tiba-tiba menjadi koalisi setelah mendapat kursi.
Ketiga, sisi jasmani: sehat agar bisa beribadah. Sisi jasmani juga tidak luput dari perhatian kyai. Santri bermain bola dengan memakai sarung. Jangan ditanya apakah ini melanggar regulasi FIFA, karena bagi santri tujuan olahraga bukanlah kompetisi, melainkan menguatkan jasmani agar bisa beribadah untuk menyempurnakan rohani. Yang menarik, tidak ada wasit dalam sepak bola ala santri. Tendangan bebas atau penalti diputuskan dengan musyawarah-mufakat dan sedikit negosiasi. Tanpa sadar, santri sedang berlatih demokrasi dan manajemen konflik di lapangan tanah berdebu. Sebuah pelajaran yang tidak akan ditemukan di buku diktat manapun.
Keempat, sisi spiritual: prioritas yang tidak pernah bergeser. Sisi spiritual menjadi target utama yang digarap oleh kyai. Apalah artinya seseorang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, cakap secara intelektual, dan sehat badannya, namun kering kerontang rohaninya. Jauh dari cahaya llahi. Kecerdasan tanpa ruh adalah bencana yang tertunda.
Santri diajarkan membaca wirid-wirid (awrod) tertentu, menjalani riyadhoh di situasi dan kondisi tertentu, serta menapaki suluk setapak demi setapak. Tujuan akhirnya adalah melebur kebencian dalam hati sehingga santri menjadi pencinta. Manusia yang hidupnya digerakkan oleh cinta kepada Allah dan sesama, demi mendapatkan ridho Sang Pencipta. Setidaknya empat dimensi inilah yang memenuhi dan mewangikan ruang batin santri.
Namun pertanyaan selanjutnya adalah apakah ruang batin yang harum mewangi itu bisa menjadi ‘pengharum ruangan’ bagi lingkungan sekitar seorang santri saat ia tidak lagi nyantri? Benar adanya bahwa santri, atau lebih tepatnya alumni pesantren, harus bisa berperan di tengah riuhnya zaman yang mengalami disorientasi spiritual akut (meminjam istilah Gus Idung di tulisan sebelumnya). Santri tidak boleh gagap ketika terjun ke dunia politik ataupun bisnis. Tetap cakap saat memimpin sidang DPR, tetap tenang saat memimpin rapat umum pemegang saham, tetap beretika saat memimpin, dan tetap gagah saat dipimpin. Kata maqolah:“kun imaaman muto’an au ma’muuman muti’an”. Jadilah pemimpin yang ditaati, atau (jika belum mampu) jadilah pengikut yang taat.
Hal seperti ini pernah dilakukan oleh para sahabat Nabi sepeninggal beliau. Madinah tidak kurang mulia. Di sana ada jasad suci Sang Nabi, namun Sahabat Amr bin Ash tidak memilih diam dan berdiam di kota cahaya itu. Ia pergi ke Mesir, bahkan dimakamkan di sana, untuk menyebarkan nilai-nilai Islam. Begitu pula Sahabat Abdullah bin Abbas di Thaif, Abu Ayyub Al-Anshari di Turki, serta Khalid bin Walid di Damaskus. Mereka bergerak karena nilai yang mereka bawa terlalu berharga untuk disimpan sendiri.
Semacam ada hukum “fardhu kifayah” bagi alumni pesantren untuk terjun ke ruang publik. Tujuannya tentu untuk mewarnai, bukan diwarnai. Mempengaruhi, bukan dipengaruhi. Karena sejatinya, pesantren adalah sebuah nilai, bukan sekedar wilayah teritorial tersekat dengan papan kayu bertuliskan “BATAS KELUAR SANTRI”.



















