Apa yang sebenarnya sedang dilakukan sekolah ketika ia memisahkan anak dari kehidupan sosial? Pertanyaan ini menjadi titik balik dalam membaca pemikiran John Dewey dalam Sekolah dan Masyarakat. Bagi Dewey, sekolah tidak seharusnya menjadi ruang yang terisolasi dari kehidupan sosial. Pendidikan justru memperoleh maknanya ketika proses belajar memiliki hubungan dengan pengalaman, lingkungan, pekerjaan, dan kehidupan masyarakat.
Gagasan tersebut menjadi kritik terhadap paradigma pendidikan yang menempatkan sekolah sebagai tempat transfer pengetahuan secara satu arah. Dalam model semacam itu, peserta didik sering diposisikan sebagai penerima informasi, sementara guru menjadi pusat otoritas pengetahuan. Akibatnya, proses pendidikan berisiko menghasilkan peserta didik yang mampu mengingat banyak hal, tetapi tidak selalu mampu memahami hubungan antara pengetahuan dan persoalan kehidupan.
Melalui Sekolah dan Masyarakat, Dewey menawarkan cara pandang yang berbeda. Sekolah tidak dipahami sekadar sebagai institusi akademik, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sosial. Pendidikan harus memungkinkan peserta didik berinteraksi dengan lingkungannya, terjun pada persoalan konkret, bekerja sama, dan membangun pengetahuan melalui pengalaman. Deskripsi penerbit terhadap edisi Indonesia ini juga menekankan kritik Dewey terhadap pendidikan yang kaku, pasif, dan terpisah dari kehidupan nyata.
Yang membuat buku ini tetap relevan adalah kenyataan bahwa persoalan yang dikritik Dewey belum sepenuhnya hilang. Lebih dari satu abad setelah gagasannya dirumuskan, pendidikan masih menghadapi persoalan berupa pembelajaran yang terlalu berorientasi pada hafalan, dominasi guru, pemisahan teori dan praktik, serta keterputusan antara apa yang dipelajari di sekolah dan persoalan yang dihadapi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Sekolah dan Masyarakat bukan sekadar buku sejarah filsafat pendidikan. Ia merupakan kritik terhadap cara kita mendefinisikan sekolah, belajar, pengetahuan, dan bahkan tujuan pendidikan itu sendiri.
Gagasan sentral Dewey dalam Sekolah dan Masyarakat bertolak dari kritik terhadap sekolah yang terpisah dari kehidupan sosial. Pendidikan, menurutnya, bukan sekadar proses memasukkan pengetahuan ke dalam pikiran peserta didik, melainkan proses pertumbuhan melalui interaksi dengan lingkungan. Karena itu, pembelajaran tidak cukup bertumpu pada buku teks, ceramah, dan hafalan, tetapi perlu menghadirkan pengalaman yang memungkinkan peserta didik mengamati, mencoba, bekerja, memecahkan persoalan, dan merefleksikan apa yang dialaminya. Namun, pengalaman bagi Dewey bukan sekadar aktivitas; ia bernilai pendidikan apabila menghasilkan pertumbuhan dan membuka kemungkinan bagi pengalaman berikutnya.
Dewey juga mengkritik pemisahan antara teori dan praktik. Pengetahuan yang tidak terhubung dengan pengalaman konkret berisiko menjadi abstrak dan terlepas dari kehidupan, sementara aktivitas praktis tanpa pemikiran dan refleksi tidak otomatis menghasilkan pembelajaran yang bermakna. Karena itu, pendidikan membutuhkan hubungan antara pengalaman, tindakan, pemikiran, dan refleksi. Pandangan ini sekaligus menuntut pembacaan kritis terhadap pendidikan progresif: menjadikan peserta didik sebagai subjek aktif bukan berarti membiarkan mereka belajar tanpa arah. Pembelajaran berbasis pengalaman justru membutuhkan guru yang mampu merancang lingkungan belajar, memberikan bimbingan, mengarahkan pengalaman, dan membantu peserta didik bergerak dari pengalaman konkret menuju pemahaman konseptual.
Relasi sekolah dan masyarakat menjadi aspek penting lainnya. Sekolah bukan institusi yang berdiri di luar masyarakat, melainkan bagian dari kehidupan sosial yang harus merespons perubahan teknologi, ekonomi, budaya, pekerjaan, dan hubungan antarmanusia. Dalam kerangka ini, guru tidak lagi sekadar menjadi pusat transmisi pengetahuan, tetapi berperan sebagai pengarah pengalaman dan fasilitator proses berpikir. Sekolah pun tidak hanya bertugas menghasilkan individu yang unggul secara akademik, tetapi menjadi ruang sosial tempat peserta didik belajar bekerja sama, berpartisipasi, memahami perbedaan, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan demokratis.
Pemikiran Dewey menjadi semakin relevan ketika pendidikan berhadapan dengan perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan. Ketika akses terhadap informasi semakin mudah, persoalan pendidikan tidak lagi sekadar bagaimana memperoleh pengetahuan, tetapi bagaimana menilai, menginterpretasikan, menggunakan, dan mempertanggungjawabkannya dalam kehidupan nyata. Dalam konteks ini, kritik Dewey menegaskan bahwa keberhasilan sekolah tidak semestinya diukur hanya dari kemampuan peserta didik mencapai standar akademik, tetapi juga dari kemampuannya menghadapi persoalan kehidupan, berpikir secara reflektif, dan berpartisipasi dalam masyarakat. Sekolah, dengan demikian, seharusnya tidak sekadar mempersiapkan peserta didik untuk berhasil dalam sistem pendidikan, tetapi membekali mereka untuk tumbuh dan berperan dalam kehidupan yang sesungguhnya.
Keunggulan utama Sekolah dan Masyarakat terletak pada ketajaman kritiknya terhadap pendidikan yang terisolasi dari kehidupan. Dewey tidak sekadar mengkritik metode mengajar tertentu, tetapi mempertanyakan fondasi berpikir yang mendasari praktik pendidikan. Ia mempertanyakan mengapa sekolah harus dipisahkan dari kehidupan sosial dan mengapa pengetahuan harus disampaikan seolah-olah terlepas dari pengalaman peserta didik.
Buku ini juga memiliki keunggulan dalam memandang peserta didik sebagai subjek yang aktif. Pandangan tersebut menjadi penting karena pendidikan yang hanya berorientasi pada transmisi pengetahuan cenderung mengabaikan pengalaman, minat, kebutuhan, dan lingkungan sosial peserta didik.
Selain itu, gagasan Dewey memiliki daya jelajah yang luas. Konsep hubungan sekolah dan masyarakat dapat dibicarakan dalam konteks kurikulum, pedagogi, pendidikan karakter, pembelajaran berbasis pengalaman, pendidikan vokasional, hingga pendidikan demokratis. Karena itu, meskipun ditulis dalam konteks sosial yang berbeda, buku ini masih dapat menjadi bahan refleksi bagi pendidikan masa kini.
Dari perspektif penerbit, keunggulan lain buku ini adalah kepadatan gagasan dalam bentuk yang relatif ringkas. Dengan 120 halaman, pembaca dapat memperoleh pintu masuk yang cukup terjangkau untuk mengenal salah satu pemikiran penting dalam tradisi filsafat pendidikan progresif.
Sekolah dan Masyarakat karya John Dewey merupakan karya penting dalam filsafat pendidikan karena menempatkan sekolah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial. Dewey menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses pertumbuhan melalui pengalaman, interaksi, tindakan, dan refleksi. Karena itu, sekolah idealnya tidak hanya mengejar pencapaian akademik, tetapi juga membentuk individu yang mampu berpikir, bekerja sama, dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.
Kekuatan buku ini terletak pada keberaniannya mengkritik pendidikan yang memisahkan teori dari praktik serta sekolah dari realitas kehidupan. Namun, gagasan Dewey tetap perlu dibaca secara kontekstual. Pembelajaran berbasis pengalaman tidak berarti menghilangkan struktur dan peran guru, tetapi menuntut desain pedagogis yang matang agar aktivitas peserta didik tetap menghasilkan pemahaman yang mendalam. Dalam hal ini, buku ini lebih bernilai sebagai kerangka berpikir kritis daripada resep pendidikan yang dapat diterapkan secara langsung.
Dari perspektif penerbit, Sekolah dan Masyarakat tetap relevan dibaca di tengah perubahan pendidikan, teknologi digital, dan kecerdasan buatan. Ketika informasi semakin mudah diperoleh, pendidikan justru dituntut membangun kemampuan berpikir kritis, reflektif, kolaboratif, dan bertanggung jawab. Nilai utama buku ini terletak pada kemampuannya mengingatkan bahwa sekolah tidak dibangun semata untuk menghasilkan peserta didik yang berhasil dalam sistem pendidikan, tetapi untuk mempersiapkan manusia agar mampu tumbuh dan berperan dalam kehidupan masyarakat.





















