Tak terasa angka di jam telepon genggam terus bergulir. Sudah sampai satu jam sebelas menit sejak datang pukul delapan pagi untuk pengurusan surat ijin mengemudi (SIM). Saat pertama datang, saya langsung mengisi formulir untuk mengikuti tes psikologi yang dijadikan salah satu syarat untuk perpanjangan SIM. Tes psikologi ternyata masih antri panjang. Saya putuskan untuk tes kesehatan terlebih dahulu.
Dalam masa menunggu, saya memutuskan untuk duduk di sebelah pohon sambil mengamati kegelisahan orang yang sama-sama mempunyai urusan SIM. Sambil menunggu, saya memesan 1 gelas teh panas tanpa gula. Konon, teh dapat menekan stres karena mengandung asam amino dan L-theanine yang berpengaruh meningkatkan gelombang alfa di otak sehingga menghadirkan perasaan rileks. Dengan begitu, hormon stres bisa menurun. Mungkin begini juga dengan acara KSI hari buruh kemarin yang nyaris tidak ada gejolak apapun. Rasa stres para buruh berkurang manakala pimpinan buruhnya sudah sepanggung di Monas dan ikut masuk kabinet di pemerintahan. Apalagi kemarin ada bonus diberi sembako dan dilempari baju oleh presiden.
Menunggu sering kali dianggap sebagai pekerjaan paling sunyi dalam hidup manusia. Ia tidak gaduh seperti perjuangan di medan terbuka, tidak pula gemerlap seperti kemenangan yang dielu-elukan. Namun, di dalam menunggu, ada kesabaran yang diuji serta harapan yang diimpikan, dan tentu ada keyakinan yang diam-diam diperjuangkan, termasuk untuk mendapatkan SIM baru. Menunggu bukan sekadar diam tanpa arah, melainkan sebuah proses batin yang mengandung keteguhan.
Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, menunggu telah menjadi bagian yang nyaris tak terpisahkan. Banyak di antara mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, menggantungkan harapan pada perubahan yang dijanjikan. Mereka menunggu bukan karena tidak ingin bergerak, tetapi karena ruang gerak mereka sering kali sempit, bahkan terhimpit oleh realitas yang tak mudah diubah. Mantra qanaah dan nerimo ing pangdum dijadikan senjata yang mematikan bagi masyarakat yang memang sudah tidak bisa melakukan apa-apa. Karena semua aksesnya telah terputus, entah disengaja maupun tidak sengaja. Masyarakat dipaksa untuk tetap istiqamah menerima. Sehingga konsep qanaah dan nerimo ing pangdum mengalami peyorasi makna. Padahal konsep qanaah itu di dalamnya ada spirit berusaha, bukan pasif menunggu, menyerah.
Kesabaran masyarakat bukanlah kesabaran yang pasif. Ia adalah kesabaran yang aktif, yang tetap bekerja, berusaha, meski hasilnya belum tentu cukup. Seorang buruh harian yang bangun sebelum matahari terbit, seorang petani yang menatap langit penuh harap, atau seorang ibu yang mengatur pengeluaran rumah tangga dengan cermat, semua adalah potret perjuangan yang berjalan berdampingan dengan penantian. Mereka tidak berhenti berusaha, meski sering kali hasil dari usaha itu hanya cukup untuk bertahan, bukan untuk berkembang.
Konsep menunggu dalam konteks ini menjadi sebuah ironi. Di satu sisi, masyarakat diminta untuk bersabar, untuk percaya bahwa keadaan akan membaik. Namun di sisi lain, waktu terus berjalan, harga kebutuhan meningkat, sementara peluang tidak selalu datang merata. Dalam jeda antara harapan dan kenyataan itulah, kesabaran diuji dengan cara yang paling nyata. Dan di sinilah letak kekuatan masyarakat Indonesia. Ada daya tahan yang luar biasa dalam menghadapi ketidakpastian. Mereka tidak mudah runtuh oleh keadaan. Ada semacam keyakinan kolektif bahwa hidup, betapapun kerasnya, tetap harus dijalani dengan penuh keteguhan. Menunggu bukan berarti menyerah, melainkan cara lain untuk tetap bertahan sambil terus mencari celah untuk bergerak.
Perjuangan menuju kehidupan yang lebih layak bukanlah perjalanan yang singkat. Dari kondisi miskin menuju cukup, bahkan sejahtera, membutuhkan lebih dari sekadar waktu; ia membutuhkan kesempatan yang adil, akses yang merata, dan kebijakan yang berpihak. Namun selama itu belum sepenuhnya terwujud, masyarakat tetap berada dalam fase menunggu.
Di tengah semua itu, ada pertanyaan yang patut direnungkan: sampai kapan menunggu harus menjadi jalan utama? Kesabaran memang mulia, tetapi ia tidak boleh dijadikan alasan untuk menunda perubahan yang seharusnya bisa dipercepat. Menunggu seharusnya berjalan seiring dengan upaya nyata, baik dari individu maupun dari sistem yang lebih besar.
Namun demikian, menunggu tetap memiliki makna yang dalam. Ia mengajarkan manusia untuk tidak tergesa-gesa, untuk memahami bahwa setiap proses memiliki waktunya sendiri. Dalam kesunyian menunggu, ada ruang untuk merenung, untuk menguatkan diri, dan untuk menjaga harapan agar tidak padam. Sebab, harapan adalah bahan utama bagi mereka yang terus berjuang di tengah ketidakpastian dan keterbatasan.
Masyarakat Indonesia, dengan segala kesabarannya, telah menunjukkan bahwa menunggu bukanlah tanda kelemahan. Ia justru menjadi simbol ketahanan, sebuah bukti bahwa di balik keterbatasan, selalu ada kekuatan yang tak terlihat namun nyata. Dan mungkin, dari kesabaran yang panjang itulah, perubahan yang sesungguhnya akan lahir. Bukan sebagai hadiah, melainkan sebagai hasil dari perjuangan yang tak pernah berhenti.
Hingga beranjak siang mendekati waktu salat zuhur dan sambil menghabiskan pesanan teh panas yang telah dingin, pengurusan perpanjangan SIM belum jua usai. Masih terus memanjangkan rasa sabar untuk segera mendapatkan SIM baru. Di ruang antrian, saya merenung dan berdoa semoga model proses pelayanan publik pengurusan yang lama memakan waktu kurang lebih empat sampai lima jam ini segera ada perubahan. Ini adalah bagian dari hak asasi warga negara. Ini juga masuk sebagai pendapatan pemerintah. Retribusi maupun pajak, termasuk membayar biaya SIM adalah bagian dari pendapatan resmi negara dengan nomenklatur nama penerimaan negara bukan pajak yang diKenakan kepada rakyatnya. Semoga segera berubah.



















