Sound Horeg

Suatu pagi di bulan Rabiul Awal, dermaga kecil di Dusun Kepetingan, Desa Bluru Kidul, Sidoarjo, riuh oleh dua suara yang sebenarnya tak pernah dirancang untuk berdampingan. Di satu sisi, lantunan doa mengalun pelan dari para sesepuh yang berziarah ke makam Dewi Sekardadu. Di sisi lain, dentum ”sound horeg” menggetarkan udara, mengiringi arak-arakan perahu hias yang dipenuhi wisatawan berswafoto. Di sela keduanya, aroma tteokbokki dan tanghulu dari bazar kuliner kekinian menyeruak, bersanding dengan asap dupa.

Begitulah wajah Nyadran di Bluru Kidul hari ini, sebuah ritual leluhur yang, tanpa benar-benar disadari pelakunya, sedang berjalan pelan-pelan menuju panggung wisata.

Dari Nyekar Sunyi ke Festival Ramai

Nyadran bukan barang baru. Jejaknya bisa dirunut jauh ke masa Majapahit lewat istilah Sradha, ritual penghormatan bagi arwah raja yang kemudian, seiring masuknya Islam dan dakwah akulturatif Sunan Kalijaga, berubah wujud menjadi tradisi kenduri yang lebih inklusif. Di banyak daerah agraris Jawa, Nyadran identik dengan bulan Ruwah, menyambut Ramadan dengan rasa syukur atas hasil panen.

Bluru Kidul punya jalan cerita sendiri. Sebagai kampung nelayan, warganya menggelar Nyadran bukan di bulan Ruwah, melainkan di bulan Rabiul Awal, berbarengan dengan peringatan Maulid Nabi. Tujuannya pun sangat pragmatis, memohon keselamatan melaut dan berkah tangkapan kerang yang melimpah. Semua berpusat pada satu titik sakral, makam Dewi Sekardadu, sosok yang dipercaya sebagai putri Kerajaan Blambangan sekaligus ibu dari Sunan Giri.

- Poster Iklan -

Selama puluhan tahun, ritual ini sesederhana nyekar dan doa bersama. Titik baliknya datang di awal tahun 2000-an. Penyelenggara mulai menambahkan arak-arakan tumpeng, pengajian umum, hingga kesenian jaran kepang dan wayang kulit sebagai “bumbu” tambahan. Salah satu tokoh masyarakat setempat, Waras, mengenang perubahan itu dengan sederhana: dulu Nyadran cuma nyekar ke makam, hiburan baru masuk sekitar tahun 2000-an.

Sejak itu, bola salju terus menggelinding. Sound horeg datang, bazar UMKM menjamur, jajanan kekinian dari mancanegara ikut nongkrong di tenda-tenda pinggir dermaga. Nyadran yang tadinya ritual internal warga, kini menjelma jadi tontonan yang mengundang orang luar.

Ketika Warisan Jadi Komoditas

Fenomena ini sebenarnya bukan hal aneh dalam kacamata ilmu sosial. Dua filsuf Mazhab Frankfurt, Theodor Adorno dan Max Horkheimer, pernah mengingatkan bahwa dalam masyarakat kapitalis lanjut, benda-benda budaya, termasuk ritual rentan berubah dari sesuatu yang otentik menjadi produk massal yang diproduksi ulang demi menarik konsumen. Mereka menyebutnya industri budaya: proses di mana nilai sebuah tradisi tak lagi ditentukan oleh maknanya sendiri, melainkan oleh daya jualnya.

Pola itu tampak jelas di Bluru Kidul. Elemen-elemen yang tadinya kompleks dan sarat makna lokal disederhanakan agar mudah dicerna penonton: perahu hias yang instagramable, pertunjukan yang mudah ditonton tanpa perlu memahami konteksnya. Nyadran pelan-pelan berubah menjadi versi “siap saji” dari dirinya sendiri, mirip festival budaya di banyak daerah lain, seragam formatnya meski beda nama.

Namun perlu digarisbawahi, Nyadran Bluru Kidul belum sepenuhnya “dikuasai” pasar. Para nelayan tetap menjadi tuan rumah dan pelaksana utama ritual. Wisatawan dan pihak luar masih berposisi sebagai tamu, bukan pengendali. Justru di titik inilah letak keunikan kasus ini: penelitian tentang Nyadran Bluru Kidul menangkap komodifikasi budaya yang sedang berlangsung, bukan yang sudah selesai dan mapan seperti kebanyakan kasus serupa di tempat lain. Sebuah momen langka untuk menyaksikan langsung bagaimana sakral dan pasar sedang saling menawar posisi.

Retak yang Tak Terucap Antargenerasi

Pergeseran ini meninggalkan bekas yang lebih personal ketimbang sekadar statistik pengunjung atau omzet bazar. Ia menimbulkan jarak, kadang tanpa disadari, antara generasi tua yang membesarkan Nyadran dengan doa dan keheningan, dan generasi muda yang tumbuh di tengah logika panggung dan sorotan kamera.

Anam, salah satu tokoh masyarakat yang orang tuanya dulu menjadi penggerak ritual ini, mengaku dirinya dan seorang rekannya memilih mundur dari kepanitiaan sejak beberapa tahun lalu. Alasannya sederhana: merasa kurang berkenan dengan situasi yang berkembang, dan sudah waktunya menyerahkan tongkat estafet. Kalimat itu terdengar biasa, tapi menyimpan sesuatu yang lebih dalam, semacam kekecewaan senyap dari mereka yang menyaksikan makna ritual yang perlahan bergeser.

Ini bukan konflik terbuka dengan teriakan dan protes. Justru lebih pelan dari itu, penarikan diri diam-diam, rasa asing di tengah tradisi yang dulu mereka jaga. Sementara generasi muda, di sisi lain, tumbuh dengan cara pandang berbeda. Nyadran bagi mereka adalah ruang bertemunya nilai leluhur dengan peluang ekonomi dan panggung sosial media, bukan sesuatu yang perlu dipertentangkan.

Uang, Panggung, dan Aktor-Aktor Baru

Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu punya kerangka menarik untuk membaca dinamika semacam ini: bagaimana modal simbolik, dalam hal ini kesakralan mitos Dewi Sekardadu perlahan dikonversi menjadi modal ekonomi lewat sewa perahu dan lapak bazar. Gotong royong yang dulu murni soal kebersamaan kini juga menjadi ajang tarik-menarik kepentingan.

Yang menarik, komodifikasi ini justru membuka panggung bagi aktor-aktor yang dulu tak punya tempat di ritual: pemerintah daerah, tokoh politik, hingga media. Mereka datang membawa agenda masing-masing, dari branding pariwisata daerah hingga panggung kampanye, dan turut menentukan wajah baru Nyadran. Bendera partai yang berkibar di tengah arak-arakan ziarah adalah gambaran paling gamblang dari pergeseran arena ini, dari ruang spiritual murni menjadi ruang tarik-menarik kepentingan.

Identitas yang Terus Dinegosiasikan

Lantas, apakah ini berarti Nyadran Bluru Kidul kehilangan jiwanya? Tidak sesederhana itu. Sosiolog Peter Berger dan Thomas Luckmann punya cara pandang yang lebih adil untuk melihat fenomena ini. Identitas budaya bukanlah benda mati yang tinggal dilestarikan apa adanya atau dibiarkan punah begitu saja. Identitas adalah proses, sesuatu yang terus-menerus dibentuk ulang lewat interaksi sosial.

Dalam kerangka ini, warga Bluru Kidul bukan korban pasif dari arus komersialisasi. Mereka adalah pihak yang aktif merundingkan, kadang dengan gesekan dan kompromi, antara menjaga kesakralan leluhur dan merangkul peluang yang dibawa dunia pariwisata. Setiap kali sesepuh tetap memimpin ritual di tengah gemuruh sound horeg, setiap kali doa di makam Dewi Sekardadu tetap dipanjatkan sebelum panggung hiburan dimulai, di situlah negosiasi itu terjadi-pelan, tak selalu mulus, tapi terus berjalan.

Nyadran Bluru Kidul, dengan segala ketegangannya, justru menjadi cermin yang jujur tentang bagaimana sebuah komunitas pesisir mendefinisikan ulang siapa dirinya di tengah dunia yang berubah cepat. Ia bukan sekadar ritual yang “diselamatkan” atau “dijual”, melainkan ruang hidup tempat sakral dan pasar belajar untuk berbagi tempat, meski keduanya tak pernah benar-benar akur.

—-

*Ditulis berdasarkan riset lapangan terkait fenomena komodifikasi dan konstruksi identitas dalam ritual Nyadran di Desa Bluru Kidul, Sidoarjo.

- Cetak Buku dan PDF-
Previous articleMeta Advantage+ versus Kontrol Manual: Haruskah Kita Pasrah pada AI?
Next articleHening
Muhammad Asnan
Muhammad Asnan, S.Sos., M.I.Kom., mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya, Universitas Gajayana Malang. Kepakarannya berpijak pada komunikasi politik, media, dan budaya. Tiga ranah yang ia telusuri lewat riset tentang identitas, komodifikasi budaya, dan konstruksi realitas sosial. Di sela mengajar, ia menulis dan meneliti dengan ketekunan seorang pengamat, menautkan kedalaman akademik dengan kepekaan terhadap denyut kebudayaan lokal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here