Ruang batin

 

Akhir pekan kemarin, setelah pulang dari giat di Solo, saya “dijodohkan” dengan sebuah buku lama berjudul Ruang Batin Masyarakat Indonesia karya Niels Mulder, dalam judul aslinya Inside Indonesian Society: An Interpretation of Cultural Change in Java. Koleksi lama yang saya dapatkan sekitar tahun 2010, seolah meminta dibaca ulang. Saya pun mojok, sesaat setelah menyeduh Robusta Pasrujambe Lumajang, kiriman karib saya di pesantren.

Di sela-sela beberapa halaman, tiba-tiba saya teringat suasana pesantren. Kebetulan, sehari sebelumnya, saya sempatkan ziarah ke maqbaroh KH. Umar Abdul Mannan Al-Muayyad di Mangkuyudan. Suasana tengah malam saya mendapati beberapa santri kecil sedang ngaji dan hafalan di pinggir makam. Ada yang tertidur di musholla. Ada pula yang asyik berbincang santai di pinggir musholla dengan wajah letih namun tetap tenang.

Dalam suasana yang demikian, saya melihat apa yang disebut Mulder sebagai inner world sebenarnya hidup begitu kuat di lingkungan pesantren. Bukan sebatas ajaran moral melainkan sebagai cara memandang hidup. Inner world merujuk pada pengertian ruang batin yang terus-menerus mencari keselarasan dengan alam semesta, sesama, dan Yang Maha Ada.

- Poster Iklan -

Dalam hemat saya, Mulder memaknai ruang batin manusia Indonesia, khususnya Jawa, dibentuk oleh lapisan-lapiran kebudayaan yang bertali-temali dan terkadang juga saling menimpa. Antara kearifan lokal, agama, dan warisan kolonial. Sementara di pesantren, konstruksi ruang batin lebih terstruktur dan penuh kesadaran. Doktrin “nash”, tradisi, kebersambungan ilmu dan nilai (baca: sanad), serta laku spiritual dijalani bukan sebagai kewajiban formal an sich, melainkan menjadi napas keseharian.

Karena itu, kiranya tak berlebihan apabila saya menyebut pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan sebuah “ekosistem kesadaran”. Tempat di mana ruang batin bukan hanya dipelihara, tetapi juga secara aktif dibentuk perlahan namun pasti.

Mistisisme dan Kosmologi Santri

Di dalam ekosistem kesadaran tersebut, ada dialektika yang terus bergerak. Antara makrokosmos dan mikrokosmos. Makrokosmos mencakup dunia luar dengan segala hiruk-pikuknya serta gerusan modernitas dan kapitalisme. Adapun mikrokosmos berupa jiwa orang-orang pesantren yang ditempa untuk diam dan tenang dalam keramaian.

Pertanyaan yang menurut saya menarik adalah bukan sekadar apa yang diyakini oleh orang-orang pesantren. Namun, bagaimana ruang batin orang-orang pesantren memandang materi dan ego sebagai ujian, bukan tujuan.

Di sinilah tasawuf bekerja secara halus melalui konsep zuhud dan tawakal. Keduanya tak boleh difahami sebagai sikap pasif atau menyerah pada nasib: tak peduli dunia. Dalam tradisi pesantren, zuhud bukanlah kemiskinan yang dirayakan, melainkan kejernihan pandangan. Dunia ini nyata, namun dunia bukan segalanya. Orang-orang pesantren yang sedang mengamalkan sikap ini tetap bisa terus berdagang, sekolah, atau bahkan masuk dama dunia berpolitik. Namun, yang terpenting, batinnya tidak tersandera oleh itu semua: dunia. Menurut saya sikap ini bukan pelarian, melainkan wajah dari resiliensi mental yang cukup dalam.

Mulder juga berbicara tentang tentrem. Ketenteraman batin sebagai cita-cita hidup dan orientasi utama spiritualitas manusia-manusia Jawa. Saya menemukan hal yang sama di pesantren yaitu thuma’ninah. Sebuah ketenangan jiwa dan kestabilan batin yang bukan hasil dari nihilnya masalah namun berasal dari dalamnya penerimaan.

Sikap thuma’ninah ini seringkali beriringan dengan ridha. Yaitu, sikap batin yang melampaui sabar dan mengandung kerelaan aktif terhadap takdir Tuhan. Jika tentrem yang disebut Mulder lahir dari harmoni sosial-kosmologis, maka thuma’ninah dan ridha bagi orang-orang pesantren lahir dari harmoni vertikal. Kedekatan dengan Tuhan yang dirawat lewat dzikir, fikir, dan amal sholeh.

Kuasa Spiritual: Kiai, Santri, dan Berkah

Bagi Niels Mulder, sejauh yang saya ketahui, orang Indonesia ikut aturan hierarki bukan karena menyerah atau kalah, tapi itu cara mereka menjaga kedamaian bersama. Saya menemukan logika serupa bekerja di pesantren. Ditambah dengan lapisan spiritualitas yang lebih tebal. Hierarki orang-orang pesantren semisal, antara kiai dan santri tidak hanya soal otoritas pedagogis. Ada hal lain berupa struktur spiritual yang, ketika dijalani dengan penuh kesadaran, justru melahirkan ketenangan bukan ketertundukan.

Kata yang sering muncul di kalangan orang-orang pesantren adalah sami’na wa atha’na. Mendengar secara seksama dan patuh. Inilah pilar penting dari ruang batin kalangan pesantren.

Kepatuhan santri kepada kiai bukanlah penundukan buta. Bahkan, menurut saya, lebih menyerupai latihan (riyadhah) untuk menaklukkan kesombongan intelektual. Sebab, bagi ulama sufi, kesombongan intelektual bagian dari musub terbesar dalam peziarahan spiritual seseorang. Santri patuh bukan karena takut. Tetapi, jauh lebih mendalam dari pada itu, karena percaya bahwa ego yang belum terdidik adalah penghalang utama menuju kejernihan batin.

Oleh sebab itu, dalam tradisi pesantren ada yang perburuan barokah (berkah) yang mengalir dari guru (kiai, ustadz, dan seterusnya) kepada para muridnya. Tak terkecuali keberkahan dari makam waliyullah kepada para peziarahnya.

Bagi orang-orang pesantren, konsep barokah bukan bagian dari takhayul. Barokah merupakan keyakinan bahwa kedekatan dengan orang-orang saleh, baik yang masih hidup maupun sudah meninggal, membawa pengaruh spiritual yang nyata. Inilah yang membuat relasa kiai-santri begitu kuat. Bukan relasi transaksional, tetapi relasi jiwa yang dirawat dari generasi yang satu ke generasi berikutnya.

Ketegangan Ruang Batin

Namun saya tak ingin berhenti pada narasi yang terlalu indah. Ada retakan yang perlu jujur kita akui. Arus globalisme dan pesatnya perkembangan tekonologi-informasi menjadikan pesantren berdiri di persimpangan yang tidak mudah. Digitalisasi membawa orang-orang pesantren berhadapan langsung dengan dunia yang dulu disaring oleh tembok pesantren serta kuatnya marwah, haibah, dan waqar dari kiai itu sendiri.

Logika pendidikan pesantren lambat laun juga “disusupi” pragmatisme ekonomi. Tidak selalu dalam bentuk yang tampak atau kasar, tetapi halus dan menggoda. Pesantren sebagai brand, kiai sebagai influencer, dan spiritualitas sebagai komoditas yang dikemas dan dijual.

Tak cukup di situ. Masih ada yang lebih mengkhawatirkan lagi. Saya menyebut gejala ini sebagai komodifikasi ketenangan. Ketika riyadhah dijual dalam bentuk paket retret spiritual berbayar, ketika dzikir dikemas jadi konten media sosial dengan jutaan penonton, saya melihat ada sesuatu yang bergeser. Bukan hilang sepenuhnya. Ruang batin yang dulu dibangun dengan sepi, sunyi, hening, dan ketidaknyamanan, kini semakin sering ditawarkan dengan kemudahan dan estetika.

Tradisi pasrah dan sami’na wa atha’na dalam dunia pesantren adalah warisan yang luhur. Namun, kita harus jujur melihat sisi lainnya. Sikap tunduk yang berlebihan tanpa batas sangat rentan dimanipulasi, baik secara sosial, ekonomi, psikologis, maupun politik.

Sejarah mencatat, kita sering melihat bagaimana otoritas kiai digunakan untuk menggiring arah politik santri. Di satu sisi, fenomena ini bisa dimaklumi dalam konteks politik elektoral, karena sebagian santri memang merasa lebih aman menyandarkan pilihan politiknya kepada kiai.

Namun, batas tegas harus ditarik ketika menghadapi kasus krusial seperti kekerasan seksual di lingkungan pesantren. Dalam urusan kemanusiaan dan hukum seperti ini, nalar kritis wajib digunakan sepenuhnya. Mengkritisi oknum yang melakukan kejahatan bukanlah ancaman bagi tradisi pesantren, melainkan sebuah pelindung. Justru dengan kesadaran kritis inilah kita menjaga kesucian pesantren dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Kedewasaan Spiritual

Akhirnya, saya kembali Mulder dan pertanyaan yang ia wariskan: apa yang masih tersisa dari ruang batin manusia Indonesia di tengah perubahan zaman? Bagi saya, juga bagi banyak orang pesantren, jawabannya sebenarnya sudah ada dalam tradisi yang dijalani sehari-hari, meski untuk sampai ke sana perlu perjuangan batin yang tidak ringan.

Mandiri, tenang, dan tidak rakus pada urusan dunia bukan berarti menjauh dari kehidupan. Justru di situlah letak kedewasaan spiritual. Orang-orang pesantren tetap hadir di tengah riuh zaman, ikut berperan, tetapi tidak mudah hanyut oleh arusnya.

Inilah yang sesungguhnya ditawarkan pesantren kepada Indonesia yang sedang mengalami disorientasi spiritual akut. Antara agama sebagai identitas politik dan agama sebagai perjalanan jiwa yang sunyi. Orang-orang pesantren, dengan segala keterbatasan dan kontradiksinya, masih menyimpan arsitektur batin yang pernah membuat manusia Indonesia tahu cara diam dalam keramaian. Bukan karena mereka tak punya masalah, tetapi karena mereka punya kedalaman untuk menanggungnya. Dan itu, bagi saya, adalah warisan yang layak dirawat dengan mata terbuka. Wallahu a’lam.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here