Ketika membaca novel Saraswati, Si Gadis dalam Sunyi karya A.A. Navis, kita akan mendapati kenyataan pada tokoh utamanya yang bernama Saraswati bahwa ia diceritakan mempunyai cacat bisu-tuli. Kenyataan itu menimbulkan pertanyaan di benak saya, bagaimana mungkin seorang yang bisu-tuli dapat bercerita? Meski Mieke Bal dalam bukunya yang berjudul Narratology: Introduction To The Theory of Narrative mengatakan, narator adalah sebuah fungsi dan bukan seorang individu, yang mengekspresikan dirinya melalui bahasa atau gambar yang membentuk teks, kenyataannya pertanyaan itu tetap mengganggu saya.

Kecacatan tokoh Saraswati sudah dinarasikan sejak awal-awal novel. Pembaca seperti dihadapkan pada suatu kenyataan yang tidak pernah terbayangkan dan dipaksa membayangkan sebuah dunia yang tanpa suara. Sesuai dengan judul novel yang menyertakan kata “sunyi”. Kesunyian itu hanya Saraswati yang tahu. Di sisi lain ia bisa berbahasa atau dengan kata lain ia sebagai narator yang berbahasa seolah manusia pada umumnya.  

Ini tidak lebih seperti benda-benda yang dapat berbicara—tentu perbandingan ini teramatlah mungkin untuk diperdebatkan. Tahu apa-apa yang dilihatnya, sehingga pertanyaan mengenai darimana ia memperoleh bahasa tentunya tidaklah relevan, dalam konteks benda-benda. Sebab sedari awal sudah dikonstruksi “tahu” atau “dapat mempersepsi” sesuatu. Persoalan yang muncul pada model yang seperti ini, biasanya lebih pada pemerolehan informasi atau jarak antara narator dengan peristiwa. Atau berhubungan dengan logika peristiwa.

Misalnya sebatang pohon yang tumbuh di halaman, sebagaimana yang diceritakan dalam novel Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran karya Mashdar Zainal bisa tahu bahwa tokoh Sumaiyah adalah tokoh yang lincah. Kelincahan ini tidak diberikan keterangan tambahan, misalnya seperti pembanding—pengamatan—dengan tokoh lain, sehingga kesan yang terbangun soal pengetahuan itu tidak datang begitu saja. 

- Poster Iklan -

Masalahnya, narator dalam novel karya A.A. Navis yang terbit pertama kali tahun 1970 tersebut tidak lain adalah manusia yang bisu-tuli. Ia dengan cacat tersebut bisa berbahasa, menjadi semacam kejanggalan. Membayangkan dunia yang sunyi di satu hal, di lain hal orang tersebut bisa berkata-kata. Seperti menghadapi dua kenyataan yang kontradiktif. Dalam realitas sehari-hari, bisa dipahami seorang cacat bisu-tuli mempunyai bahasanya sendiri. Masalahnya, dalam karya sastra kita dihadapkan pada teks, bahasa tulis. Asumsinya bahasa tulis itu tidak lain ucapan narator. Bagaimana mungkin tokoh narator yang bisu-tuli bisa bercerita?

Saya rasa A.A. Navis cukup jeli melihat persoalan ini, yang tidak lain persoalan logika cerita. Tahu bahwa konsekuensi atas dipilihnya tokoh yang bisu-tuli. Sebelum berlanjut, menarik jika sedikit dibahas pemilihan tokoh yang bisu-tuli ini. Penelitian yang ditulis Riki Fernando berjudul Tahun-Tahun Kesunyian Minangkabau (2024) setidaknya dapat menjawab mengapa tokoh bisu-tuli ini ditulis. Salah satu tafsiran dari penelitian tersebut, tokoh Saraswati mengalami keresahan akibat bisu-tuli. 

Masyarakat di sekitar tokoh Saraswati hidup, tidak dapat memahami kehendak-kehendaknya. Tokoh Saraswati direndahkan karena kondisinya. Tokoh Saraswati di dalam penelitian tersebut dipandang sebagai simbol dari masyarakat Minangkabau. Keresahan-keresahan A.A. Navis, mengenai masyarakat Minangkabau yang direndahkan pemerintah pusat karena posisi sebagai orang daerah. Perlu diketahui, penelitian tersebut memandang karya sastra sebagai manifestasi alam bawah sadar pengarang.

Kembali pada A.A. Navis yang jeli terhadap persoalan logika cerita. Hal itu baru saya sadari saat selesai membaca novel tersebut. Ada adegan-adegan tokoh Saraswati diajari oleh tokoh Busra dan Bisri bahasa manusia pada umumnya—dalam hal ini termasuk bahasa tulis. Sehingga meskipun hal tersebut sangat membutuhkan effort, nyatanya mampu menutupi lubang cerita yang sempat mengganggu saya. Dengan kehadiran adegan tersebut, cerita menjadi logis. 

Apalagi ditambah keterangan di bab ke-14, tokoh Saraswati mengatakan dirinya saat menulis kisahnya telah belajar menulis dan membaca. Di sini tersirat, rangkaian peristiwa dari bab 1 hingga 13 adalah masa lalu. Demikianlah, rangkaian cerita novel tersebut menjadi logis. 

 

Persoalan-Ketegangan Akibat Pemilihan Bisu-Tuli

 

Hal menarik lainnya dari novel Saraswati, Si Gadis dalam Sunyi karya A.A. Navis adalah persoalan-persoalan yang timbul cukup dominan bersumber dari tokoh Saraswati. Misalnya, tokoh Saraswati diganggu oleh anak kecil saat menggembalakan ternak yang ada di halaman 25. Tokoh Saraswati yang menggunakan sudut pandang orang pertama tersebut, berusaha beramah-tamah  untuk mengatasi gangguan dari anak kecil yang melemparinya dengan batu dan ranting. 

Anak kecil justru terpancing untuk semakin menggoda. Tokoh Saraswati sempat mempunyai pikiran untuk diam, tetapi juga tidak menyelesaikan masalah. Hendak mengadu pun tidak tahu bagaimana caranya. Jadi satu persoalan, membuat tokoh Saraswati memikirkan berbagai kemungkinan yang rasa-rasanya tidak menyelesaikan masalah. Apabila keadaan yang demikian dialami oleh orang pada umumnya, tidak serumit sebagaimana yang sudah dipaparkan. Apakah, pembaca bisa membayangkan akan hal ini? Bagaimana tertekannya tokoh Saraswati?

Pada halaman 39, tokoh Saraswati mengungkapkan betapa bingung dirinya karena ungkapan-ungkapannya begitu terbatas. Berikut kutipan narasi tentang hal tersebut:

 

“Cobalah pikirkan, Saudaraku, aku memang bisa mengatakan sesuatu dengan memakai tangan dan air mukaku, tapi jumlah ungkapan yang dapat aku sampaikan sangatlah terbatas. Mungkin juga orang takkan memahaminya seperti yang aku inginkan. Umpamanya saja, Saudaraku, untuk menceritakan tentang burung-burung yang aku lihat di pendam pekuburan itu, yaitu ada yang melayang-layang di udara, ada yang melompat dari ranting ke ranting, dan ada pula yang berbulu kuning, hitam, putih, dan sebagainya. Tidaklah mudah aku mengatakan dengan cara yang sederhana.”

 

Selain persoalan yang ditimbulkan dari diri sendiri, ada semacam ketegangan-ketegangan yang harus dirasakan tokoh Saraswati—saya pikir hal ini efek dari ketidakmampuan tokoh Saraswati berbicara. Salah satu ketegangan yang terjadi pada halaman 70-71—pada halaman tersebut dialog yang melibatkan dua orang untuk pertama dan terakhir muncul. Pipi, leher, dan bibir tokoh Saraswati diciumi oleh Bisri. Di dalam adegan tersebut terdapat narasi, tokoh Saraswati merasa tidak nyaman dan tidak pantas Bisri melakukan hal itu padanya. Akhirnya ia kabur dan mengunci pintu kamar dari dalam. Dan hanya itu yang bisa ia lakukan karena keterbatasan bahasa.

Tokoh Saraswati juga mencoba memahami keadaan yang terjadi saat di hadapan matanya tergambar jelas, orang-orang berpakaian hijau berlaku kejam. Membawa senjata-senjata. Adegan ini ada di halaman 90. Sebelum adegan—konflik PRRI—itu dihadirkan, tokoh Bisri diceritakan suatu ketika pulang dan mengenakan pakaian hijau. Dari keterangan yang tokoh Saraswati himpun, sempat tidak percaya, sebab menurut pengetahuannya, orang berpakaian hijau tidaklah jahat. Pertanyaan tentang, mengapa harus ada perang juga tidak benar-benar terjawab. Lagi di sinilah menariknya novel tersebut, konstruksinya menjadi serba terbatas.

Novel Saraswati, Si Gadis dalam Sunyi karya A.A. Navis didominasi oleh narasi. Satu-satunya dialog yang muncul ada di halaman 70-71. Memang, di halaman 127 dan 129 terdapat kutipan, tetapi kutipan tersebut menandakan ucapan tokoh Saraswati semata di dalam hati serta narasi dalam surat. Dengan panjang halaman 129, saya rasa A.A. Navis mempunyai stamina menulis yang luar biasa; menyajikan sebuah novel yang nyaris tanpa dialog.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here