juara

Dalam suasana pagi, di penutup tanggal akhir bulan Juni yang lengang dengan udara yang cukup dingin menusuk hingga ke tulang, kami tetap berangkat ke sebuah tempat perhelatan upacara kelulusan siswa SMP, tempat anak kami bersekolah. Memang di bulan Juni ini, hujan sudah tidak lagi mendera kota Malang, sehingga banyak aktifitas warga kota diselenggarakan di bulan Juni. Baik acara sekolah hingga acara hajatan warga, seolah menolak judul puisinya Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni, sebagai metafora ketabahan dan cinta dalam diam.

Selesai acara, kami berdiri di pelataran gedung acara seraya menunggu yang lain untuk bergegas pulang. Sebuah suara muncul dari sebelah, dan saat saya menoleh, saya langsung terhenyak. Suara dialog seorang anak dengan ibunya.

“ …sudah pesan?” tanya sang ibu.
“Ya,” jawab sang anak pendek.
Lalu sang ibu menimpali, “… berapa ongkosnya?”
“delapan belas ribu,” jawab sang anak.

Dalam proses dialog antara sang ibu dengan anaknya itu, diikuti gerakan cepat sang ibu membuka tas yang sangat sederhana, membuka amplop putih yang sudah terlihat lusuh, dan melihat isinya yang berisi uang pecahan kertas dengan denominasi lima ribu, dua ribu, dan seribuan. Seketika dan secepat kilat saya mengalihkan pandangan ke tempat lain dengan melihat orang yang berdiri berjejal menunggu jemputan masing-masing.

- Poster Iklan -

Dialog antara anak dan ibunya di atas menggetarkan perasaan dan hati saya. Gambaran bahwa kehidupan tidak selalu sama rasa, namun perlu ada tenggang rasa.

Saya terperangkap dalam situasi melihat dan sekaligus curi dengar pembicaraan di atas. Kegiatan perayaan yang dibalut dengan acara syukuran kelulusan yang dikenal dengan istilah Purnawiyatan telah menghadirkan kenyataan yang kurang nyaman bagi sebagian orang. Mungkin ada yang mengikuti acara karena keterpaksaan harus mengikuti selera mayoritas keinginan sekolah atau pun keinginan komite sekolah. Mereka yang ingin menunjukkan bahwa kemajuan sekolah bisa ditunjukkan melalui acara pelepasan kelulusan siswa dengan beragam acara pemberian penghargaan juara. Baik juara karena prestasi akademik maupun juara dalam kegiatan non-akademik.

Saat ini, masyarakat selain menyenangi beragam kemenangan kejuaraan akademik dan non akademik, juga sangat senang jika anaknya diterima di sekolah yang dipersepsikan oleh masyarakat sebagai sekolah favorit. Anaknya dipaksa masuk untuk mengikuti serangkaian proses penerimaan siswa baru yang cukup melelahkan. Lalu nama-nama siswa yang diterima masuk di sekolah yang dianggap favorit, diapresiasi melalui pencantuman foto diri dan nama-namanya di baliho atau banner besar yang dipasang di pintu masuk sekolah. Diberi judul dan beragam ucapan dan jargon mentereng; bahwa bisa diterima di sekolah favorit adalah prestasi besar bagi sekolahnya.

Tentu pemasangan baliho atau banner ini diharapkan dapat dilihat oleh adik kelas yang masih belum lulus atau dapat dilihat oleh orang tua siswa yang lewat saat mengantar anaknya ke sekolah. Inilah budaya hipperrealitas yang telah memasuki jantung utama lembaga penjaga moral.

Sebenarnya kegiatan kependidikan tidaklah berurusan dengan acara-acara kejuaraan. Pendidikan adalah sebuah proses yang mencetak perilaku atau adab sopan santun dan ada proses transformasi pengetahuan dari guru kepada muridnya. Ini juga berlaku untuk dosen di kampus.

Pendek kata, proses pendidikan adalah sebuah aktifitas pembelajaran yang menghasilkan orang terdidik, berpengetahuan, dan beradab akhlakul karimah. Memang ada pendapat yang mengatakan bahwa orang bersekolah belum tentu terdidik dan berpengetahuan, apalagi beradab, tapi ini tentu tidak bisa terjadi secara sekaligus.

Dengan adanya proses bersekolah sebagai salah satu dari tujuan pendidikan, diharapkan setiap orang yang lulus dari sekolah menjadi pribadi yang terdidik, berpengetahuan, dan mempunyai akhlak yang baik. Inilah tujuan yang esensial dari proses belajar di lembaga Pendidikan. Jadi, bukan semata mendapatkan juara.

Setelah melihat realitas saat ini, saya lalu teringat dengan beberapa tulisan dan perkataan Datuk Sutan Malaka yang bernama asli Ibrahim, yang kini telah menjadi legenda yaitu Tan Malaka. Ia menyebutkan bahwa tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan.

Bagi Tan Malaka tujuan pendidikan bukan untuk mencetak pegawai kolonial, melainkan sebagai alat pembebasan. Pendidikan sejati bertujuan untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan (tekad), dan memperhalus perasaan, serta menumbuhkan keberanian berpikir kritis dalam melawan segala bentuk penindasan. Dengan arti kata lain pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, menguatkan tekad, dan menumbuhkan empati.

Tan Malaka, diduga mempunyai puluhan nama samaran yang digunakan di Philipina, Singapura dan di tempat lainnya. Di Indonesia salah satu nama samara yang diduga digunakan adalah nama Ilyas Husein. Nama ini tertulis dalam buku yang berjudul Dari Penjara ke Penjara. Selain buku di atas, ia juga menjadi penggagas pertama istilah Naar de Republiek Indonesia melalui tulisan dalam bentuk pamflet yang membikin heboh pemerintahan Hindia Belanda, termasuk para tokoh pejuang nasionalisme di zaman masa bergerak.

Dalam pandangan Tan Malaka pendidikan mempunyai tiga pilar, pertama, memanusiakan manusia: Proses pendidikan harus memerdekakan akal budi dari kebodohan dan keterbelakangan. Kedua, dasar kerakyatan: Ilmu yang didapat bukan untuk kepentingan pribadi atau kelas sosial tertentu, melainkan untuk memberdayakan dan mengangkat derajat rakyat kecil. Ketiga, kemandirian: Selain mencerdaskan otak, pendidikan harus membekali individu dengan keterampilan praktis (pekerjaan tangan/vokasi) dan kemauan mencari nafkah untuk mandiri. Pemikiran ini ia implementasikan melalui pendekatan pedagogik transformatif yang menekankan pentingnya diskusi, logika rasional, dan kesadaran sosial. Inilah gagasan revolusioner yang digaungkan untuk mempercepat kemerdekaan seratus persen melalui gerakan Pendidikan.

Jadi, Pendidikan sebenarnya bukanlah mencari juara namun Pendidikan yang dianggap sesuai dengan kodratnya adalah mengajarkan budi pekerti dan memberikan pengetahuan bagi semua anak bangsa tanpa ada diskriminasi.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here