kalajengking bandaran

Ada buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang justru mulai hidup setelah pembaca meletakkannya di atas meja. Kalajengking Bandaran karya Ardi Wina Saputra termasuk kategori kedua. Kumpulan cerpen ini tidak berhenti sebagai teks, melainkan menjelma ruang dialog yang terus-menerus mengundang pembacanya untuk bertanya, menafsir, bahkan memperdebatkan kembali sejarah yang selama ini diterima sebagai sesuatu yang mapan.

Ketika naskah kumpulan cerpen ini saya terima, kesan pertama yang muncul bukanlah bahwa saya sedang membaca kumpulan cerita pendek sebagaimana lazimnya. Saya justru merasa sedang memasuki sebuah museum naratif. Setiap cerpen seperti membuka satu ruang pamer yang berbeda. Ada ruang tentang perang, kolonialisme, cinta yang kandas, pengkhianatan, keluarga, hingga kritik sosial yang ternyata masih terasa aktual pada hari ini.

Pengarang tidak membangun cerita dari imajinasi yang lepas dari kenyataan. Hampir seluruh cerpen bertumpu pada fondasi riset yang kuat. Jejak observasi lapangan, wawancara, serta eksplorasi berbagai sumber sejarah tampak hadir hampir di setiap cerita. Hal ini membuat saya berani menyebut buku ini sebagai sastra perang (war literature), tetapi bukan sastra perang yang mengagungkan heroisme semata. Yang tampil justru suara-suara kecil yang selama ini nyaris tenggelam dalam narasi besar sejarah.

Dalam historiografi modern, kecenderungan semacam ini sering disebut sebagai history from below, yaitu sejarah yang dilihat dari perspektif orang-orang biasa. Karya Ardi bergerak pada wilayah itu. Tokoh-tokohnya bukan para jenderal atau penguasa, melainkan rakyat kecil, budak, anak-anak, perempuan, pastor, suster, pedagang, dan mereka yang hidup di pinggir arus besar sejarah. Dengan demikian, sejarah tidak lagi menjadi deretan tanggal dan nama besar, tetapi menjadi pengalaman manusia.

- Poster Iklan -

Cerpen yang pertama kali saya baca adalah “Elegi Sebatang Pohon”. Saya sengaja memilih cerita tersebut bukan karena letaknya, melainkan karena judulnya segera memancing rasa ingin tahu. Kata elegi sendiri sudah membawa pembaca memasuki suasana tertentu: kesedihan, kehilangan, dan perenungan. Namun, setelah membaca keseluruhan cerita, saya menemukan bahwa makna elegi di sini jauh lebih kompleks daripada sekadar ratapan.

Secara teologis, saya segera teringat pada simbol pohon ara dalam Injil Matius (24:32–35), Markus (13:28–31), dan Lukas (21:29–33). Pohon dalam tradisi Kitab Suci bukan sekadar vegetasi. Ia adalah simbol kehidupan, harapan, bahkan tanda zaman. Ketika pengarang menghadirkan pohon yang tumbuh dari serpihan peti mati, saya melihat sebuah simbol yang luar biasa kuat. Pohon itu lahir dari kematian, tetapi akhirnya kembali ditebang. Ada siklus kehidupan yang sekaligus mengandung dimensi eskatologis.

Secara filologis saya bahkan tergoda bermain-main dengan etimologi. Kata elegi memang lazim dipahami sebagai puisi ratapan. Akan tetapi, secara nakal—ana akal—saya menghubungkannya dengan kata kerja Latin eligere–elegi–electum. Walaupun secara etimologis keduanya tidak identik, asosiasi tersebut menghadirkan lapisan makna baru. Pohon yang akhirnya dicabut dan ditebang seakan menegaskan bahwa segala sesuatu yang hidup akan berakhir pada kehilangan.

Dalam konteks itu, cerita ini tidak lagi berbicara mengenai pohon, melainkan mengenai manusia yang menunggu sesuatu yang tidak pernah kembali. Di sinilah saya teringat pada drama Waiting for Godot karya Samuel Beckett. Tokoh dalam cerpen Ardi menunggu sebagaimana Vladimir dan Estragon menunggu Godot. Bedanya, penantian dalam cerpen ini berakar pada sejarah kolonial dan cinta yang tidak pernah menemukan ruang untuk bersatu.

Pengarang menggunakan teknik flashback secara efektif sehingga masa kini dan masa lalu saling menerangi. Pembaca tidak hanya mengetahui apa yang terjadi, tetapi juga memahami mengapa tokoh akhirnya hidup dalam penantian yang nyaris tanpa ujung.

Cerpen terakhir dalam buku ini, “Tanda Tanya Menuju Hindia”, justru menghadirkan pengalaman membaca yang sangat berbeda. Jika “Elegi Sebatang Pohon” bergerak melalui kilas balik, maka cerita penutup ini menggunakan alur progresif (progressive plot atau chronological plot). Setiap peristiwa berlangsung secara linear dari awal menuju akhir tanpa lompatan waktu yang berarti. Pengarang membagi cerita menjadi enam episode. Teknik episodik ini membuat setiap bagian seolah berdiri sendiri, tetapi tetap terikat oleh satu benang merah yang sama, pertanyaan.

Judulnya sudah menyebut “tanda tanya”. Di awal cerita muncul “segudang tanya”. Di tengah cerita tokoh mempertanyakan Hindia. Menjelang akhir muncul pertanyaan lain: “Apakah kau dari Hindia?” Hingga akhirnya cerita ditutup oleh pertanyaan yang sesungguhnya belum pernah selesai dijawab:

“Inikah Hindia yang disebut dengan surga itu?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan sekadar dialog antartokoh. Ia adalah perangkat struktural yang menjaga koherensi narasi. Dalam teori sastra, keadaan demikian dapat dipahami sebagai een onvoltooide vraag—sebuah pertanyaan yang sengaja dibiarkan terbuka karena jawaban sesungguhnya berada pada pembaca. Boleh jadi, pengarang memang tidak bermaksud memberikan jawaban. Ia justru menghendaki agar pembaca ikut mempertanyakan kembali sejarah kolonial yang selama ini diwariskan melalui buku pelajaran.

Benarkah Hindia adalah surga?

Surga bagi siapa?

Bagi bangsa Eropa?

Ataukah bagi mereka yang hidup sebagai bangsa terjajah?

Saya melihat keberanian pengarang terletak pada kemampuannya mengubah sejarah menjadi pertanyaan moral. Sejarah tidak lagi diposisikan sebagai pengetahuan yang selesai, melainkan sebagai percakapan yang terus berlangsung lintas generasi.

Arsip Kemanusiaan

Setelah menyelesaikan seluruh cerpen dalam Kalajengking Bandaran, saya sampai pada satu kesimpulan yang sejak awal terus menguat: buku ini sesungguhnya bukan hanya kumpulan cerita pendek tentang masa kolonial. Ia adalah upaya mengarsipkan pengalaman manusia yang selama ini tercecer dari narasi besar sejarah. Pengarang tidak sedang menulis sejarah dalam pengertian historiografi yang bertumpu pada tanggal, tokoh besar, dan peristiwa politik. Ia justru menghadirkan sejarah dalam bentuk yang paling manusiawi, yaitu pengalaman, luka, kehilangan, harapan, dan pertanyaan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Kesan tersebut mencapai puncaknya ketika saya membaca cerpen “Budak.” Di permukaan, cerita ini berbicara mengenai praktik perbudakan pada masa kolonial. Namun semakin jauh saya membaca, semakin terasa bahwa pengarang sesungguhnya sedang berbicara mengenai Indonesia hari ini. Kolonialisme memang telah berakhir secara politik, tetapi relasi kuasa yang menindas belum sepenuhnya hilang. Bentuknya saja yang berubah.

Kalimat, “Peraturan berlaku hanya untuk budak, sedangkan untuk pemilik hanya tertulis saja,” merupakan salah satu kalimat paling menggugah dalam keseluruhan buku. Kalimat tersebut tidak berhenti sebagai dialog tokoh. Ia berubah menjadi kritik terhadap kenyataan sosial yang masih akrab kita saksikan. Hukum sering kali tampak tegas terhadap mereka yang lemah, tetapi menjadi lunak ketika berhadapan dengan mereka yang memiliki kuasa. Dalam konteks itu, kata pemilik tidak lagi saya baca sebagai individu tertentu. Ia telah berubah menjadi metafora bagi seluruh struktur kekuasaan yang menempatkan manusia secara tidak setara.

Pengarang kemudian memperluas kritik tersebut melalui persoalan pendidikan, pekerjaan, dan hubungan dengan kekuasaan. Dialog mengenai seseorang yang sulit memperoleh pekerjaan karena tidak memiliki hubungan dengan pejabat atau bukan berasal dari keluarga tertentu memperlihatkan bahwa kolonialisme dapat terus hidup dalam wajah yang baru. Yang dahulu dibedakan berdasarkan ras, kini dapat bergeser menjadi pembedaan berdasarkan modal sosial, kekuasaan, dan akses. Di sinilah saya melihat kekuatan cerpen sebagai medium kritik sosial. Cerpen tidak membutuhkan pidato panjang. Ia cukup menghadirkan satu percakapan yang jujur. Melalui percakapan itu, pembaca diajak menyadari bahwa ketidakadilan tidak selalu datang dari masa lalu. Ia dapat tumbuh di tengah kehidupan kita sendiri.

Saya teringat pada pernyataan bahwa sejarah pada akhirnya selalu hadir dalam bentuk narasi. Fakta memang penting, tetapi fakta baru memperoleh makna ketika disusun menjadi cerita. Dalam pengertian itulah, saya melihat Ardi Wina Saputra tidak sedang menyaingi para sejarawan. Ia justru melengkapi mereka. Jika historiografi menjelaskan apa yang terjadi, maka sastra berusaha menjelaskan bagaimana rasanya mengalami peristiwa itu sebagai manusia.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran mengenai hubungan antara memori dan narasi. Menurut Ricoeur, pengalaman manusia tidak pernah hadir secara utuh sebagai ingatan. Ia selalu dibentuk kembali melalui penceritaan. Membaca Kalajengking Bandaran, saya merasakan bahwa setiap cerpen merupakan upaya untuk menyusun kembali ingatan kolektif bangsa. Sejarah yang selama ini tersebar dalam arsip, dokumen, atau cerita lisan diolah menjadi narasi yang memungkinkan pembaca mengalami kembali denyut emosional masa lalu.

Barangkali inilah yang membedakan buku ini dari banyak karya bertema sejarah. Pengarang tidak berusaha membesarkan tokoh-tokoh yang telah terkenal dalam buku pelajaran. Ia justru memberi ruang kepada mereka yang selama ini berada di pinggir sejarah: para budak, perempuan, anak-anak, rakyat biasa, biarawan, suster, pedagang kecil, hingga keluarga-keluarga yang kehidupannya dipatahkan oleh perang dan kolonialisme. Mereka mungkin tidak pernah tercatat sebagai pahlawan, tetapi justru melalui merekalah pembaca memahami harga kemerdekaan.

Pilihan semacam itu mengingatkan saya pada pendekatan history from below, yakni cara memandang sejarah dari perspektif orang-orang biasa. Dalam sastra, pendekatan ini memiliki kekuatan yang sangat besar karena memungkinkan pembaca membangun empati, bukan sekadar pengetahuan. Kita tidak hanya mengetahui bahwa kolonialisme pernah terjadi, tetapi juga merasakan bagaimana kolonialisme mengubah hidup seseorang.

Di sisi lain, saya juga melihat bahwa pengarang tidak terjebak pada romantisme sejarah. Masa lalu tidak digambarkan sebagai ruang nostalgia yang indah. Sebaliknya, sejarah terus dipertemukan dengan persoalan-persoalan masa kini: korupsi, ketidakadilan hukum, perdagangan manusia, kekerasan, kemiskinan, dan hilangnya nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, sejarah memperoleh relevansinya. Masa lalu tidak selesai pada masa lalu. Ia terus berbicara kepada masa kini. Leberanian pengarang memasuki wilayah yang tidak mudah. Menulis sastra sejarah selalu mengandung risiko. Terlalu dekat dengan fakta dapat membuat cerita terasa seperti buku sejarah. Terlalu jauh dari fakta dapat menghilangkan kredibilitas historisnya. Ardi Wina Saputra berhasil menjaga keseimbangan itu. Fakta sejarah menjadi pijakan, sedangkan imajinasi sastra menjadi sayap yang membawanya terbang lebih jauh.

Selama membaca buku ini, saya beberapa kali teringat pada ungkapan bahwa sastra adalah suara hati sebuah peradaban. Jika ungkapan itu benar, maka Kalajengking Bandaran sedang berusaha menghidupkan kembali suara-suara yang pernah dibungkam oleh sejarah. Ia memberi kesempatan kepada mereka yang tidak pernah menulis arsip untuk tetap hadir dalam ingatan bangsa.

Pada akhirnya, saya memandang Kalajengking Bandaran bukan sekadar kumpulan cerpen. Buku ini adalah arsip kemanusiaan. Setiap cerita menyimpan kesaksian bahwa perang selalu meninggalkan kehilangan, kolonialisme selalu menyisakan luka, dan kemerdekaan tidak pernah selesai diperjuangkan. Melalui bahasa yang puitis, riset yang mendalam, serta keberanian mengangkat suara-suara yang terpinggirkan, Ardi Wina Saputra menghadirkan sebuah karya yang layak menempati posisi penting dalam perkembangan sastra sejarah Indonesia kontemporer.

Saya menutup halaman terakhir buku ini bukan dengan perasaan telah memperoleh semua jawaban, melainkan dengan semakin banyak pertanyaan. Dan bagi saya, di situlah letak kemenangan sebuah karya sastra. Cerita yang baik bukanlah cerita yang mengakhiri percakapan, melainkan cerita yang terus hidup di dalam pikiran pembacanya, lama setelah buku itu ditutup.

- Cetak Buku dan PDF-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here