Salah satu yang patut kita syukuri sebagai bangsa Indonesia adalah— bangsa ini “dikutuk” untuk bersosial. Dimensi sosial kita mengakar kuat dan menjalar ke mana-mana, sehingga sulit dicabut atau diberangus. Kita ini bangsa yang suka kumpul-kumpul, senang berkolektif, dan gandrung perayaan. Kalau ada di antara kita yang kian individualis, itu sama halnya seperti pohon kopi berbuah rambutan, menyalahi kodrat.
Di tengah-tengah bangsa ini, perintah agama untuk bersilaturahmi langsung menemukan panggung atau wadahnya. Kita punya tradisi arisan, slametan/tahlilan, bersih desa, kerja bakti, dan lain sebagainya. Itu semua bisa jadi ruang bersilaturahmi.
Syariat Islam datang ke Nusantara, seolah seperti saudara rantau yang sedang pulang ke rumah asal, langsung klop. Ia seakan datang bukan sebagai entitas asing yang tak dikenali, kaku, dan menakutkan. Melalui proses pemaknaan ulang (meaning-making), ajaran agama bertransformasi menjadi budaya atau ritus kebudayaan yang kokoh.
Ia tak lagi terasa berjarak. Gus Dur menyebutnya dengan ‘Pribumisasi Islam’, istilah keren dan mudah dimengerti. Cak Nur atawa Nurcholish Madjid menamai dengan Kondisionalitas Islam— yaitu Islam yang berpelukan dengan lokalitas keindonesiaan.
Di sini, syariat Islam tidak turun dari langit dengan wajah garang, melainkan menyatu dengan detak jantung tradisi, menciptakan apa yang disebut sebagai “ritual complex”—sebuah sistem besar di mana nilai spiritual dan ekspresi lokal saling menopang.
Kalau ada satu waktu di mana malaikat pencatat amal harus geleng-geleng kepala, itulah saat Idul Fitri di Indonesia. Bayangkan saja, jutaan orang serentak punya cita-cita yang sama: meminta maaf dan memaafkan. Syariat Islam mengajarkan silaturahmi, tapi di tangan orang Indonesia, urusan akhirat ini dipoles sedemikian rupa sampai menjadi karnaval kebudayaan yang kolosal, sedikit ajaib, dan tentu saja menguras dompet.
Secara syariat, silaturahmi itu sederhana saja: menyambung kasih sayang. Kita ini memang bangsa yang paling jago urusan bungkus-membungkus. Syariat yang aslinya bersifat normatif, kita kemas menjadi habitus budaya. Melanggar adat mudik lebih ditakuti daripada melanggar perintah puasa. Agama memberikan perintahnya, dan kebudayaan Indonesia memberikan wadahnya.
Kita tidak merasa afdol kalau minta maaf cuma lewat suara jarak jauh; harus ada jabat tangan, harus ada tatap muka, dan yang paling penting: harus ada ketupat, atau rendang, atau opor ayam di antara kita. Ketika syariat sudah menjadi budaya, ia tidak lagi terasa seperti beban kewajiban, melainkan kebutuhan biologis dan sosiologis. Ia mengakar begitu dalam sampai ke sumsum tulang.
Lihatlah fenomena mudik itu, bukankah semangat untuk bersilaturahmi bahan bakarnya? Istilahnya memang macam-macam, mengikuti lidah daerah masing-masing yang memang sudah ditakdirkan beragam sejak orok. Orang Jawa menyebutnya mudik (mulih dilit), orang Minang punya tradisi pulang basamo, dan di pelosok lain ada yang menyebutnya mambako. Apapun namanya, pesannya sama: rindu rumah dan kampung (udik/asal) untuk bersilaturahmi.
Mudik adalah perpindahan massa terbesar di dunia yang digerakkan bukan oleh instruksi presiden, melainkan oleh kerinduan pada sambal buatan ibu, suara takbir di masjid masa kecil, atau lapangan kampung tempat bermain kala kecil— yang ironisnya di banyak tempat dipaksa berubah jadi bangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Intinya, mudik itu semangat untuk menyambung, spiritnya silaturahmi. Rindu akar, rindu asal.
Selain budaya mudik— setelah menang bertinju melawan nafsu di Ramadan, bangsa kita juga punya banyak tradisi lain untuk mengisi hari kemenangan. Selama Syawal, rumah-rumah bersolek, pintu-pintu selalu terbuka, dan meja ruang tamu penuh jajanan. Bukankah, ikromudduyuf atau memuliakan tamu merupakan perintah agama?
Tak kalah penting, bagian dari pesta kemenangan, kita tiba-tiba tergerak berbelanja baju baru, sarung baru, bahkan, mungkin, kancut baru. Lalu, kita berjalan mendatangai rumah tetangga, rumah kerabat, rumah kolega, dan, ah mampir warung kopi dulu.
Tentu itu semua juga silaturahmi: Berbalas salam, berjabat tangan, dan bermaafan. Tradisi ini di Madiun disebut Sejarah. Di Ponorogo dikenal dengan Mbarak. Orang Madura menyebut Nyungkem Mattowah. Daerah lain menyebut dengan Syawalan, Sungkeman— lain daerah lain sebutan.
Kearifan lokal kita, juga berhasil menciptakan mesin silaturahmi bernama Halal bi Halal. Meski berbahasa Arab, istilah ini generik khas kecerdasan tradisi kita, bahasa Arab yang dipoles, mirip dengan Yasinan, Maulidan, atau Safari Ramadan. Entah siapa yang memulai, tradisi Halal bi Halal nyatanya mampu jadi ajang pemaafan dan jadi ruang rekonsiliasi sosial. Bukankah itu jenius sekali?
Namun, sebagai orang yang gemar menggaruk kepala melihat kelakuan bangsa sendiri, saya harus sedikit “nakal” mengamati. Silaturahmi kita ini kadang-kadang berubah menjadi ajang “interogasi nasional”. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Kapan lulus?”, “Mana calonnya?”, atau “Kok belum punya momongan?” seringkali lebih tajam daripada silet cukur tukang pangkas rambut.
Kita datang dengan niat suci ingin membersihkan hati, tapi pulang-pulang malah sakit hati karena ditanya hal-hal yang sifatnya sangat privat. Seolah-olah silaturahmi adalah pintu masuk legal bagi tetangga, paman atau bibi, dan teman untuk menjadi penyelidik kehidupan personal kita. Karenanya, tradisi silaturahmi tersebut bisa juga kita maknai untuk belajar membedakan mana yang publik dan mana yang privat.
Belum lagi kalau kita bicara soal pergeseran zaman. Sekarang ini, silaturahmi seringkali terdistorsi oleh layar kotak kecil yang kita sebut ponsel pintar. Ada fenomena aneh: orangnya duduk bersebelahan di sofa, tapi masing-masing sibuk memotret opor ayam untuk dipamerkan di jagat maya. Jabat tangannya cuma sebentar, tapi update status-nya bisa sepanjang sungai Nil.
Kita lebih peduli pada “sudut pandang kamera” daripada “sudut pandang lawan bicara”. Apakah ini silaturahmi, atau sekadar pamer eksistensi bahwa kita sedang berlebaran? Jangan-jangan, kita sekadar tampak lebih sosial di media sosial?
Sisi negatif lainnya? Jelas ada, dan seringkali berwujud “gengsi yang dipaksakan”. Demi silaturahmi dan status sosial saat mudik, ada orang yang rela berutang sana-sini, menyewa mobil mewah, atau menggadaikan apa saja yang bisa digadai, hanya agar terlihat sukses di mata tetangga . Padahal, esensi Lebaran bukan soal berapa banyak uang saku yang bisa dibagikan ke keponakan sampai dompet kita menangis darah, melainkan ketulusan hati untuk mengakui bahwa kita ini penuh salah dan dosa. Kita sering terjebak pada bungkusnya, lupa pada isinya.
Namun ya sudahlah, itulah uniknya kita. Bagaimanapun, silaturahmi ini adalah lem yang merekatkan bangsa yang besar, berisik, dan beragam ini. Tanpa silaturahmi Lebaran, mungkin kita sudah saling cakar karena perbedaan pilihan politik, perbedaan bermadzhab, atau perbedaan dalam berorganisasi. Tanpa tradisi Halal bi Halal, sebagai bangsa, bisa jadi kita telah terpecah belah saling sikut dan menggigit.
Kadang kita perlu maklum. Biarlah silaturahmi ini tetap ada dengan segala kekonyolannya. Biarlah jalanan macet, biarlah pertanyaan “kapan kawin” tetap ada, dan biarlah unggahan media sosial tetap menipu mata kita.
Akhirul kalam, mari kita bersilaturahmi. Suguhkan toples rengginang dengan ketulusan, siapa tahu surga kita ada di dalamnya.
Wallahu A’lamu Bisshowaab…



















