Musik selalu bersifat mengakar. Ia merupakan prototipe pengalaman yang telah melewati rumit proses konversi yang melibatkan imajinasi dan daya cipta seniman untuk mencapai keindahan estetis di bidang bunyi. Dalam konteks ini, musik musti dianggap memiliki derajat kesejajaran dengan karya-karya lain di bidang filsafat atau sastra.
Derajat kesejajaran ini memungkinkan musik menjelma ruang percakapan yang selalu bersifat timbal balik. Itulah sebabnya urusan mengulik musik oleh tidak pernah cukup hanya berbekal kacamata kuda. Lebih dari itu, ia selalu mengandaikan pembacaan mendalam atas berbagai lapisan struktur dari sebuah karya musik untuk menemukan resonansinya dengan peristiwa, pun subjektivitas pengalaman.
Pemahaman tersebut saya dapati setelah membaca tuntas buku “Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan: Kumpulan Esai Musik Esai, Politik, Kegaduhan dan Kerapuhan” (2025) karya Herry Sutresna, atau yang akrab disebut Ucok. Seperti judulnya, buku ini merupakan antologi esai yang menjadikan musik sebagai pokok bahasan utama. Entah dalam bentuknya sebagai rekomendasi, maupun resensi.
Bisa dibilang buku ini adalah proyek pengarsipan, mengingat sebagian isinya yang mengadopsi tulisan lama yang lebih dulu terbit via laman blog pribadi Ucok, Gutterspit. Tetapi struktur kepenulisan Ucok yang repetitif tak membuat perbedaan berarti, sekalipun buku ini turut memuat beberapa tulisan dengan pokok bahasannya yang jauh bersifat kontemporer. Sentuhan itu bahkan kerap mendatangkan sensasi seperti saya sedang membaca Gutterspit, namun dalam bentuknya sebagai rilisan fisik.
Tentu saja, urusan mengulik karya musik dalam bentuk rekomendasi dan resensi selalu melibatkan unsur subjektivitas. Bahkan dalam urusan mengkurasi karya musik mana yang akan diulik, preferensi personal sangatlah menentukan. Hanya yang menarik, unsur subjektivitas dalam upaya Ucok mengulik sebuah karya musik hanya berfungsi sebagai kata pengantar untuk memahami persoalan yang jauh lebih pelik dan ber-itensi sosial.
Unsur kreativitas Ucok sebagai penulis menjadikan isi keseluruhan buku melampaui maknanya sebagai wujud apresiasi seni semata. Melainkan juga medium refleksi di tengah carut marut zaman. Inilah ciri khas yang membedakan ulasan Ucok dari kebanyakan jurnalis media mainstream, maupun oldhead (baca : abang-abangan) di lingkup skena musik.
Setiap esai dalam buku ini memang menyiratkan pokok bahasan yang berbeda satu sama lain. Namun satu yang bersifat tetap adalah kecenderungan Ucok untuk bertolak dari abstraksi menuju realitas konkret. Itu dilakukannya dengan melibatkan pembacaan mendalam akan musik, pun terkadang teori sebagai permulaan.
Hal tersebut dapat ditelusuri lewat sebagian besar esai yang dimuat dalam buku ini. Misalnya lewat esai favorit saya yang berjudul “Jazz dan Politik Eksistensial: Membaca Guattari di antara Ellington, Monk, dan Taylor”. Ulasan dimulai dengan memoar pengalaman personal Ucok saat bersinggungan dengan jazz dan bagaimana itu membawanya pada penelusuran mandiri terkait genre yang satu ini.
Tak terbatas pada rekaman-rekaman jazz. Penelusuran juga turut memediasi pertemuan Ucok dengan buku karya Vladimir Moreira yang terbit dengan judul asli “Jazz e Politica da Existència a Música de Félix Guattari”. Intinya buku itu membahas dimensi politik dari jazz dengan mengacu pada sosok pianis legendaris seperti Duke Ellington, Thelonius Monk, dan Cecil Taylor dengan menggunakan politik eksistensial sebagai pisau analisis yang dipinjam oleh Moreira dari filsuf Felix Guattari.
Pokok bahasan dalam esai tersebut sepenuhnya mengonfrontasi pandangan konstitutif kita tentang politik yang melulu merujuk pada struktur dan praktik kekuasaan. Tetapi politik sebagai mekanisme pertahanan kolektif di tengah sistem yang seringkali tak memberi ruang untuk sekadar bernapas. Di mata Ucok, politik ini hidup dan bisa dirasakan denyutnya dari dekat lewat solidaritas antar warga untuk berimprovisasi di tengah situasi pandemi COVID-19, konflik penggusuran, maupun praktik harian di wilayah abu-abu yang tidak ditemukan legitimasinya dalam prosedur hukum formal negara, tetapi sah secara moral.
“Dengan membaca jazz melalui lensa Guattari, Vladimir Moreira Lima menunjukkan bahwa musik ini adalah laboratorium eksistensi. Ellington adalah padanan upaya mendengar dunia bersama, Monk adalah ikhtiar menabrakkan nada demi membuka kemungkinan, dan Taylor merupakan sinonim menghantam piano kehidupan agar tetap berdenyut. Dari ketiganya, kita melihat politik bukan sekadar urusan struktur, melainkan urusan tempo : bagaimana manusia bertahan, bergerak, dan mencipta ritmenya sendiri”. (hlm 282)
Selain membaca unsur politis di luar konteks musik sebagai ekspresi personal, Ucok tampak enggan mengabaikan persoalan laten di balik tren mendengarkan musik saat ini. Pergeseran distribusi musik menuju platform digital didukung algoritma berdasarkan klik yang berpotensi mengurung musik politis untuk tetap berada di pinggiran. Alih-alih menjadi alternatif yang muncul di permukaan dan bersaing dengan estetika lain yang lebih mainstream.
Situasi ini memicu Ucok untuk menulis ulasan berjudul “Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan : Merayakan 3 Dekade Anarki Pop Chumbawamba”. Ulasan dimulai pertama-tama dengan capaian sejarah album Nevermind in The Bollocks, Here’s The Sex Pistols (1997) dalam memperkenalkan ide tentang punk sebagai metode berpikir sekaligus strategi perlawanan budaya yang adaptif terhadap kondisi sosial politik di Inggris. Ucok, ia lalu mengulas tentang bagaimana pengaruh itu kemudian melahirkan subgenre punk yang secara tidak langsung menjadi pra-kondisi bagi kemunculan unit pop asal Leeds, Chumbawamba menjelang akhir 80-an.
Sekalipun merupakan unit pop, Ucok menemukan beberapa album awal Chumbawamba memiliki resonansi dengan gagasan anti-otoritarian dari gerakan anarcho-punk yang berkembang di Leeds, Inggris. Hanya yang membedakannya adalah bagaimana aspirasi politik itu dikemas menjadi sesuatu yang ‘catchy’ dan dekat dengan kultur musik pop. Ucok mencatat, kecenderungan estetis itu tak pernah berubah bahkan ketika kreativitas mereka ditantang oleh situasi sosial dan politik di Inggris setelah berakhirnya era kepemimpinan rezim neoliberal Margaret Tatcher.
Era tersebut ditandai dengan optimisme yang luap-luap dan pengaruhnya bisa dirasakan lewat kemunculan musik populer “englishness”, atau yang kelak dikenali sebagai Britpop. Namun alih-alih menarik garis demarkasi dengan tren budaya yang berkembang. Chumbawamba justru memutuskan turut serta dalam pergolakan budaya yang berkembang dengan merilis album Anarchy (1994). Ucok menggambarkan momen perilisan album tersebut sebagai kehadiran yang membawa serta gangguan terhadap budaya mapan.
“Di tengah gempuran komodifikasi budaya, Anarchy mengingatkan bahwa pop bukan wilayah steril : ia bisa menjadi panggung paling ramai untuk menyusupkan ide-ide yang mengganggu, menantang, dan membebaskan.” (hlm 325)
Saya pikir pilihan untuk menjadikan tajuk ulasan atas diskografi Chuwamamba yang ditulis Ucok sudah merupakan keputusan tepat. Alasannya tentu karena tulisan tersebut cukup representatif dalam mengurai benang merah penghubung dari setiap esai. Terlepas buku ini memuat catatan yang sepenuhnya personal, Ucok secara konsisten memperlihatkan kontradiksi yang disebabkan oleh supremasi kapital.
Dari pembangunan yang menggusur ruang hidup warga, perumusan peraturan drakonian oleh pemerintah dan parlemen, militerisme, sampai komodifikasi budaya. Jalinan kontradiksi ini mengemuka di sebagian besar esai dalam buku, termasuk yang ditulis Ucok sebagai bentuk kekecewaan terhadap idolanya di masa lalu. Sedih rasanya kala membaca bagaimana idola yang telah menginspirasi Ucok tentang banyak hal malah berubah menjadi sosok yang membawanya satu langkah lebih dekat dengan demoralisasi.
Tapi justru itulah yang menjadi ciri khas dari gambaran Ucok sebagai penulis. Sebagai penulis, ia lebih sering terlihat muncul dari kubangan duka, ketimbang samudera sukacita. Di tengah zaman yang terus beranjak menuju gelap, yang dilakukan Ucok adalah selalu tentang menyadari sinarnya.
Ucok, ia seperti sedang mendemonstrasikan ajaran dari mendiang sang karib, Ginan yang ia catut sebagai foto sampul untuk obituari berjudul “Ginan dan Nyala Itu” yang pernah saya baca lewat blog pribadinya, Gutterspit. Ajaran itu berbunyi kalau terkadang cahaya yang paling terang justru muncul di tempat paling gelap. Sehingga apa yang ditulis Ucok lewat buku ini dapat dimaknai sebagai ajakan untuk melihat secercah cahaya kemungkinan di tengah gelap zaman.
Kemungkinan itu bukanlah semacam imperatif politik yang memuat serta analisis strategi teknis dan taktik politik yang memungkinkan jalan keluar menuju perubahan. Tetapi kemungkinan dalam bentuk tawaran bahwa di luar cangkang masyarakat lama yang ditopang oleh logika modal, masih terdapat alternatif yang mengemuka geliat otonomi warga bahkan eksperimen dalam bermusik. Bila dipantulkan pada aspek kesadaran pembaca, ia praktis mengimplikasikan proyeksi politik yang sepenuhnya radikal.
Buat saya, kekuatan utama dari buku “Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan : Kumpulan Esai Musik Esai, Politik, Kegaduhan dan Kerapuhan” (2025) terletak pada tawarannya dalam hal ini. Tawaran yang mengingatkan saya pada uraian dari antropolog David Graeber menyoal keharusan praksis dalam filsafat anarkisme untuk bergulat dengan kenyataan, sekaligus pertanyaan-pertanyaan mendesak menyoal proyek transformasi. Bukan dalam bentuk resep, tetapi kumpulan kemungkinan sebagai bahan bakar bagi kerja-kerja politik yang mendambakan visi tentang utopia.***
Informasi Buku :
Judul : Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan : Kumpulan Esai Musik, Politik, Kegaduhan, dan Kerapuhan
Penulis : Herry Sutresna
Penerbit : Consumed
Tahun Terbit : November, 2025




















