Ma’arif

Beberapa waktu lalu saya mendapat kiriman dokumen tentang peta konsep pengembangan pendidikan madrasah dari Profesor Abdul Malik Karim Amrullah. Kiai Amka, sapaan akrabnya, adalah Guru Besar Manajemen Pendidikan Islam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang saat ini diamanahi sebagai Ketua LP Ma’arif NU Kabupaten Malang dan Wakil Ketua Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Jawa Timur.

Saya menemukan satu kalimat yang menjadi angin segar di tengah terik siang. Kalimat tersebut rupanya menjadi tageline yang diajukan oleh Kiai Amka, “santri bisa berfikir kritis, ngoding, dan mimpin tahlil.” Kalimat yang tampak sederhana, tapi kalau direfleksikan lebih mendalam, bukan kalimat biasa. Ini adalah pernyataan keyakinan (statement of beliefs). Sebuah pernyataan bahwa dunia pesantren dan dunia modern bukan dua hal yang saling bertolak belakang.

Visi besar “World Class Ma’arif Education” yang digagas oleh Kiai Amka tersebut bukan sekadar slogan yang dipajang di dinding aula. Ini adalah peta jalan, sebuah komitmen nyata bahwa pendidikan yang berakar pada nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah bisa berdiri sejajar. Bahkan, menurut saya, melampaui standar pendidikan kelas dunia.

”Pendidikan Ma’arif bukan hanya tentang apa yang diajarkan di kelas, tapi tentang siapa yang akan lahir dari kelas itu. Yakni, manusia yang utuh, berilmu, dan berakhlak mulia.” Begitulah keyakinan Kiai Amka.

- Poster Iklan -

Ketika mendengar istilah “world class”, mungkin sebagian dari kita langsung terbayang sekolah-sekolah mewah di Eropa atau lembaga pendidikan bergengsi di Amerika. Tetapi, Kiai Amka, menurut saya punya cara pandang yang berbeda tentang meta-konsep dari istilah tersebut.

Bagi Kiai Amka, world class bukan hanya soal gedung yang tinggi atau anggaran yang besar. World class adalah soal kualitas berpikir, keluasan wawasan, dan kekuatan karakter yang tumbuh dari dalam diri setiap peserta didik. Ini adalah cara pandang seorang guru besar-cum-pemikir pesantren yang mengerti tentang filosofi serta tujuan pendidikan. Dan, di sinilah Kiai Amka mengajukan gagasannya dengan modal sosial yang luar biasa pada madrasah atau sekolah di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Modal sosial yang dimaksud antara lain ratusan sekolah yang tersebar dari kota hingga pelosok desa, ribuan guru yang sudah bertahun-tahun mendedikasikan dirinya, serta warisan tradisi keilmuan pesantren yang telah teruji berabad-abad lamanya. Modal itu tidak dimiliki oleh sembarang lembaga pendidikan di dunia.

Salah satu hal yang paling menarik dari gagasan Kiai Amka adalah “ngoding”. Ya, ngoding atau pemrograman komputer. Ini bukan kebetulan namun pesan tegas bahwa generasi santri harus akrab dengan dunia digital. Juga, harus bisa membaca lanskap teknologi yang berubah begitu cepat, dan harus siap bersaing di era kecerdasan buatan tanpa kehilangan jati dirinya sebagai santri.

Saya membayangkan, seorang anak dari Tirtoyudo atau Kalipare, Malang, yang di pagi hari membaca kitab kuning, siang harinya akan belajar algoritma dan pemrograman, lalu malamnya memimpin tahlil di mushola yang ada di kampungnya. Gambaran itu bukan utopia. Dengan visi yang tepat dan langkah yang konsisten, gambaran itu adalah masa depan yang sedang dibangun oleh Kiai Amka hari ini. Tentu, melalui lembaga yang ia pimpin.

Menurut Kiai Amka, santri yang bisa ngoding adalah santri yang membuktikan bahwa iman dan ilmu pengetahuan berjalan beriringan, bukan berlawanan arah. Ada hal menarik lainnya yang diajukan Kiai Amka yaitu “berfikir kritis”.

Saya melihat Kiai Amka mengajukan tageline ini bukan tanpa alasan. Dunia hari ini dibanjiri informasi berupa hoaks, propaganda, dan konten-konten dangkal yang beredar lebih cepat dari kebenaran itu sendiri. Generasi yang hanya terlatih menghafal tanpa diajari mempertanyakan dan menganalisis akan mudah terseret arus.

Kiai Amka sadar betul adanya tantangan ini. Karenanya, kurikulum yang dikembangkan ke depan harus mendorong siswa untuk berani bertanya, berani berdebat dengan santun, dan berani mengambil kesimpulan berdasarkan dalil dan data. Bukan sekadar ikut-ikutan. Tradisi tanya-jawab yang hidup di pesantren dan madrasah sejatinya adalah cikal bakal budaya berpikir kritis itu. Tinggal bagaimana kita merawat dan mengembangkannya.

Tak berhenti di situ. Ada lagi gagasan Kiai Amka yang lebih menyentuh hati. Semua alumni madrasah atau sekolah Ma’arif NU bisa mimpin tahlil. Menurut saya ini tak kalah penting. Apa sebab?

Di tengah arus globalisasi yang kadang membuat orang merasa malu dengan identitas lokalnya, Kiai Amka justru menegaskan: kebanggaan pada tradisi adalah kekuatan, bukan kelemahan. Seorang pemimpin yang bisa memimpin tahlil dengan khidmat adalah pemimpin yang punya akar, punya rasa memiliki komunitas, dan punya empati yang tumbuh dari laku spiritual. Pemimpin-pemimpin dunia yang paling berpengaruh sepanjang sejarah bukanlah mereka yang paling banyak hafal teori manajemen, tapi mereka yang paling paham siapa dirinya dan dari mana mereka berasal. Identitas itu adalah kompas. Dan Kiai Amka ingin memastikan bahwa setiap lulusannya punya kompas yang kuat.

Akhirnya, visi besar memang membutuhkan waktu. Tidak ada yang berubah dalam semalam. Tapi arah yang jelas, kepemimpinan yang visioner, dan komunitas yang percaya pada potensi dirinya sendiri. Itulah tiga bahan utama yang membuat perubahan besar menjadi mungkin.

Kiai Amka dan timnya di LP Ma’arif NU Kabupaten Malang sepertinya sedang memasak dengan tiga bahan itu. Jadi, kalau ada yang bertanya, “mungkinkah pendidikan Ma’arif NH benar-benar menjadi world class?” Jawaban paling jujur adalah, bukan hanya mungkin namun sudah dimulai. Dan, kita semua, para guru, orang tua, peserta didik, dan masyarakat, adalah bagian dari perjalanan yang membanggakan ini. “Ma’arif for the World” bukan sekadar mimpi, tapi janji yang sedang kita tepati bersama. Wallahu a’lam.

- Cetak Buku dan PDF-
Previous articleHidup-Hidupilah Pers
Abdur Rahim
Penikmat cerita. Santri-Alumni Pondok Pesantren Kyai Syarifuddin Lumajang. Selain bekerja sebagai kurator, penyunting, dan pengembang naskah buku, ia juga aktif dalam gerakan literasi. Sejak tahun 2015, terlibat dalam berbagai pelatihan penulisan serta pendampingan (coaching clinic) penerbitan buku, khususnya bagi kalangan akademisi dan komunitas pesantren, guna mendorong tradisi intelektual dan publikasi karya di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here